KABARBURSA.COM - Harga emas global kembali menguat di tengah ketidakpastian geopolitik dan ekonomi global. Menurut data dari Goldrate24.com, harga spot emas (24K) pada Senin pagi menyentuh USD3.358,10 per ounce, naik sekitar 0,66 persen dibandingkan hari sebelumnya.
Penguatan ini terjadi seiring meningkatnya permintaan institusional, terutama dari bank sentral negara berkembang, serta lemahnya dolar AS yang mendorong investor global kembali memburu aset lindung nilai seperti emas.
Analis RBC Capital Markets Christopher Louney mencatat, pembelian emas oleh bank sentral dunia telah mencapai lebih dari 1.000 ton per tahun. Ia menyebut tren ini sebagai bukti bagaimana emas diuntungkan oleh perubahan peran AS dan dolar dalam tatanan dunia.
“Pembelian oleh bank sentral—lebih dari 1.000 ton per tahun—menegaskan bagaimana emas diuntungkan dari perubahan peran AS dan dolar AS dalam tatanan dunia,” ujar Louney, dikutip The Australian.
Louney memperkirakan harga emas akan stabil di rentang USD3.200-3.500 per ounce hingga akhir tahun ini, dengan kemungkinan lebih tinggi jika tensi geopolitik terus berlanjut.
Prediksi Optimistis JPMorgan dan Proyeksi Jangka Pendek
Sentimen bullish juga datang dari JPMorgan. Dalam laporan risetnya yang dikutip oleh Investors.com, bank investasi tersebut memperkirakan rata-rata harga emas dapat mencapai USD3.675 per ounce pada kuartal IV 2025, dengan potensi menyentuh USD4.000 per ounce pada kuartal III 2026.
“Risiko resesi dan ketegangan perdagangan terus membuat emas lebih disukai dibanding aset berimbal hasil,” tulis JPMorgan dalam risetnya.
Namun, tidak semua analis bersikap optimis penuh. James Steele, analis logam mulia di HSBC, memperingatkan adanya potensi koreksi jangka pendek setelah reli emas beberapa pekan terakhir.
“Momentum emas terlihat mulai melemah. Kami memperkirakan adanya koreksi jangka pendek, dengan revisi kisaran harga ke US$3.215–3.125,” ujarnya seperti dikutip dari Reuters.
Sementara itu, Menurut laporan dari Times of India, analis memperkirakan harga emas akan tetap kuat dalam beberapa hari ke depan, didukung oleh sentimen aversi risiko global dan dolar AS yang terus melemah. Ketidakpastian di pasar tenaga kerja AS dan ketegangan di Timur Tengah turut memperkuat daya tarik logam mulia sebagai safe haven.
Harga Emas Sempat Melonjak Lebih dari 1 Persen
Harga emas global menguat signifikan pada perdagangan Sabtu, 12 Juli 2025, seiring meningkatnya permintaan terhadap aset safe haven menyusul eskalasi tensi dagang yang kembali dipicu oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Di sisi lain, harga perak turut mencetak level tertinggi dalam lebih dari satu dekade terakhir.
Mengutip laporan Reuters, harga emas spot tercatat menguat 1 persen ke posisi USD3.356,93 per troy ounce (setara ±Rp54,7 juta), pada pukul 14.43 waktu New York (EDT).
Sebelumnya, logam mulia ini sempat menyentuh titik tertingginya sejak 24 Juni. Sementara itu, kontrak berjangka emas di bursa AS ditutup menguat lebih tinggi, naik 1,4 persen menjadi USD3.371,20 per ounce (sekitar Rp55 juta).
Lonjakan ini terjadi bersamaan dengan koreksi pasar saham global, setelah Trump kembali menggulirkan agenda proteksionis. Ia mengumumkan tarif baru sebesar 35 persen untuk produk impor dari Kanada yang akan berlaku mulai bulan depan.
Tak hanya itu, Trump juga menyatakan bakal memberlakukan tarif tambahan sebesar 15 hingga 20 persen terhadap sebagian besar mitra dagang AS.
Pemerintah AS juga memutuskan untuk mengenakan tarif 50 persen terhadap impor tembaga dan produk asal Brasil, memperkuat sinyal bahwa Washington sedang bersiap memperketat kebijakan perdagangan lintas sektor.
Langkah ini sontak menambah tekanan di pasar komoditas global dan memicu rotasi investor ke aset lindung nilai seperti emas dan perak.(*)