KABARBURSA.COM – Penguatan saham Jepang dan Korea Selatan menopang pergerakan bursa Asia pada perdagangan hari ini, Rabu, 25 Februari 2026.
Di tengah sentimen global yang masih dibayangi ketidakpastian geopolitik serta volatilitas sektor teknologi, investor menimbang risiko eksternal sambil tetap mencermati aliran modal asing yang masih mengalir ke beberapa pasar utama kawasan.
Di Tokyo, indeks Nikkei 225 ditutup pada level 58.020,56 setelah naik 699,47 poin atau 1,22 persen dibanding sesi sebelumnya. Penguatan ini terjadi seiring minat beli pada saham-saham unggulan Jepang yang masih didukung kinerja laba perusahaan serta arus masuk modal asing.
“Investor asing mendorong saham Jepang menuju rekor, didukung oleh pertumbuhan laba yang kuat dan aliran modal yang berkelanjutan, meskipun volatilitas global terus ada,” kata Anuj Kulkarni, Senior Analyst dan kontributor Reuters Poll, dikutip dari Reuters, Selasa, 24 Februari 2026.
Di Korea Selatan, indeks Kospi turut menguat 66,58 poin atau 1,12 persen menjadi 6.036,22, menunjukkan minat beli investor masih bertahan pada saham-saham utama meski pasar global dibayangi volatilitas sektor teknologi.
Sementara itu di Hong Kong, indeks Hang Seng naik 99,09 poin atau 0,37 persen ke level 26.689,41. Kenaikan tersebut mencerminkan pergerakan positif yang relatif terbatas di tengah perdagangan yang tetap selektif.
Di China daratan, indeks SSE Composite menguat 14,00 poin atau 0,34 persen menjadi 4.131,40, mengikuti sentimen regional meskipun investor masih mencermati dinamika ekonomi global.
Sentimen pasar Asia juga dipengaruhi oleh meningkatnya kehati-hatian investor terhadap pergerakan mata uang dan permintaan dolar AS.
“Lemahnya rupee terhadap dolar mencerminkan aversi risiko yang lebih luas di pasar Asia, dengan permintaan dolar yang kuat di tengah aksi jual ekuitas lokal dan imbal hasil AS yang lebih tinggi,” kata para strategist MUFG, dikutip dari Reuters, 24 Februari 2026.
Pergerakan bursa Asia hari ini mencerminkan keseimbangan antara kekhawatiran terhadap volatilitas global, terutama terkait sektor teknologi dan dinamika geopolitik, dengan dukungan dari fundamental regional serta arus dana asing yang masih menopang sejumlah pasar utama kawasan.(*)