KABARBURSA.COM - Harga minyak dunia melonjak tajam pada Kamis, mendekati kenaikan lima persen. Lonjakan ini dipicu meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi, menyusul eskalasi perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran.
Ketegangan yang meluas di Timur Tengah mulai mengacaukan arus distribusi minyak global. Jalur pengiriman terganggu, sementara sejumlah produsen utama di kawasan tersebut terpaksa memangkas volume produksi.
Minyak mentah berjangka Brent—acuan utama pasar internasional—ditutup melesat USD4,01 atau 4,93 persen ke posisi USD85,41 per barel. Penguatan ini sekaligus menandai reli lima hari perdagangan berturut-turut, menurut laporan Reuters dari Houston, Jumat 6 Maret 2026.
Di sisi lain, patokan Amerika Serikat, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI), melonjak lebih agresif. Kontrak tersebut naik USD6,35 atau 8,51 persen dan menetap di level USD81,01 per barel, titik tertinggi sejak Juli 2024.
Pemicu utama kenaikan harga datang dari gangguan pelayaran di Selat Hormuz. Jalur laut sempit namun vital ini dilalui hampir seperlima perdagangan minyak dunia. Ketika aktivitas kapal tanker terhambat, bahkan nyaris terhenti, kecemasan pasar pun meningkat. Para pelaku energi khawatir pasokan global akan tersendat.
John Kilduff, mitra di Again Capital, menilai penutupan jalur strategis tersebut berpotensi mendorong harga minyak terus merangkak naik. Ia menekankan bahwa penghentian produksi di beberapa negara produsen akan memperpanjang proses pemulihan pasokan. Industri minyak tidak bisa menyalakan kembali sumur produksi dalam sekejap; kapasitas penuh membutuhkan waktu untuk dipulihkan.
Analis dari JPMorgan Chase memperingatkan risiko yang lebih luas. Menurut mereka, pasokan minyak dari Irak dan Kuwait bisa mulai terhenti dalam beberapa hari apabila Selat Hormuz tetap tertutup. Jika skenario itu terjadi, pasar global berpotensi kehilangan hingga 3,3 juta barel per hari pada hari kedelapan konflik.
Situasi geopolitik semakin memanas setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan keinginannya untuk ikut menentukan arah kepemimpinan Iran berikutnya. Dalam wawancara dengan Axios, Trump menegaskan bahwa putra pemimpin Iran, mendiang Ayatollah Ali Khamenei, bukan sosok yang dapat diterima. Ia menginginkan figur baru yang dianggap mampu membawa stabilitas bagi negara tersebut.
Di medan konflik, ketegangan juga meningkat. Serangan rudal dilaporkan menghantam kawasan timur Teheran. Pada saat bersamaan, sirene peringatan meraung di Dubai ketika konflik meluas ke berbagai titik di wilayah Teluk.
Perang yang berkepanjangan mulai menggerus produksi energi regional. Irak—produsen minyak terbesar kedua di OPEC—dilaporkan memangkas output hampir 1,5 juta barel per hari. Pemotongan ini terjadi akibat keterbatasan kapasitas penyimpanan serta terganggunya jalur ekspor.
Qatar pun mengambil langkah drastis. Negara yang merupakan eksportir gas alam cair (LNG) terbesar di kawasan Teluk tersebut mengumumkan status force majeure terhadap pengiriman gasnya. Sumber industri memperkirakan produksi baru dapat kembali normal setidaknya dalam waktu satu bulan.
Gangguan juga menjalar ke sektor pengolahan. Sejumlah kilang minyak di Timur Tengah, serta fasilitas pengilangan di China dan India, dilaporkan menghentikan sementara sebagian unit operasionalnya akibat ketidakpastian yang ditimbulkan konflik.
Serangan terhadap kapal tanker minyak terus terjadi di perairan Teluk. Kapal tanker berbendera Bahama, Sonangol Namibe, dilaporkan mengalami kerusakan pada lambung kapal setelah ledakan terjadi di dekat pelabuhan Khor al-Zubair, Irak.
Gangguan pasokan tersebut segera merambat ke pasar bahan bakar. Kontrak berjangka minyak solar di Amerika Serikat melonjak sekitar 10 persen dan sempat menembus level USD3,60 per galon selama sesi perdagangan.
Data pelacakan kapal menunjukkan sekitar 300 kapal tanker minyak masih terjebak di dalam Selat Hormuz. Lalu lintas pelayaran hampir berhenti total sejak konflik meletus.
Dennis Kissler, Vice President BOK Financial, menilai harga minyak mentah akan sangat sensitif terhadap kondisi jalur tersebut. Penutupan Selat Hormuz, katanya, pada akhirnya akan memperlambat produksi di wilayah pengekspor. Bahkan jika jalur itu dibuka kembali, proses pemulihan pengiriman dan produksi tetap memerlukan waktu sebelum kembali berjalan normal.
Pada Kamis dini hari, Iran meluncurkan gelombang serangan rudal ke Israel. Serangan itu memaksa jutaan warga bergegas mencari perlindungan di bunker bawah tanah. Aksi militer tersebut terjadi hanya beberapa jam setelah upaya di Washington untuk menghentikan operasi militer Amerika Serikat gagal.
Sehari sebelumnya, sebuah kapal perang Iran dilaporkan tenggelam setelah diserang kapal selam Amerika Serikat di dekat perairan Sri Lanka. Insiden tersebut menewaskan sedikitnya 80 orang. Sementara itu, sistem pertahanan udara NATO disebut berhasil mencegat dan menghancurkan rudal balistik Iran yang diarahkan ke wilayah Turki.(*)