KABARBURSA.COM - Divestasi bisnis es krim oleh PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) dinilai sebagai sesuatu yang positif, terutama dari sisi valuasi dan potensi manfaat strategis bagi UNVR ke depan.
Investment Analyst Lead Stockbit Edi Chandren mengatakan, nilai divestasi mencerminkan valuasi premium dengan rasio Price-to-Book Value (P/BV) sebesar 3,2x, jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata P/BV PT Campina Ice Cream Industry Tbk (CAMP) di level 2,0x.
"Berdasarkan estimasi kami, valuasi akuisisi ini memiliki rasio Price-to-Earnings (P/E) sekitar 20–25x, yang bahkan melampaui valuasi UNVR secara keseluruhan," ungkap dia, Selasa, 26 November 2024.
Penilaian ini, sambung Edi, didasarkan pada beberapa informasi penting berikut. Bisnis es krim menyumbang sekitar 9 persen dari total pendapatan UNVR, menurut informasi yang tersedia. Profitabilitas segmen es krim, berdasarkan kinerja Hindustan Unilever (Unilever India), berada di kisaran mid–high single-digit margin.
Ia menambahkan, dari sisi strategis, divestasi ini memungkinkan UNVR lebih fokus pada inti bisnisnya, yang mungkin memberikan ruang untuk efisiensi operasional. Langkah ini relevan mengingat tren kinerja UNVR yang cenderung kurang optimal dalam beberapa waktu terakhir.
"Divestasi ini membuka peluang bagi UNVR untuk memberikan nilai tambah bagi investor, misalnya melalui dividen spesial yang berasal dari hasil keuntungan divestasi, diperkirakan mencapai Rp4,8 triliun sebelum pajak," ungkapnya.
Namun, divestasi ini juga membawa risiko, terutama potensi kehilangan segmen bisnis yang menjanjikan pertumbuhan positif. Saat ini, informasi mengenai rekam jejak kinerja bisnis es krim UNVR masih terbatas, sehingga sulit untuk memberikan penilaian lebih jauh terkait dampaknya terhadap prospek jangka panjang perusahaan.
Secara keseluruhan, divestasi ini memberikan peluang bagi UNVR untuk merealisasikan nilai premium dari bisnis es krim sekaligus memperkuat fokus bisnis utamanya. Namun, tantangan tetap ada, terutama dalam memastikan bahwa kehilangan segmen es krim tidak berdampak negatif pada strategi pertumbuhan UNVR ke depan.
Penandatanganan Perjanjian
UNVR telah mengumpulkan dana sebesar Rp7 triliun melalui penjualan atau divestasi bisnis es krimnya kepada The Magnum Ice Cream Indonesia.
Padwestiana Kristanti, Sekretaris Perusahaan Unilever Indonesia, mengatakan bahwa transaksi ini tercapai setelah penandatanganan perjanjian pengalihan bisnis atau business transfer agreement (BTA) pada 22 November 2024.
“Nilai transaksi tersebut, yang tidak termasuk PPN, mencakup aset tetap dengan nilai pasar Rp2,55 triliun, nilai buku bersih per 30 September 2024 sebesar Rp1,99 triliun, serta persediaan senilai Rp172,79 miliar,” ujar Padwestiana dalam keterbukaan informasi, Selasa, 26 November 2024.
Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP) Suwendho Rinaldy dan Rekan (SRR) melakukan penilaian independen yang menghasilkan nilai pasar wajar sebesar Rp6,57 triliun.
Lebih lanjut, Padwestiana menyampaikan, total nilai transaksi ini mencapai 204 persen dari ekuitas perseroan yang tercatat sebesar Rp3,43 triliun dalam laporan keuangan pada 30 September 2024.
Karena itu, transaksi ini tergolong sebagai transaksi material sesuai dengan ketentuan OJK No. 17/POJK.04/2020 tentang transaksi material dan perubahan kegiatan usaha.
Penjualan bisnis es krim ini merupakan bagian dari rencana Grup Unilever untuk memisahkan bisnis es krim globalnya. Langkah ini diharapkan dapat merealisasikan nilai investasi bisnis es krim di Indonesia, mengembalikannya kepada pemegang saham dalam jangka pendek, dan memungkinkan Unilever Indonesia untuk lebih fokus pada bisnis inti guna menciptakan nilai jangka panjang bagi para pemegang saham.
Pada saat penandatanganan BTA, pembeli memiliki hubungan afiliasi dengan Unilever Indonesia, karena induk perusahaan keduanya, yaitu Unilever PLC, adalah pihak yang sama. Namun, setelah transaksi dilaksanakan dan diselesaikan, The Magnum tidak lagi menjadi afiliasi Unilever Indonesia.
Untuk melaksanakan rencana ini, Unilever Indonesia akan meminta persetujuan dari para pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), serta para pemegang saham independen dalam RUPS Independen yang akan diadakan dalam waktu dekat.
Performa Unilever Indonesia
Pada Rabu, 23 Oktober 2024, UNVR merilis laporan keuangan periode hingga 30 September 2024. UNVR mencatatkan laba bersih yang lemah sebesar Rp543 miliar pada kuartal III 2024. Hasil ini lebih rendah 46,7 persen secara kuartalan (qoq) dan 62,0 persen secara tahunan (yoy).
Penurunan tajam ini terutama disebabkan oleh rendahnya leverage operasional, yang mencerminkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan pendapatan tambahan dari biaya tetap yang ada. Faktor utama yang berkontribusi pada penurunan ini adalah melemahnya pendapatan serta penurunan Gross Profit Margin (GPM), yang tercatat sebesar 45,5 persen pada kuartal III 2024 dibandingkan dengan 49,5 persen di kuartal II dan 50,5 persen di kuartal III 2023.
Turunnya pendapatan UNVR berdampak pada beberapa aspek kinerja operasional perusahaan, salah satunya adalah peningkatan rasio belanja iklan terhadap pendapatan. Pada triwulan III 2024, rasio ini meningkat menjadi 10,8 persen, lebih tinggi dibandingkan 9,2 persen pada kuartal sebelumnya.
Meskipun demikian, total belanja iklan perusahaan tetap berada pada kisaran Rp900 miliar. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun Unilever tetap konsisten dalam mengalokasikan anggaran untuk iklan, penurunan pendapatan membuat proporsi belanja iklan menjadi lebih besar terhadap total pendapatan.
Bahana Sekuritas melalui risetnya menyoroti kinerja keuangan mengecewakan dari UNVR. Apalagi dari sisi laba bersih, Unilever secara kumulatif membukukan Rp3 triliun hingga September 2024, dengan penurunan 28,1 persen (yoy).
“Hasil ini jauh di bawah perkiraan kami dan konsensus, yang masing-masing sebesar 61 persen dan 65 persen dari target tahunan,” ujar Christine Natasya, analis Bahana Sekuritas.
Christine menyoroti kemampuan UNVR dalam menjaga fluktuasi harga pada sejumlah titik distribusi. Akibatnya beberapa distributor menghadapi tantangan dengan menurunnya profitabilitas.
Sebagai contoh, distributor besar dapat membeli dalam jumlah besar dan mendapatkan diskon lebih tinggi. Di sisi lain, pengecer kecil dengan modal terbatas hanya dapat membeli dalam jumlah kecil dan menerima diskon lebih rendah. Hal ini menyebabkan fluktuasi harga yang mengganggu struktur tiering yang diinginkan oleh UNVR.
“Inkonsistensi ini mengganggu stabilitas yang diinginkan UNVR, di mana konsumen seharusnya menemukan harga yang relatif seragam terlepas dari salurannya,” ungkap Christine. (*)