KABARBURSA.COM - Aktivitas transaksi investor asing pada sesi pertama perdagangan Rabu, 4 Februrari 2026, memperlihatkan pola akumulasi yang cukup jelas pada saham-saham perbankan berkapitalisasi besar.
Di tengah pergerakan pasar yang masih berfluktuasi, asing justru tampil agresif memburu saham bank. Hal ini tercermin dari dominasi nilai beli yang melampaui penjualan pada empat emiten utama sektor ini.
Saham Bank Rakyat Indonesia (BBRI) menjadi tujuan utama arus dana asing. Sepanjang sesi pertama, total pembelian asing pada BBRI mencapai 81.440.600 saham, jauh di atas aksi jual sebesar 18.309.100 saham.
Selisih transaksi tersebut menghasilkan net foreign buy sebanyak 63.131.500 saham. Angka ini menunjukkan bahwa minat asing terhadap BBRI tidak bersifat sporadis, melainkan terbangun melalui akumulasi bersih yang cukup tebal sejak awal perdagangan.
Pola serupa juga terlihat pada Bank Mandiri (BMRI). Asing mencatatkan pembelian sebesar 60.573.519 saham, sementara penjualan berada di level 14.784.097 saham. Dengan demikian, BMRI membukukan net foreign buy sebanyak 45.789.422 saham pada sesi pertama.
Aktivitas ini menegaskan bahwa minat asing tidak terfokus pada satu bank saja, melainkan merata pada bank-bank besar dengan likuiditas tinggi dan peran sistemik di sektor keuangan.
Bank Central Asia (BBCA) juga masuk dalam radar utama investor global. Meskipun tekanan jual asing di BBCA relatif lebih besar dibanding bank lain, dengan foreign sell mencapai 32.098.400 saham, aksi beli asing tetap dominan di level 75.428.400 saham.
Selisih keduanya menghasilkan net foreign buy sebesar 43.330.000 saham. Data ini mencerminkan tarik-menarik transaksi yang aktif, namun dengan kecenderungan akhir tetap mengarah pada akumulasi bersih.
Sementara itu, Bank Tabungan Negara (BBTN) mencatatkan rasio beli-jual asing yang paling timpang ke arah pembelian. Asing membukukan pembelian 29.696.000 saham, dengan penjualan hanya 2.668.700 saham.
Hasilnya, net foreign buy BBTN tercatat 27.027.300 saham. Angka ini mengindikasikan minat asing yang cukup kuat terhadap saham bank dengan fokus pembiayaan perumahan tersebut, meski kapitalisasi dan likuiditasnya berada di bawah tiga bank besar lainnya.
Secara keseluruhan, data transaksi sesi pertama menunjukkan bahwa sektor perbankan kembali menjadi magnet utama arus dana asing. Dominasi pembelian pada BBRI, BMRI, BBCA, dan BBTN menggambarkan preferensi investor global terhadap saham-saham dengan fundamental mapan, likuiditas tinggi, serta peran sentral dalam sistem keuangan nasional.
Di tengah dinamika pasar yang belum sepenuhnya stabil, pergerakan ini menegaskan bahwa sektor perbankan masih diposisikan sebagai jangkar utama portofolio asing di pasar saham Indonesia.(*)