Logo
>

Asing Bawa Keluar Rp16,26 Triliun, BBCA Merana Sampai Kapan?

Net sell asing terbesar di pasar reguler awal 2026 menekan harga BBCA hampir 10 persen ytd, sementara indikator teknikal mingguan masih menunjukkan dominasi tren turun dan momentum negatif.

Ditulis oleh Yunila Wati
Asing Bawa Keluar Rp16,26 Triliun, BBCA Merana Sampai Kapan?
Meskipun harga saham BBCA ditutup menguat, namun tekanan jual masih sangat tinggi. (Foto: Dok KabarBursa)

KABARBURSA.COM – Berbeda dengan emiten lain di sektor perbankan yang mulai bergerak naik, saham PT Bank Central Asia tbk (BBCA) terus merana. BBCA mencatatkan tekanan jual asing terbesar di pasar regular sepanjang [eriode 1 Januari hingga 20 Februari 2026.

Dari data perdagangan terlihat, nilai beli asing (foreign buy) sebesar Rp33,8 triliun, sedangkan nilai jual asing (foreign sell) mencapai Rp50,06 trilin. Dengan begitu, asing keluar membawa dana sebanyak Rp16,26 triliun dalam periode tersebut.

Bahkan jika dibandingkan dengan saham serupa yang juga ditinggal asing, Bumi Resources (BUMI) misalnya, angka BBCA masih terlalu besar. Diketahui, untuk periode yang sama, net foreign sell BUMI tercatat sebesar Rp7,71 triliun.

Jadi, ada selisih sebesar Rp8,55 triliun untuk BBCA, yang artinya konsentrasi tekanan jual asing sangat signifikan pada saham ini.

Harga Saham Anjlok

Tekanan jual tersebut tercermin pada pergerakan harga. Secara year to date hingga 20 Februari 2026, harga saham BBCA turun 9,97 persen ke level Rp7.225 per saham. Pada 29 Januari 2026, harga sempat menyentuh level intraday Rp6.375. 

Level penutupan di kisaran Rp6.300 terakhir kali terjadi pada Agustus 2021, sehingga area tersebut menjadi referensi historis dalam rentang lima tahun terakhir.

Sepanjang periode 1–20 Februari 2026, BBCA kembali mencatatkan net foreign sell Rp4,04 triliun. Data ini menunjukkan bahwa arus keluar asing masih berlanjut pada bulan berjalan dan belum menunjukkan pembalikan arus dana secara agregat.

Dari sisi pergerakan harga, BBCA membentuk pola lower low sejak mencapai puncak di kisaran Rp9.600. Posisi harga saat ini berada di bawah rata-rata pergerakan jangka pendek dan menengah, yang mengindikasikan tekanan harga masih berlangsung dalam kerangka tren menurun jangka menengah.

Level Rp7.200 menjadi area support terdekat berdasarkan posisi harga saat ini, sedangkan rentang Rp7.350–Rp7.400 menjadi area resistance terdekat. Pergerakan harga di sekitar level-level tersebut akan menjadi penentu arah berikutnya dalam jangka pendek, dengan konfirmasi teknikal bergantung pada kemampuan harga bertahan di atas support atau menembus resistance disertai peningkatan volume transaksi.

Secara keseluruhan, kombinasi data net foreign sell Rp16,26 triliun secara year to date, tekanan jual Rp4,04 triliun pada Februari, penurunan harga 9,97 persen, serta struktur harga yang membentuk lower low menggambarkan kondisi saham BBCA yang berada dalam fase tekanan distribusi asing dan koreksi harga pada awal 2026.

Merana Sampai Kapan?

Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) ditutup di level Rp7.225 pada 20 Februari 2026, naik 0,70 persen secara harian. Meskipun demikian, secara teknikal mingguan, posisi harga masih berada di bawah seluruh rata-rata pergerakan utama.

Hal ini tercermin dari MA5 yang berada di kisaran 7.430–7.452. Lalu, MA10 berada di rentang 7.666–7.745, dan MA20 di area 7.893–7.961. Rata-rata jangka menengah dan panjang juga masih lebih tinggi, dengan MA50 di kisaran 8.303–8.340 dan MA200 di rentang 8.488–8.891. 

Posisi harga yang berada ratusan hingga lebih dari seribu poin di bawah rata-rata tersebut mencerminkan struktur tren yang masih berada dalam fase turun berdasarkan sistem moving average.

Dari sisi momentum, indikator MACD tercatat di level negatif 277,223 dengan sinyal jual, sementara ROC berada di minus 14,243 yang menunjukkan laju perubahan harga masih dalam fase kontraksi. 

Indikator Bull/Bear Power juga berada di wilayah negatif 883,848, menggambarkan dominasi tekanan sisi bawah dalam perhitungan indikator tersebut. ADX tercatat di level 62,255, yang menunjukkan kekuatan tren berada pada level tinggi dalam kerangka mingguan.

Pada saat yang sama, sejumlah indikator osilator memperlihatkan kondisi tekanan yang telah berlangsung cukup dalam. RSI berada di level 34,524 yang masih berada di zona lemah, sementara StochRSI di level 5,782 masuk kategori jual berlebih. 

CCI tercatat di minus 160 dan Williams %R di minus 61,798, keduanya masih berada di wilayah negatif. Kombinasi ini menunjukkan tekanan harga yang signifikan dalam horizon indikator mingguan, meskipun belum disertai perubahan struktur tren utama.

Secara historis, harga BBCA saat ini berada di atas level terendah 52 pekan di Rp6.375 dan masih terpaut cukup jauh dari level tertinggi 52 pekan di Rp9.800. Struktur pergerakan sejak puncak di kisaran 9.600–9.800 menunjukkan pembentukan level harga yang lebih rendah secara bertahap. 

Dengan posisi harga yang masih berada di bawah rata-rata jangka pendek hingga panjang serta dominasi sinyal jual pada mayoritas indikator, karakter teknikal mingguan BBCA masih berada dalam fase tekanan berdasarkan parameter yang tersedia.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79