Logo
>

Bitcoin Tahan Gempuran Konflik AS–Iran, Volatilitas Melejit

Harga sempat jatuh ke USD63.000 usai eskalasi AS–Iran, namun kembali stabil di atas USD66.000; BTC/IDR bergerak di kisaran Rp1,09–Rp1,13 miliar di tengah lonjakan minyak dan emas global.

Ditulis oleh Yunila Wati
Bitcoin Tahan Gempuran Konflik AS–Iran, Volatilitas Melejit
Konflik AS-Iran tidak memberikan tekanan besar terhadap pergerakan harga Bitcoin. (Foto: Dok KabarBursa)

KABARBURSA.COM - Pergerakan Bitcoin pada perdagangan Senin, 2 Maret 2026, menunjukkan fase stabilisasi setelah sempat mengalami tekanan tajam pada akhir pekan. 

Bitcoin diperdagangkan di kisaran USD66.600–USD66.856 pada sesi berjalan, turun tipis sekitar 0,4–0,96 persen secara harian. Level tertinggi intraday tercatat di USD67.617, sementara titik terendah menyentuh USD65.008,38. 

Rentang pergerakan tersebut mencerminkan volatilitas yang masih relatif lebar di tengah dinamika geopolitik global.

Jika ditarik sejak akhir pekan, Bitcoin sempat tertekan hingga menyentuh area USD63.000 sebelum kembali pulih dan merebut kembali level psikologis USD66.000. Secara mingguan, aset kripto ini masih mencatatkan pelemahan sekitar 2,8 persen berdasarkan data CoinGecko. 

Namun secara harian, tekanan terlihat lebih terbatas dibandingkan indikasi pelemahan pada kontrak berjangka indeks saham Amerika Serikat yang sempat turun lebih dari 1 persen pada Nasdaq, Dow Jones, dan S&P 500.

Eskalasi Konflik Timur Tengah

Konteks pergerakan ini terjadi setelah eskalasi konflik di Timur Tengah menyusul serangan yang dipimpin Amerika Serikat terhadap target Iran, yang kemudian dibalas dengan serangan rudal dan drone. 

Situasi tersebut memicu lonjakan volatilitas pada futures AS pada Minggu, 1 Maret 2026, serta mendorong lonjakan harga minyak mentah. Brent tercatat naik sekitar 8–10 persen mendekati USD80 per barel, sementara WTI menguat 7–8 persen. 

Kenaikan harga energi tersebut memperbesar perhatian pasar terhadap potensi gangguan pasokan melalui Selat Hormuz yang menangani sekitar seperlima distribusi minyak global.

Reaksi awal Bitcoin terhadap eskalasi tersebut terlihat dalam penurunan cepat menuju USD63.000. Namun pemulihan yang terjadi setelahnya menunjukkan bahwa tekanan jual tidak berlanjut secara agresif. 

Data pendukung dari pasar derivatif menunjukkan tingkat pendanaan (funding rate) futures Bitcoin sempat bergerak ke -6 persen, yang mengindikasikan dominasi posisi short yang signifikan. Pada saat bersamaan, indeks Fear and Greed berada di level 11, yang mencerminkan kondisi ketakutan ekstrem di pasar kripto.

Di tengah kondisi tersebut, harga Bitcoin bergerak relatif lebih stabil dibandingkan proyeksi pelemahan ekuitas global. Pembukaan CME futures tidak diikuti oleh gelombang jual lanjutan pada Bitcoin, sementara harga mampu bertahan di atas area USD65.000 sepanjang sesi. 

Hal ini menunjukkan bahwa sebagian tekanan akibat sentimen geopolitik telah terefleksi lebih awal pada akhir pekan.

Perbandingan dengan aset safe haven tradisional juga menjadi relevan. Emas tercatat melonjak lebih dari 2 persen menuju USD5.388 per troy ounce. Kenaikan ini mencerminkan peningkatan permintaan lindung nilai terhadap risiko geopolitik. 

Sementara itu, pasar ekuitas global menunjukkan kecenderungan penyesuaian risiko yang lebih luas menjelang pembukaan pasar AS.

Korelasi Harga Minyak dengan Bitcoin

Kenaikan harga minyak menimbulkan implikasi lanjutan terhadap proyeksi inflasi global. Apabila harga energi bertahan tinggi, risiko terhadap tekanan inflasi meningkat, yang secara historis berkorelasi negatif terhadap aset berisiko termasuk kripto. 

Namun hingga sesi perdagangan hari ini, pergerakan Bitcoin menunjukkan bahwa dampak langsung konflik AS–Iran lebih tercermin pada lonjakan volatilitas jangka pendek dibandingkan tren pelemahan berkelanjutan.

Secara intraday, struktur harga Bitcoin hari ini membentuk pola pemulihan bertahap setelah rebound dari area terendah akhir pekan. Selama harga bertahan di atas kisaran USD65.000, tekanan lanjutan belum terkonfirmasi dalam data perdagangan saat ini. 

Dengan rentang harian sekitar USD2.600 antara titik tertinggi dan terendah, volatilitas tetap tinggi namun tidak menunjukkan percepatan distribusi.

Bitcoin dalam Rupiah

Di pasar domestik, pergerakan Bitcoin menunjukkan dinamika yang relatif sejalan dengan harga global, dengan tekanan yang masih terbatas pada sesi perdagangan hari ini.

Hari ini BTC diperdagangkan di level Rp1.124.252.000 atau turun Rp6.755.000 setara 0,60 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp1.131.007.000. 

Harga sempat dibuka di level yang sama dengan penutupan sebelumnya sebelum bergerak dalam rentang intraday antara Rp1.093.100.000 sebagai level terendah dan Rp1.132.229.000 sebagai level tertinggi.

Rentang pergerakan harian sekitar Rp39 juta, mencerminkan volatilitas yang tetap tinggi, sejalan dengan fluktuasi harga global yang bergerak di kisaran USD65.000 hingga USD67.000. Pelemahan 0,60 persen di pasar domestik juga relatif sebanding dengan koreksi harian Bitcoin global yang berada di bawah 1 persen.

Jika dibandingkan dengan tekanan yang sempat terjadi pada akhir pekan, ketika harga global turun hingga mendekati USD63.000, pergerakan BTC/IDR hari ini menunjukkan fase konsolidasi. Harga tidak kembali menguji area psikologis Rp1,09 miliar secara berulang, dan mampu bertahan di atas Rp1,1 miliar sepanjang sesi.

Pergerakan ini mengindikasikan bahwa dampak eskalasi konflik Amerika Serikat–Iran yang memicu lonjakan harga minyak dan penguatan emas lebih tercermin dalam lonjakan volatilitas jangka pendek, bukan dalam pelemahan tajam berkelanjutan pada aset kripto di dalam negeri.

Dengan koreksi yang masih di bawah 1 persen secara harian, struktur harga BTC/IDR saat ini menunjukkan penyesuaian yang lebih moderat dibandingkan fase penurunan cepat yang terjadi pada akhir pekan.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79