Logo
>

Harga Emas Berbalik Turun, Investor Ambil Untung Menjelang Data Tenaga Kerja AS

Penguatan dolar AS dan aksi profit taking menekan harga emas global setelah lonjakan tajam, sementara pasar menunggu rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat.

Ditulis oleh Moh. Alpin Pulungan
Harga Emas Berbalik Turun, Investor Ambil Untung Menjelang Data Tenaga Kerja AS
Harga emas turun ke USD4.907 per ons akibat penguatan dolar AS dan aksi ambil untung investor menjelang rilis data tenaga kerja Amerika Serikat. Foto: Dok. KabarBursa.com

KABARBURSA.COM – Harga emas dunia berbalik arah dan melemah pada perdagangan Kamis, 5 Februari 2026. Penguatan dolar AS dan aksi ambil untung investor setelah lonjakan harga dalam beberapa hari terakhir menjadi penekan utama pasar logam mulia.

Dilansir dari Reuters, Harga emas spot turun 0,6 persen ke level USD4.907,69 per ons atau sekitar Rp82,66 juta per ons pada pukul 12.20 waktu Timur AS. Padahal di awal sesi, harga sempat melonjak hingga 3,1 persen. Sehari sebelumnya, emas mencatat kenaikan tajam 5,9 persen.

Sementara itu, kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman April relatif stabil di posisi USD4.930,30 per ons atau sekitar Rp83,04 juta per ons.

Indeks dolar AS berada di level tertinggi lebih dari sepekan terakhir. Kondisi ini membuat emas yang dihargai dalam dolar menjadi lebih mahal bagi pembeli dari luar negeri, sehingga menekan permintaan.

“Kami memang melihat adanya pembalikan arah pada dolar, dan penguatan tersebut memberikan tekanan pada harga emas,” kata Direktur Perdagangan Logam di High Ridge Futures, David Meger.

Ia menambahkan, pasar saat ini masih berada dalam fase koreksi wajar setelah reli besar-besaran. Menurutnya, konsolidasi harga emas masih belum sepenuhnya selesai.

Tekanan jual terhadap emas sebenarnya sudah mulai terlihat sejak akhir pekan lalu. Dalam dua hari perdagangan Jumat dan Senin, harga emas anjlok lebih dari 13 persen, menjadi penurunan dua hari terdalam dalam beberapa dekade terakhir. Koreksi itu terjadi setelah emas sempat mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di USD5.594,82 per ons atau sekitar Rp94,27 juta pada 29 Januari.

Dari sisi geopolitik, pasar juga mencermati sejumlah perkembangan penting. Iran dan Amerika Serikat dijadwalkan menggelar pembicaraan pada Jumat. Selain itu, Presiden AS Donald Trump baru saja melakukan diskusi luas dengan Presiden China Xi Jinping menjelang rencana kunjungan Trump ke China pada April mendatang, setelah Xi juga melakukan pertemuan virtual dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.

Di sisi ekonomi, data tenaga kerja Amerika Serikat memberi sinyal yang kurang menggembirakan. Laporan ADP menunjukkan penambahan lapangan kerja sektor swasta pada Januari hanya sebesar 22.000 posisi, jauh di bawah perkiraan analis yang memproyeksikan 48.000.

Biro Statistik Tenaga Kerja AS menyatakan laporan ketenagakerjaan resmi Januari baru akan dirilis pada 11 Februari. Jadwal tersebut tertunda akibat penutupan sementara pemerintahan AS yang baru berakhir pada Selasa.

Saat ini, pelaku pasar memperkirakan setidaknya akan ada dua kali pemangkasan suku bunga oleh bank sentral AS pada 2026. Harapan penurunan suku bunga biasanya menjadi faktor positif bagi emas, karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil tetap. Dalam lingkungan suku bunga rendah, emas cenderung tampil lebih menarik.

Bank investasi Goldman Sachs bahkan masih melihat potensi kenaikan lebih lanjut pada harga emas. Mereka mempertahankan proyeksi harga di level USD5.400 per ons atau sekitar Rp90,99 juta untuk Desember 2026, dengan kemungkinan kejutan positif dari peningkatan permintaan sektor swasta.

Perak Mulai Bangkit, Platinum dan Paladium Menguat

Di pasar logam mulia lainnya, harga perak spot naik 0,9 persen menjadi USD85,87 per ons atau sekitar Rp1,44 juta. Perak sempat menyentuh titik terendah bulanan di USD71,33 pada Senin, setelah sebelumnya mencetak rekor tertinggi USD121,64 pada Kamis pekan lalu. Sejak awal tahun, harga perak sudah melonjak lebih dari 20 persen.

Harga platinum spot juga menguat 0,7 persen ke USD2.223,81 per ons atau sekitar Rp37,47 juta. Sementara paladium naik 1,3 persen ke level USD1.755,21 per ons atau sekitar Rp29,58 juta.

Pergerakan yang sangat volatil di pasar logam mulia ini menunjukkan bahwa investor masih sangat sensitif terhadap dinamika dolar AS, arah kebijakan suku bunga, serta perkembangan geopolitik global. Pelaku pasar kini menunggu rilis data tenaga kerja AS sebagai petunjuk berikutnya bagi arah harga emas dalam jangka pendek.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Moh. Alpin Pulungan

Asisten Redaktur KabarBursa.com. Jurnalis yang telah berkecimpung di dunia media sejak 2020. Pengalamannya mencakup peliputan isu-isu politik di DPR RI, dinamika hukum dan kriminal di Polda Metro Jaya, hingga kebijakan ekonomi di berbagai instansi pemerintah. Pernah bekerja di sejumlah media nasional dan turut terlibat dalam liputan khusus Ada TNI di Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Subianto di Desk Ekonomi Majalah Tempo.

Lulusan Sarjana Hukum Universitas Pamulang. Memiliki minat mendalam pada isu Energi Baru Terbarukan dan aktif dalam diskusi komunitas saham Mikirduit. Selain itu, ia juga merupakan alumni Jurnalisme Sastrawi Yayasan Pantau (2022).