KABARBURSA.COM – PT Elnusa Tbk (ELSA) menuntaskan proyek Survei Seismik 3D Ocean Bottom Nodes (OBN) Zulu North untuk Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ). Proyek offshore seluas 70,6 kilometer persegi itu diselesaikan tepat waktu dengan catatan zero Lost Time Injury (LTI).
Direktur Operasi Elnusa, Andri Haribowo, menyatakan keberhasilan tersebut mencerminkan kapabilitas operasional perusahaan dalam menangani proyek lepas pantai berkompleksitas tinggi.
“Keberhasilan pelaksanaan Survei Seismik 3D OBN Zulu North ini merupakan bukti nyata kapabilitas operasional Elnusa dalam menangani proyek offshore dengan tingkat kompleksitas tinggi,” ujar Andri dalam keterangan resmi dikutip, Kamis, 26 Februari 2026.
Andri menambahkan tim mampu menjaga standar operational excellence sepanjang proyek berlangsung. Ia menyebut disiplin operasional dan koordinasi armada menjadi kunci agar kualitas data tetap optimal hingga penyelesaian pekerjaan.
Survei dilakukan di perairan Kepulauan Seribu dengan cakupan surface survey 70,6 kilometer persegi. Operasi dimulai akhir Desember 2025 dan rampung pada akhir Januari 2026 sesuai target waktu.
Proyek tersebut berada di area dengan sepuluh platform produksi yang berdekatan. Kondisi itu menuntut perencanaan detail serta pengawasan ketat pada aspek operasional dan keselamatan.
Dalam pelaksanaannya, Elnusa mengimplementasikan teknologi Ocean Bottom Nodes (OBN). Teknologi ini menempatkan receiver seismik secara presisi di dasar laut untuk memperoleh gambaran tiga dimensi struktur geologi bawah permukaan.
Metode OBN dinilai efektif pada wilayah dengan infrastruktur padat seperti platform dan jaringan pipa bawah laut. Pendekatan tersebut menjaga kualitas serta cakupan data tetap optimal di tengah keberadaan berbagai obstacle.
Fahzul MH Siregar selaku Party Chief Elnusa menjelaskan tantangan utama berasal dari banyaknya objek di area survei.
“Tantangan terbesar dari operasi ini adalah banyaknya obstacle seperti platform, pipa bawah laut, bangkai kapal, dan lainnya yang berada di area survei. Namun, melalui kerja sama tim yang solid, kami berhasil menyelesaikan operasi ini dengan aman dan selamat,” kata Fahzul.
Selain kompleksitas infrastruktur, proyek juga menghadapi kondisi cuaca ekstrem. Kecepatan angin tercatat mencapai 30 knots dengan tinggi gelombang hingga 2,5 meter selama operasi berlangsung.
Seluruh pekerjaan dilaksanakan oleh 100 persen tenaga kerja nasional dengan dukungan sembilan kapal berbendera Indonesia yang beroperasi simultan.
Koordinasi armada dan manajemen program menjadi faktor krusial dalam menjaga ketepatan waktu dan keselamatan kerja.
Apresiasi juga disampaikan Field Supervisor Pertamina Hulu Energi, Permana Citra Adi. “Kami mengapresiasi kinerja tim Elnusa. Seluruh program dilaksanakan dengan baik dan aman meskipun terdapat berbagai tantangan keselamatan di area survei. Kami puas dengan kualitas data seismik yang diperoleh,” ujarnya.
Data seismik tiga dimensi memiliki peran strategis dalam kegiatan eksplorasi dan pengembangan lapangan migas. Informasi bawah permukaan tersebut menjadi dasar dalam perencanaan produksi yang lebih akurat dan berkelanjutan.
Keberhasilan proyek Zulu North menegaskan posisi Elnusa sebagai bagian dari Subholding Upstream Pertamina dalam mendukung aktivitas hulu migas terintegrasi.
Perusahaan menyatakan akan terus mengedepankan keselamatan kerja, keandalan operasi, serta pemanfaatan teknologi dalam setiap proyek offshore yang dijalankan. (*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.