Logo
>

Emiten Batu Bara Masih Menarik Kala Ekspor Anjlok

Ditulis oleh KabarBursa.com
Emiten Batu Bara Masih Menarik Kala Ekspor Anjlok

Poin Penting :

    KABARBURSA.COM - Para emiten batubara kini menghadapi serangkaian tantangan besar, ditandai dengan penurunan signifikan dalam ekspor batubara serta penurunan harga batubara acuan (HBA).

    Berdasarkan data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS), kinerja ekspor batubara mengalami penurunan yang mencolok, baik secara bulanan maupun tahunan.

    Nilai ekspor batubara tercatat sebesar USD2,49 miliar, mengalami penurunan sebesar 0,07 persen dibandingkan bulan sebelumnya (month to month) dan penurunan 2,49 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu (year on year).

    Di samping penurunan ekspor, HBA juga menunjukkan penurunan yang signifikan. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menetapkan HBA untuk bulan Agustus pada angka USD 115,29 per ton, menurun dari HBA bulan Juli yang mencapai USD130,44 per ton.

    HBA untuk Agustus ini didasarkan pada spesifikasi komoditas batubara dengan kalori 6.322 kcal/kg GAR, total moisture 12,26 persen, total sulfur 0,66 persen, dan ash 7,94 persen.

    Menurut Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik, dan Kerja Sama (KLIK) Agus Cahyono Adi dalam keterangan tertulis, angka ini menunjukkan penurunan dibandingkan HBA bulan Juli yang senilai USD130,44 per ton, Kamis 15 Agustus 2024.

    Plt Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI), Gita Mahyarani, menegaskan meskipun harga jual batubara Indonesia mengalami penurunan, permintaan dari pasar besar seperti China dan India tetap stabil.

    Meskipun nilai ekspor menurun, volume ekspor batubara Indonesia tidak mengalami penurunan signifikan.

    Sekretaris Perusahaan PT Bukit Asam Tbk (PTBA), Niko Chandra, menjelaskan bahwa PTBA akan tetap adaptif terhadap fluktuasi harga batubara.

    “Kami telah menyiapkan langkah-langkah strategis untuk menjaga kinerja dan mengatasi dinamika pasar yang berubah-ubah,” ujar Niko.

    Ia juga menambahkan bahwa volume penjualan tahun ini diharapkan meningkat dibandingkan tahun 2023. PTBA akan memanfaatkan potensi pasar domestik serta peluang ekspor ke negara-negara dengan prospek pertumbuhan tinggi.

    Hingga semester I-2024, produksi batubara PTBA mencapai 18,76 juta ton, dengan total penjualan sebesar 20,05 juta ton, meningkat sekitar 15 persen (year on year).

    Namun, rata-rata indeks harga batubara ICI-3 turun sekitar 19 persen (year on year) menjadi USD75,89 per ton, sedangkan indeks harga batubara Newcastle turun sekitar 36 persen (year on year) menjadi USD130,66 per ton.

    Direktur dan Sekretaris Perusahaan Bumi Resources, Dileep Srivastava, mengungkapkan bahwa ekspor batubara Indonesia terkena dampak dari tingginya stok serta peningkatan produksi di China, India, dan Indonesia.

    Mengenai penurunan HBA, Dileep masih belum yakin apakah penurunan ini mencerminkan harga sebenarnya atau hanya gejala sementara, mengingat ketidakseimbangan antara permintaan dan penawaran yang sulit diprediksi.

    Head of Corporate Communication PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO), Febriati Nadira, menambahkan bahwa harga batubara berfluktuasi mengikuti siklusnya.

    ADRO akan fokus pada pengelolaan operasional dan efisiensi biaya. Selain itu, Adaro juga berkomitmen untuk mengembangkan dan mendiversifikasi bisnis, dengan terus aktif dalam proyek mineral dan energi terbarukan untuk meningkatkan kontribusi dari sektor non-batubara, ungkap Febriati.

    Kinerja emiten batu bara pada tahun 2024 dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk harga batu bara, permintaan global, kebijakan pemerintah, dan dinamika pasar domestik serta internasional. Berikut adalah gambaran umum tentang kinerja beberapa emiten batu bara utama di Indonesia pada tahun 2024:

    1. PT Adaro Energy Tbk (ADRO)

      • Kinerja Finansial: PT Adaro Energy diperkirakan akan terus menunjukkan kinerja yang solid, didorong oleh permintaan global yang stabil dan harga batu bara yang tinggi. Perusahaan ini memiliki operasi yang efisien dan beragam portofolio produk, yang mendukung kinerjanya.
      • Prospek: Fokus pada diversifikasi usaha dan pengembangan energi terbarukan di luar batu bara dapat menjadi faktor pendukung pertumbuhan jangka panjang.

    2. PT Bumi Resources Tbk (BUMI)

      • Kinerja Finansial: Bumi Resources menghadapi tantangan dari fluktuasi harga batu bara dan biaya operasional. Namun, perusahaan ini tetap menjadi salah satu pemain utama dengan kapasitas produksi yang besar.
      • Prospek: Potensi peningkatan kinerja tergantung pada kemampuan perusahaan dalam mengelola biaya dan memanfaatkan pasar ekspor.

    3. PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG)

      • Kinerja Finansial: Indo Tambangraya Megah diharapkan menunjukkan kinerja yang stabil, berkat konsistensi dalam produksi dan penjualan. Kinerja keuangan perusahaan diperkirakan tetap kuat dengan harga batu bara yang relatif tinggi.
      • Prospek: Pengelolaan biaya dan strategi pemasaran yang efektif akan menjadi kunci untuk mempertahankan margin keuntungan.

    4. PT Bukit Asam Tbk (PTBA)

      • Kinerja Finansial: Bukit Asam, sebagai perusahaan batu bara milik negara, diperkirakan akan mengalami kinerja yang baik, didorong oleh strategi ekspansi dan pengelolaan sumber daya yang efisien.
      • Prospek: Fokus pada pengembangan infrastruktur dan proyek-proyek baru dapat memberikan dorongan tambahan bagi kinerja perusahaan.

    5. PT Harum Energy Tbk (HRUM)

      • Kinerja Finansial: Harum Energy kemungkinan akan mengalami hasil yang baik, terutama jika harga batu bara tetap tinggi dan permintaan tetap kuat.
      • Prospek: Perusahaan ini dapat memanfaatkan peluang ekspansi dan diversifikasi untuk mendukung pertumbuhan.

    6. PT Delta Dunia Makmur Tbk (DOID)

      • Kinerja Finansial: Delta Dunia Makmur, yang berfokus pada jasa pertambangan, diharapkan menunjukkan kinerja yang baik, berkat kontrak-kontrak pertambangan yang stabil dan permintaan yang kuat untuk batu bara.
      • Prospek: Kinerja perusahaan akan bergantung pada kontrak dan proyek yang sedang berjalan.

    7. PT MNC Energy Tbk (MNCN)

      • Kinerja Finansial: MNC Energy kemungkinan akan menghadapi tantangan karena ketergantungan pada sektor energi yang lebih luas, namun memiliki potensi untuk menunjukkan kinerja yang baik jika strategi diversifikasinya berhasil.
      • Prospek: Fokus pada pengembangan energi baru dan terbarukan dapat memberikan peluang pertumbuhan jangka panjang. (*)

    Disclaimer:
    Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

    Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

    Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

    Gabung Sekarang

    Jurnalis

    KabarBursa.com

    Redaksi