KABARBURSA.COM - Arus modal asing kembali meninggalkan pasar saham Asia pada Februari, menandai bulan keempat berturut-turut terjadinya aksi jual bersih. Gelombang ambil untung merebak di berbagai bursa. Pada saat yang sama, pengurangan eksposur secara tajam terhadap pasar Korea Selatan mempertegas kegelisahan investor atas valuasi sektor teknologi yang dinilai telah terlalu tinggi, ditambah meningkatnya ketidakpastian geopolitik global.
Berdasarkan data LSEG yang mencakup pasar saham Korea Selatan, Taiwan, Thailand, India, Indonesia, Vietnam, dan Filipina. Laporan Reuters mencatat arus keluar dana asing dari Korea Selatan mencapai USD13,67 miliar sepanjang bulan lalu. Aliran dana tersebut secara keseluruhan menggerus sekitar USD5,36 miliar dari total investasi saham di kawasan Asia.
Keresahan terhadap valuasi saham yang terkait dengan kecerdasan buatan (AI) tidak hanya muncul di Amerika Serikat. Sentimen tersebut bergema hingga ke berbagai pasar global dan ikut mengikis selera risiko investor secara luas, ujar Dat Tong, Senior Financial Markets Strategist di Exness, seperti dikutip Reuters pada Jumat 6 Maret 2026.
Di Amerika Serikat, indeks teknologi Nasdaq Composite tercatat turun 3,4 persen pada bulan lalu. Koreksi ini mencerminkan meningkatnya kehati-hatian pelaku pasar terhadap harga saham yang dianggap terlalu mahal, sekaligus kekhawatiran atas besarnya rencana belanja perusahaan teknologi besar untuk pengembangan kecerdasan buatan.
Sementara itu, indeks acuan KOSPI di Korea Selatan merosot sekitar 10,9 persen sepanjang bulan ini. Penurunan tersebut dipicu aksi jual investor terhadap saham produsen semikonduktor yang sebelumnya menjadi primadona pasar. Kekhawatiran juga muncul bahwa konflik yang semakin meluas di Timur Tengah dapat memicu lonjakan harga minyak, mendorong inflasi, dan menunda siklus penurunan suku bunga global.
William Bratton, Head of Cash Equity Research Asia Pasifik di BNP Paribas, menilai prospek sektor teknologi Korea Selatan masih memiliki peluang jangka pendek. Namun ia mengingatkan bahwa valuasi di sektor non-teknologi kini sudah relatif mahal.
Tekanan juga terlihat di pasar Vietnam. Negara tersebut mencatat arus keluar dana asing sebesar USD301 juta pada Februari, yang menjadi penarikan bulanan terbesar sejak Oktober 2025.
Di tengah gelombang penjualan tersebut, beberapa pasar Asia justru masih mampu menarik dana asing. Saham di Taiwan mencatat arus masuk sebesar USD4,04 miliar, disusul India dengan USD2,5 miliar. Thailand juga mencatat aliran dana sebesar USD1,75 miliar, sementara Indonesia dan Filipina masing-masing menerima investasi asing senilai USD192 juta dan USD144 juta selama Februari.
Meski demikian, pasar saham Asia diperkirakan masih menghadapi tekanan dalam waktu dekat. Investor global terus memantau secara saksama perkembangan konflik di Timur Tengah yang berpotensi memicu gejolak baru di pasar energi dan keuangan.
Tong dari Exness menambahkan, penguatan dolar Amerika Serikat yang berkelanjutan serta kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS berpotensi memperketat kondisi likuiditas global. Kombinasi faktor tersebut dapat meningkatkan tekanan terhadap arus modal keluar dari pasar negara berkembang di kawasan Asia.(*)