KABARBURSA.COM - Bursa saham Wall Street menutup perdagangan Kamis dengan kinerja yang terbelah. Indeks S&P 500 dan Nasdaq, yang sarat saham teknologi, tergelincir di tengah kegelisahan investor terhadap laporan keuangan terbaru serta keraguan apakah gelontoran belanja besar untuk kecerdasan buatan (AI) benar-benar akan berbuah imbal hasil bagi raksasa teknologi.
Dow Jones Industrial Average, sebaliknya, masih mampu bertahan di zona hijau. Indeks ini naik tipis 55,96 poin atau 0,11 persen ke level 49.071,56. S&P 500 memang berhasil menjauh dari titik terendah hariannya, namun tetap menutup sesi dengan penurunan 9,02 poin atau 0,13 persen menjadi 6.969,01.
Nasdaq Composite mencatat pelemahan paling dalam, turun 172,33 poin atau 0,72 persen ke 23.685,12, meski berhasil memangkas sebagian kerugian pada setengah jam terakhir perdagangan. Reuters dan melaporkan dari New York, Kamis 29 Januari atau Jumat 30 Januari 2026 pagi WIB, bahwa volatilitas mendominasi pergerakan akhir pekan.
Walaupun indeks-indeks utama sempat mencoba bangkit dari tekanan awal, ambruknya saham teknologi tetap menjadi beban utama pasar. Microsoft tampil sebagai penekan terbesar bagi S&P 500 setelah sahamnya terperosok 10 persen. Investor merespons negatif kinerja bisnis cloud yang dianggap kurang menggugah, memicu kekhawatiran bahwa investasi masif Microsoft dalam kemitraannya dengan OpenAI belum memberikan hasil sepadan dengan ekspektasi.
Gelombang tekanan menjalar ke saham perangkat lunak lainnya. Saham SAP yang tercatat di Amerika Serikat terjun 15 persen usai perusahaan menyampaikan panduan bisnis cloud yang berhati-hati. ServiceNow tak luput dari aksi jual, dengan sahamnya ambles 9,9 persen setelah laporan kinerja memperkeruh sentimen sektor.
Microsoft mengecewakan, dan ada kecemasan nyata bahwa investasi AI justru akan ‘menggerogoti’ bisnis perusahaan perangkat lunak, ujar John Praveen, Managing Director dan Co-CIO Paleo Leon, Princeton, New Jersey.
Menurut Praveen, pelaku pasar kini cenderung memangkas eksposur terhadap saham dan mengambil posisi defensif. Ketidakpastian datang dari berbagai arah: siapa yang akan mengisi kursi Chairman Federal Reserve berikutnya, seberapa agresif pemangkasan suku bunga akan dilakukan, hingga risiko geopolitik yang mencakup Iran, Greenland, serta ancaman penutupan pemerintahan Amerika Serikat.
Ada banyak awan gelap yang menggantung di atas pasar, katanya.
Aksi jual di sektor perangkat lunak turut menyeret saham Salesforce yang merosot 6 persen, Oracle turun 2,2 persen, dan Adobe melemah 2,6 persen. Saham perusahaan keamanan cloud Datadog bahkan anjlok 8,8 persen.
Bagi sebagian emiten perangkat lunak, seperti ServiceNow dan Salesforce, kekhawatiran utama berakar pada potensi disrupsi AI terhadap model bisnis mereka. Jika kecerdasan buatan mampu menggantikan sebagian layanan yang selama ini ditawarkan, saham-saham tersebut akan terpukul—terlepas dari apakah ketakutan itu sepenuhnya beralasan atau tidak, kata Jay Hatfield, CEO dan CIO Infrastructure Capital Advisors, New York.
Pada perdagangan setelah penutupan bursa, saham Apple Inc bergerak fluktuatif dan menguat kurang dari 1 persen setelah perusahaan melampaui estimasi pendapatan kuartalan, didorong lonjakan penjualan di China. CEO Apple Tim Cook menyebut permintaan terhadap iPhone generasi terbaru sebagai sesuatu yang luar biasa.
Di jajaran saham berkapitalisasi besar lainnya, Tesla tergelincir 3,5 persen setelah produsen kendaraan listrik itu mengumumkan rencana untuk lebih dari menggandakan belanja modal ke rekor tertinggi.
Dari 11 sektor utama dalam indeks S&P 500, teknologi menjadi yang paling lemah dengan penurunan 1,9%. Sebaliknya, sektor jasa komunikasi tampil sebagai yang terkuat, melonjak 2,9 persen, ditopang reli saham Meta Platforms yang melesat 10,4 persen. Induk Facebook itu mengombinasikan proyeksi pendapatan yang optimistis dengan rencana peningkatan belanja modal sebesar 73 persen tahun ini.
Sentimen positif juga datang dari IBM. Saham perusahaan tersebut melompat 5 persen setelah laba kuartal keempat melampaui ekspektasi pasar. Sektor energi ikut menguat 1 persen, seiring lonjakan harga minyak, dengan kontrak berjangka Brent mendekati level tertinggi hampir enam bulan akibat kekhawatiran potensi aksi militer Amerika Serikat terhadap Iran.
Di luar teknologi, saham Caterpillar melesat 3,4 persen setelah membukukan laba yang lebih tinggi. Mastercard menguat 4,3 persen usai melampaui ekspektasi laba kuartal keempat dan mengumumkan rencana pemangkasan sekitar 4 persen tenaga kerja global guna mengalihkan fokus investasi. Saham Lockheed Martin juga naik 4 persen setelah memproyeksikan laba 2026 di atas perkiraan Wall Street.
Saham Southwest Airlines mencuri perhatian dengan lonjakan 18,7 persen setelah maskapai tersebut memproyeksikan laba tahunan yang lebih kuat dari perkiraan, menjadikannya pencetak kenaikan persentase terbesar di indeks S&P 500.
Sebaliknya, saham perusahaan penambang logam tanah jarang melemah setelah laporan menyebut pemerintahan Presiden Donald Trump akan mundur dari kebijakan penetapan harga dasar mineral kritis. Saham USA Rare Earth, MP Materials, Critical Metals, dan United States Antimony ikut terseret turun.
Di Bursa Efek New York (NYSE), jumlah saham yang menguat melampaui yang melemah dengan rasio 1,19 banding 1. Sebanyak 611 saham mencetak rekor tertinggi baru, sementara 176 saham mencatat level terendah baru.
Di Nasdaq, 2.067 saham menguat dan 2.746 saham melemah, dengan rasio saham turun terhadap naik sebesar 1,33 banding 1. Indeks S&P 500 mencatat 51 rekor tertinggi baru dalam 52 minggu dan 20 rekor terendah baru.
Volume perdagangan di Wall Street mencapai 23,36 miliar saham, jauh melampaui rata-rata pergerakan 20 hari terakhir yang berada di kisaran 18,83 miliar saham.(*)