KABARBURSA.COM – Harga minyak dunia bergerak naik tipis pada perdagangan awal pasar global. Pergerakan ini terjadi seiring dengan pelaku pasar masih mencermati ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang mempertahankan premi risiko di pasar energi.
Pada sesi awal perdagangan Asia hingga Eropa dan AS, harga minyak Brent tercatat di kisaran USD69,03 per barel, naik sekitar USD0,23 atau 0,33 persen dibanding sesi sebelumnya.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berada di level USD64,19 per barel, juga menguat sekitar USD0,23 atau 0,36 persen.
Kenaikan harga terjadi di tengah kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah, terutama terkait dinamika hubungan AS dan Iran serta jalur pengiriman energi strategis di Selat Hormuz.
Namun, kenaikan harga masih tertahan oleh faktor fundamental pasar, terutama laporan kenaikan stok minyak mentah Amerika Serikat berdasarkan data American Petroleum Institute (API).
Pasar kini menunggu konfirmasi melalui data resmi pemerintah AS yang akan dirilis Energy Information Administration (EIA).
Analis minyak dari brokerage PVM, Tamas Varga, mengatakan perhatian pasar masih tertuju pada perkembangan geopolitik, meski arah harga tetap bergantung pada kondisi pasokan nyata di lapangan.
“Pasar masih terfokus pada ketegangan antara Iran dan AS. Namun kecuali ada tanda nyata gangguan pasokan, harga kemungkinan akan mulai turun,” kata Varga, dikutip dari laporan Reuters, Rabu, 11 Februari 2026.
Selain itu, pelaku pasar juga mencermati perkembangan diplomasi nuklir antara Washington dan Teheran yang berlangsung di Oman. Meski perundingan dinilai berlangsung konstruktif, pelaku pasar masih menilai risiko eskalasi tetap ada.
Penasihat perdagangan minyak dari Ritterbusch & Associates menilai pergerakan harga saat ini lebih banyak dipengaruhi faktor risiko geopolitik dibanding kondisi fundamental pasar.
“Perdagangan minyak minggu ini, dan mungkin sisa bulan ini, akan sedikit berkaitan dengan fundamental minyak tetapi lebih berkaitan dengan injeksi dan penolakan premi risiko terkait Iran,” kata analis dari Ritterbusch & Associates.
Bagi kawasan Asia, termasuk Indonesia sebagai negara pengimpor minyak, stabilnya harga minyak di level relatif tinggi membuat biaya impor energi tetap sensitif terhadap perkembangan geopolitik di Timur Tengah.
Jalur pengiriman melalui Selat Hormuz menjadi perhatian utama karena sebagian besar pasokan minyak menuju Asia melewati kawasan tersebut.
Secara keseluruhan, pasar energi global masih bergerak hati-hati. Ketegangan geopolitik menopang harga minyak, tetapi data persediaan dan prospek permintaan global tetap menjadi faktor penting yang menentukan arah pergerakan harga dalam jangka pendek.(*)