Logo
>

BBNI Bagikan 65 Persen Laba, Nilai Dividen Turun

BBNI membagikan dividen Rp13,03 triliun atau 65 persen dari laba 2025, namun nilainya lebih kecil dibandingkan tahun sebelumnya setelah laba bersih bank turun 6,63 persen.

Ditulis oleh Yunila Wati
BBNI Bagikan 65 Persen Laba, Nilai Dividen Turun
Meskipun laba bersih 2025 BNI tergerus hingga lebih dari 6 persen, namun dividen tetap dibagikan. (Foto: Dok BNI)

Poin Penting :

KABARBURSA.COM – PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) memutuskan membagikan dividen sebesar 65 persen dari laba bersih tahun buku 2025 atau senilai sekitar Rp13,03 triliun kepada para pemegang saham. 

Nilai dividen tersebut lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya seiring penurunan laba bersih bank sepanjang 2025.

Direktur Finance & Strategy BNI Hussein Paolo Kartadjoemena, mengatakan pembagian dividen tersebut telah disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar pada Senin, 9 Maret 2026. 

Dividen akan dibayarkan secara proporsional kepada pemegang saham yang namanya tercatat dalam daftar pemegang saham pada tanggal pencatatan atau recording date yang akan ditetapkan kemudian.

RUPST juga memberikan kewenangan kepada direksi untuk menetapkan jadwal dan tata cara pembagian dividen sesuai ketentuan yang berlaku. Direksi juga diberi mandat untuk melakukan pemotongan pajak dividen sesuai regulasi perpajakan serta menetapkan hal-hal teknis lain yang berkaitan dengan pembayaran dividen kepada para pemegang saham.

Dari total laba bersih tahun buku 2025, sekitar 35 persen atau sekitar Rp7,01 triliun dialokasikan sebagai saldo laba ditahan. Dana tersebut akan digunakan untuk mendukung pengembangan usaha sekaligus memperkuat struktur permodalan bank.

Keputusan pembagian dividen tersebut diambil setelah BBNI membukukan laba bersih sebesar Rp20,04 triliun sepanjang 2025. Capaian ini turun sekitar 6,63 persen dibandingkan laba bersih tahun sebelumnya yang tercatat sebesar Rp21,46 triliun.

Penurunan laba bersih tersebut membuat nilai dividen yang dibagikan pada tahun ini juga lebih kecil dibandingkan periode sebelumnya, meskipun rasio pembagian laba atau dividend payout ratio tetap dipertahankan di level 65 persen.

Kinerja Operasional BNI

Dari sisi kinerja operasional, pendapatan bunga bersih BBNI tercatat relatif stabil. Sepanjang 2025, pendapatan bunga bersih mencapai Rp40,33 triliun, sedikit lebih rendah dibandingkan Rp40,48 triliun pada tahun sebelumnya.

Secara keseluruhan, pendapatan bunga BNI sepanjang 2025 tercatat meningkat sekitar 4,22 persen menjadi Rp69,39 triliun. Namun kenaikan tersebut diikuti oleh lonjakan beban bunga yang lebih besar.

Beban bunga BBNI tercatat naik sekitar 11,33 persen menjadi Rp29,06 triliun. Peningkatan tersebut terjadi di tengah kondisi suku bunga yang relatif tinggi sehingga mendorong kenaikan biaya dana atau cost of fund perbankan.

Jika dilihat dari struktur laporan keuangan, BBNI mencatat pendapatan sekitar Rp12,99 triliun pada periode pelaporan dengan pertumbuhan sekitar 2,76 persen secara tahunan. Namun pada saat yang sama beban operasional meningkat lebih cepat, yakni sekitar 10,69 persen menjadi Rp8,37 triliun.

Kondisi tersebut membuat laba bersih pada periode pelaporan tercatat sekitar Rp4,93 triliun atau turun sekitar 4,45 persen secara tahunan. Margin laba bersih juga mengalami penurunan sekitar 7,01 persen menjadi 37,92 persen.

Dari sisi neraca, BBNI mencatat ekspansi aset yang cukup signifikan. Total aset bank mencapai sekitar Rp1.362,05 triliun atau meningkat sekitar 20,52 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Total liabilitas tercatat sebesar Rp1.185,72 triliun atau naik sekitar 23,05 persen, sementara total ekuitas berada di kisaran Rp176,34 triliun. Dengan jumlah saham beredar sekitar 37,26 miliar lembar, rasio price to book value bank berada di kisaran 0,93 kali.

Posisi kas dan investasi jangka pendek tercatat sekitar Rp85,80 triliun atau meningkat sekitar 35,05 persen secara tahunan. Rasio return on assets berada di sekitar 1,48 persen yang mencerminkan kemampuan bank menghasilkan laba dari total aset yang dikelola.

Sementara itu, laporan arus kas menunjukkan arus kas dari aktivitas operasi tercatat negatif sekitar Rp91,69 triliun. Arus kas dari aktivitas investasi juga tercatat negatif sekitar Rp22,84 triliun.

Di sisi lain, arus kas dari aktivitas pendanaan tercatat positif sekitar Rp95,50 triliun. Secara keseluruhan perubahan bersih kas tercatat negatif sekitar Rp19,73 triliun sepanjang periode tersebut.

Struktur kinerja tersebut menunjukkan bahwa meskipun laba bersih BBNI mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya, bank tetap mempertahankan kebijakan pembagian dividen dengan rasio yang relatif besar terhadap laba bersih.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79