KABARBURSA.COM - Bursa saham Asia membuka pekan dengan ritme yang tertahan pada Senin 16 Februari 2026. Pergerakannya cenderung melemah, nyaris tanpa geliat berarti, di tengah lanskap pasar yang lengang. Sejumlah bursa utama memilih berhenti sejenak, sementara rilis data ekonomi Jepang yang mengecewakan mereduksi selera risiko para pelaku pasar.
Bursa di China, Korea Selatan, Taiwan, Indonesia, serta Amerika Serikat termasuk yang menutup perdagangan hari ini. Akibatnya, transaksi mata uang, komoditas, dan obligasi berlangsung dalam tempo pelan, seolah pasar kehilangan denyutnya.
Agenda krusial baru mengemuka pada Jumat mendatang. Survei manufaktur global dijadwalkan rilis, bersamaan dengan laporan produk domestik bruto (PDB) kuartal keempat Amerika Serikat. Konsensus median memproyeksikan ekspansi tahunan 3,0 persen—melambat dari 4,4 persen pada kuartal sebelumnya, namun tetap mencerminkan fondasi yang kukuh.
Dari Tokyo, Jepang melaporkan pertumbuhan ekonomi hanya 0,1 persen secara tahunan pada kuartal keempat 2025. Angka ini terpaut jauh dari estimasi 1,6 persen, tertekan oleh belanja pemerintah yang membebani dinamika aktivitas. Capaian tersebut mempertegas aral struktural yang dihadapi Perdana Menteri Sanae Takaichi, sekaligus memperbesar urgensi stimulus fiskal yang lebih ekspansif.
Di tengah narasi itu, investor tetap mendorong indeks Nikkei naik 0,2 persen, meneruskan reli impresif 5 persen pada pekan sebelumnya. Indeks MSCI Asia-Pasifik di luar Jepang turut menguat tipis 0,1 persen.
Namun penguatan itu tak sepenuhnya bertahan. Nikkei berbalik melemah 0,15 persen atau turun 84,11 poin ke level 56.857,86 pada pukul 9.00 WIB. Indeks ASX 200 Australia naik marginal 0,08 persen ke 8.924,7, sedangkan Kospi Korea Selatan terkoreksi 0,28 persen menjadi 5.507,1.
Padahal, pekan lalu pasar Korea Selatan—yang sarat saham teknologi—melonjak 8,2 persen. Taiwan pun mencatat kenaikan hampir 6 persen dalam sepekan, mencerminkan euforia sektor semikonduktor.
“Kekhawatiran kami di Asia adalah jika perusahaan teknologi berkapitalisasi besar mengumumkan jeda belanja modal, hal itu dapat memicu koreksi tajam pada saham memori yang telah reli kuat di pasar seperti Korea tahun ini,” ujar Nick Ferres, chief investment officer di Vantage Point. Ia menambahkan, rotasi aset memang berpotensi menguntungkan pasar negara berkembang, tetapi kehati-hatian meningkat terhadap saham memori di Korea dan Taiwan setelah lonjakan valuasi dan re-rating yang signifikan, sebagaimana dikutip Reuters.
Di pasar valuta asing, dolar AS menguat tipis ke 152,94 yen setelah terperosok 2,9 persen sepanjang pekan lalu. Euro bertahan di kisaran USD1,1870. Greenback juga sempat melemah 1 persen terhadap franc Swiss, sementara euro tergelincir di bawah 0,9100 franc—level yang belum tersentuh sejak 2015.
Apresiasi tajam franc memantik spekulasi intervensi Bank Sentral Swiss. Inflasi negara tersebut telah menyusut ke 0,1 persen, mendekati batas bawah target 0 persen–2 persen, memunculkan ruang kebijakan yang sensitif.
Di komoditas, emas terkoreksi 0,5 persen menjadi USD5.014 per ons setelah volatilitas tinggi akibat tekanan pada posisi leverage investor. Minyak bergerak nyaris datar. Investor mencerna laporan Reuters bahwa OPEC cenderung melanjutkan peningkatan produksi mulai April. Brent stagnan di USD67,74 per barel, sedangkan minyak mentah AS bertahan di USD62,87 per barel.(*)