Logo
>

Harga CPO Naik 10 Persen, Biaya CEKA Ikut Terdorong

Lonjakan harga minyak global akibat penutupan Selat Hormuz mendorong kenaikan bahan baku dan logistik.

Ditulis oleh Syahrianto
Harga CPO Naik 10 Persen, Biaya CEKA Ikut Terdorong
PT Wilmar Cahaya Indonesia Tbk (CEKA) menghadapi kenaikan biaya operasional. (Foto: Dok. Wilmar)

KABARBURSA.COM – PT Wilmar Cahaya Indonesia Tbk (CEKA) menghadapi kenaikan biaya operasional setelah harga bahan baku crude palm oil (CPO) dan palm kernel naik hampir 10 persen. Kenaikan ini dipicu lonjakan harga minyak global akibat penutupan Selat Hormuz.

Sekretaris Perusahaan Wilmar Cahaya Indonesia Emmanuel Dwi Iriyadi menyampaikan kenaikan harga bahan baku terjadi dalam periode Maret 2026. 

“Harga bahan baku crude palm oil dan bahan baku palm kernel naik hampir 10 persen dari harga sebelumnya,” ujarnya dalam keterbukaan informasi, dikutip Jumat, 20 Maret 2026.

Ia menjelaskan kenaikan harga tersebut merupakan dampak dari lonjakan harga minyak dunia. 

“Akibat penutupan Selat Hormuz, maka harga minyak bumi mengalami kenaikan yang berdampak pada kenaikan harga bahan baku crude palm oil dan palm kernel hampir 10 persen dari harga sebelumnya,” kata Emmanuel.

Selain bahan baku utama, kenaikan juga terjadi pada komponen biaya lain. Harga bahan pembantu meningkat dan biaya logistik ikut terdorong seiring tekanan pada rantai pasok global.

Dari sisi operasional, perusahaan menyebut kebutuhan biaya meningkat untuk pembelian bahan baku, bahan pembantu, serta pembayaran logistik. Kondisi ini berdampak langsung pada struktur biaya produksi perusahaan.

Sementara itu, dari sisi hukum, perusahaan menyatakan belum terdapat dampak terhadap aspek legal hingga saat ini. Namun perusahaan tetap memantau regulasi pemerintah terkait perkembangan situasi global.

Dari sisi keuangan, perusahaan mengacu pada Catatan 36 laporan keuangan per 31 Desember 2025 yang telah diaudit. Dalam catatan tersebut disebutkan bahwa ketegangan geopolitik di Timur Tengah sejak akhir Februari 2026 meningkatkan volatilitas pasar energi dan komoditas global.

Kondisi tersebut juga berdampak pada gangguan rantai pasok global, volatilitas nilai tukar, serta ketidakpastian makroekonomi yang dapat memengaruhi permintaan pelanggan.

Perusahaan menyatakan tidak memiliki operasi langsung yang signifikan di negara yang terlibat konflik. Namun dampak ekonomi global yang lebih luas dapat memengaruhi operasi dan kinerja keuangan secara tidak langsung.

Hingga saat ini, perusahaan masih memantau perkembangan penutupan Selat Hormuz dan menilai potensi dampaknya pada periode pelaporan berikutnya.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Syahrianto

Jurnalis ekonomi yang telah berkarier sejak 2019 dan memperoleh sertifikasi Wartawan Muda dari Dewan Pers pada 2021. Sejak 2024, mulai memfokuskan diri sebagai jurnalis pasar modal.

Saat ini, bertanggung jawab atas rubrik "Market Hari Ini" di Kabarbursa.com, menyajikan laporan terkini, analisis berbasis data, serta insight tentang pergerakan pasar saham di Indonesia.

Dengan lebih dari satu tahun secara khusus meliput dan menganalisis isu-isu pasar modal, secara konsisten menghasilkan tulisan premium (premium content) yang menawarkan perspektif kedua (second opinion) strategis bagi investor.

Sebagai seorang jurnalis yang berkomitmen pada akurasi, transparansi, dan kualitas informasi, saya terus mengedepankan standar tinggi dalam jurnalisme ekonomi dan pasar modal.