Logo
>

Emas Kembali Naik, Isu Damai AS–Iran Redakan Tekanan Inflasi

Harga emas kembali naik dipicu meredanya kekhawatiran inflasi global seiring isu damai AS dan Iran serta pelemahan dolar.

Ditulis oleh Moh. Alpin Pulungan
Emas Kembali Naik, Isu Damai AS–Iran Redakan Tekanan Inflasi
Harga emas naik ke USD4550 per ons seiring isu damai AS–Iran yang meredakan inflasi dan mendorong minat investor global. Foto: Dok. KabarBursa

KABARBURSA.COM — Harga emas kembali menguat pada perdagangan Kamis, 26 Maret 2026 WIB, setelah tekanan dari lonjakan energi mulai mereda. Harapan tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran membuat harga minyak turun, sekaligus meredakan kekhawatiran inflasi.

Dilansir dari Barron’s, kontrak emas berjangka naik 3,7 persen ke level USD4563 per ons atau sekitar Rp77.111.700. Kenaikan ini sekaligus memutus tren penurunan selama lima hari terakhir. Meski begitu, posisi emas masih lebih rendah sekitar 13 persen sejak perang Iran pecah.

Pergerakan serupa juga terjadi pada logam lainnya. Perak tercatat naik 5,5 persen, sementara saham perusahaan tambang seperti Newmont, Royal Gold, dan Freeport-McMoRan ikut menguat di awal perdagangan.

Sentimen pasar berubah setelah Washington mengajukan proposal damai yang mencakup rencana 15 poin untuk mengakhiri konflik, termasuk pembatasan program nuklir Iran. Di sisi lain, Iran disebut menginginkan pencabutan penuh sanksi sebagai bagian dari kesepakatan tersebut. Upaya mediasi yang melibatkan Turki, Mesir, dan Pakistan juga dilaporkan tengah mendorong pembicaraan gencatan senjata.

Kabar tersebut langsung menekan harga minyak. Kontrak minyak Brent turun 6,3 persen ke USD93.94 per barel atau sekitar Rp1.587.586. Penurunan harga energi ini dinilai mengurangi tekanan inflasi, sekaligus menurunkan ekspektasi suku bunga tinggi dalam waktu lama.

Di saat yang sama, indeks dolar AS juga melemah. Kondisi ini membuat harga emas menjadi relatif lebih murah bagi investor global, sehingga permintaan meningkat. Analis investasi senior Pictet, Alejandro Bondavalli, menilai emas masih tetap menarik di tengah ketidakpastian global.

“Meski terjadi gejolak baru-baru ini, prospek jangka panjang emas tetap terjaga,” tulisnya.

Ia menambahkan bahwa ketidakpastian kebijakan dan geopolitik belum mereda, bahkan cenderung meningkat. “Emas menawarkan pilihan menarik bagi investor yang fokus pada perlindungan kekayaan dan ketahanan lintas generasi. Kami melihat pelemahan harga baru-baru ini sebagai peluang untuk menyesuaikan strategi dan bersiap untuk pemulihan,” katanya.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Moh. Alpin Pulungan

Asisten Redaktur KabarBursa.com. Jurnalis yang telah berkecimpung di dunia media sejak 2020. Pengalamannya mencakup peliputan isu-isu politik di DPR RI, dinamika hukum dan kriminal di Polda Metro Jaya, hingga kebijakan ekonomi di berbagai instansi pemerintah. Pernah bekerja di sejumlah media nasional dan turut terlibat dalam liputan khusus Ada TNI di Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Subianto di Desk Ekonomi Majalah Tempo.

Lulusan Sarjana Hukum Universitas Pamulang. Memiliki minat mendalam pada isu Energi Baru Terbarukan dan aktif dalam diskusi komunitas saham Mikirduit. Selain itu, ia juga merupakan alumni Jurnalisme Sastrawi Yayasan Pantau (2022).