Logo
>

Asing Ngegas di Hari Pertama Bursa, Saham-saham ini Diborong

Arus beli asing langsung mendominasi perdagangan awal 2026, mendorong IHSG mendekati rekor tertinggi sepanjang masa dengan saham komoditas, energi, hingga teknologi menjadi sasaran utama.

Ditulis oleh Yunila Wati
Asing Ngegas di Hari Pertama Bursa, Saham-saham ini Diborong
Papan pantau IHSG di Bursa Efek Indonesia Foto: KabarBursa.com

Poin Penting :

KABARBURSA.COM - Perdagangan perdana Bursa Efek Indonesia (BEI) di awal 2026 langsung diwarnai agresivitas investor asing. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Jumat, 2 Januari 2026, ditutup melonjak 1,17 persen atau 101,19 poin ke level 8.748,13.

Ini menjadi pembukaan tahun yang kuat dan penuh keyakinan. Secara intraday, IHSG bergerak solid di rentang 8.664–8.748. Dominasi pembeli sudah terlihat sejak awal sesi hingga penutupan.

Penguatan ini sekaligus membawa IHSG semakin dekat ke rekor tertinggi sepanjang masa (all-time high/ATH) di level 8.776,97, yang sempat disentuh secara intraday pada 11 Desember 2024. Dalam perspektif mingguan, IHSG juga membukukan kenaikan sebesar 1,18 persen. Reli awal tahun ini bukan sekadar lonjakan satu hari, melainkan bagian dari akumulasi yang sudah berlangsung sejak akhir 2025.

Aktivitas transaksi juga mencerminkan kuatnya minat beli. Total volume perdagangan saham mencapai 51,14 miliar saham, dengan nilai transaksi Rp22,26 triliun. Dari sisi breadth pasar, penguatan bersifat luas dengan 497 saham menguat, 200 saham melemah, dan 131 saham stagnan. 

Yang paling menentukan adalah aliran dana asing. Pada perdagangan hari itu saja, investor asing mencatatkan net buy sekitar Rp1,06 triliun di seluruh pasar. Sementara, akumulasi beli bersih asing dalam sepekan terakhir menembus Rp4,37 triliun.

Saham-saham Pemikat Asing

Arus dana tersebut tidak menyebar secara acak, melainkan terkonsentrasi pada saham-saham tertentu, terutama emiten berbasis komoditas dan saham-saham dengan likuiditas besar. Dalam sepekan terakhir, PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC) menjadi primadona dengan net buy asing mencapai Rp2,95 triliun, jauh melampaui saham lain. 

Di belakangnya menyusul PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dengan Rp990,24 miliar dan PT Vale Indonesia Tbk (INCO) sebesar Rp277,13 miliar, mencerminkan kembalinya minat asing ke saham-saham tambang berbasis nikel dan mineral strategis.

Nama lain yang turut diborong asing adalah PT United Tractors Tbk (UNTR) dan PT Astra International Tbk (ASII), dua emiten siklikal besar yang kerap menjadi proxy pemulihan ekonomi domestik. 

Sementara dari sisi energi dan sumber daya alam, PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR) dan PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) juga masuk radar, menandakan bahwa tema komoditas masih menjadi cerita besar di awal 2026.

Jika dipersempit ke perdagangan Jumat, agresivitas asing terlihat lebih tajam lagi. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menjadi saham paling banyak diborong asing dengan nilai net buy sekitar Rp889,34 miliar hanya dalam satu hari. 

Respons harga sangat eksplosif, dengan saham BUMI melonjak 14,75 persen ke level Rp420, yang merupakan posisi tertinggi sejak Mei 2017. Lonjakan ini menunjukkan bahwa arus dana asing tidak hanya bersifat akumulatif, tetapi juga berani mengejar harga.

Masih dari lingkaran Grup Bakrie dan Grup Salim, saham emas PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) mencatat net buy asing Rp252,49 miliar seiring kenaikan harga 7,27 persen ke Rp1.180. Saham Grup Bakrie lainnya, PT Darma Henwa Tbk (DEWA), juga menjadi sasaran utama dengan net buy Rp204,07 miliar. 

Harga DEWA melesat 11,94 persen ke Rp750, bahkan sempat menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa di Rp760 pada pertengahan sesi. Level ini melampaui rekor intraday sebelumnya di Rp745 pada akhir Desember 2025 dan menembus rekor historis lama dari Oktober 2007.

Aksi beli asing tidak berhenti di sektor tambang. Saham perkapalan juga ikut terseret dalam arus dana. PT Humpuss Maritim Internasional Tbk (HUMI) mencatat net buy Rp99,60 miliar dan melonjak tajam 24,81 persen, sementara PT Buana Lintas Lautan Tbk (BULL) diborong asing sekitar Rp58,72 miliar dengan kenaikan harian 20,24 persen. 

Lonjakan di saham-saham pelayaran ini memperkuat indikasi bahwa pasar mulai berspekulasi pada peningkatan aktivitas logistik dan energi.

Menariknya, asing juga tidak sepenuhnya meninggalkan saham non-komoditas. PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) mencatat net buy Rp51,08 miliar dan naik 7,81 persen ke Rp69, sementara PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) dibeli asing sekitar Rp49,66 miliar dengan kenaikan harga 8,77 persen ke Rp620. 

Masuknya saham teknologi dan baterai kendaraan listrik ke radar beli asing menunjukkan bahwa tema pertumbuhan jangka panjang tetap hidup berdampingan dengan euforia komoditas.

Secara keseluruhan, sinyal dari hari pertama perdagangan 2026 sangat jelas. Investor asing tidak datang dengan sikap menunggu, melainkan langsung “ngegas” sejak awal tahun. Penguatan IHSG yang didukung net buy jumbo, dominasi saham-saham komoditas dan energi, serta keterlibatan saham teknologi dan logistik, mencerminkan kombinasi antara keyakinan terhadap siklus global, optimisme terhadap ekonomi domestik, dan selera risiko yang tinggi. 

Selama arus dana asing tetap konsisten dan tidak terjadi gangguan sentimen besar, pasar saham Indonesia memasuki 2026 dengan modal psikologis yang sangat kuat.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79