KABARBURSA.COM – Pasar kripto kembali menunjukkan denyut pemulihan dalam 24 jam terakhir. Meski performanya masih dibayangi dinamika global yang tidak sepenuhnya bersahabat, Bitcoin (BTC) akhirnya memantul dari tekanan jual dan kembali ke zona USD92 ribu.
BTC, yang sempat jatuh menembus USD90 ribu di sesi perdagangan Amerika Serikat, akhirnya menggeliat, naik tipis 0,7 persen dalam 24 jam. Inimemang bukan reli besar, tetapi cukup untuk menandai bahwa minat pasar belum benar-benar padam.
Pemulihan Bitcoin ini terjadi seiring kapitalisasi pasar kripto global yang naik 1,71 persen ke USD3,18 triliun. Namun struktur kenaikan tersebut menunjukkan bias yang tidak merata. Ethereum, BNB, Solana, dan Dogecoin justru menguat lebih agresif. Sepertinya investor mulai bergerak ke altcoin, saat Bitcoin masih mencari pijakan stabil.
Secara teknikal, BTC memulai rebound setelah menyentuh order block krusial di area USD91.500–88.400. Kenaikan dari level terendah intraday USD89.300 menuju USD93.700 menegaskan bahwa area tersebut masih dipertahankan oleh pembeli jangka menengah.
Kenaikan Bitcoin Digerakkan oleh Trader Ritel
Namun, kembalinya harga ke kisaran USD92 ribu menunjukkan bahwa pasar belum cukup kuat untuk melanjutkan reli yang lebih besar.
Yang menarik, kebangkitan Bitcoin justru muncul ketika pasar saham Amerika Serikat sedang tergelincir. Dow Jones jatuh 1,2 persen, S&P 500 melemah 1,1 persen, dan Nasdaq anjlok 1,5 persen.
Investor global tengah menarik diri dari sektor teknologi dan AI menjelang laporan kinerja Nvidia, yang menjadi barometer utama keberlanjutan siklus AI. Performa Nvidia yang melemah hingga 10 persen sepanjang bulan ini menambah ketegangan menjelang laporan yang akan dirilis pada Rabu waktu AS.
Ironisnya, ketika pasar saham bergejolak, Bitcoin justru tampil sebagai aset yang outperform. Namun, performa itu tampaknya lebih didorong oleh rotasi risiko jangka pendek ketimbang keyakinan institusional.
Ini terlihat jelas dari data onchain. Selisih harga Bitcoin di Coinbase terhadap Binance (Coinbase premium gap) anjlok ke USD114,5, level terdalam sejak Februari 2025. Premium yang sangat negatif menandakan bahwa permintaan dari investor institusional melemah, sementara pergerakan harga lebih banyak digerakkan oleh trader ritel.
Dalam kondisi pasar bullish yang sehat, premium biasanya positif karena pembeli institusional mengakumulasi Bitcoin di Coinbase. Namun tren premium negatif berhari-hari memberi sinyal bahwa reli kali ini mungkin lebih rapuh daripada yang tampak.
Dominasi ritel biasanya memicu pola klasik, di mana aksi beli mengejar harga (FOMO) disusul tekanan jual tajam ketika momentum melemah.
Kondisi ini menciptakan dinamika yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, Bitcoin menunjukkan kemampuan bertahan di tengah volatilitas global, bahkan mengungguli pasar saham AS yang sedang terseret koreksi teknologi.
Di sisi lain, indikator fundamental seperti premium gap mengisyaratkan bahwa pondasi reli masih lemah dan rentan terhadap aksi ambil untung dalam waktu dekat.
Pasar kini menunggu laporan keuangan Nvidia sebagai penentu arah sentimen risiko global. Jika hasilnya melampaui ekspektasi, minat terhadap aset berisiko bisa kembali menguat dan memberi ruang bagi Bitcoin untuk memperpanjang pemulihan.
Tetapi jika Nvidia kembali mengecewakan, tekanan likuiditas di pasar teknologi dapat menular ke kripto, apalagi jika trader ritel menjadi satu-satunya motor penggerak harga.
Dengan struktur pasar yang masih timpang antara ritel dan institusi, performa Bitcoin hari ini memberi lebih banyak kehati-hatian daripada euforia. Harga memang memantul, tetapi kekuatan reli belum cukup meyakinkan untuk menyimpulkan bahwa tren bullish besar telah kembali.(*)