KABARBURSA.COM - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah antara Iran dengan koalisi Amerika Serikat dan Israel memicu kekhawatiran di pasar energi global. Harga minyak mentah sudah tembus USD110 per barel, sementara APBN menetapkan asumsi bahwa harga minyak mentah di Indonesia di harga USD70 per barel.
Merujuk pada data Indef, kenaikan sebesar 10 dolar AS per barel di atas asumsi awal mengakibatkan pembengkakan biaya sebesar Rp 80 triliun. Jika harga minyak mencapai 120 dolar AS, maka total beban tambahan yang harus ditanggung diperkirakan Rp 400 triliun.
Bagi Indonesia yang masih mengimpor sebagian besar kebutuhan energi, kenaikan harga minyak dunia dapat meningkatkan tekanan terhadap harga bahan bakar minyak (BBM) domestik. Selain itu, potensi gangguan pasokan energi global juga memunculkan kekhawatiran terhadap stabilitas distribusi BBM di dalam negeri
Salah satu kelompok yang paling sensitif terhadap kenaikan harga BBM adalah para pengemudi ojek online (ojol). Dengan jumlah yang diperkirakan mencapai sekitar 6 juta orang di Indonesia, kenaikan harga BBM dapat langsung memengaruhi biaya operasional harian mereka.
Namun bagi pengemudi ojek online yang menggunakan motor listrik, risiko kenaikan biaya operasional dapat diminimalisasi. Hal ini dirasakan Acel Yusde Pario, salah satu mitra ojol yang sudah bergabung sejak 2017 dan beralih ke motor listrik sejak pertengahan 2024 lalu.
Menurut perhitungannya, jika menggunakan motor berbahan bakar bensin, ia harus mengeluarkan biaya sekitar Rp60.000 per hari hanya untuk membeli BBM. Pengeluaran tersebut belum termasuk biaya perawatan kendaraan di bengkel hingga pajak tahunan kendaraan.
Acel mengaku keputusan tersebut awalnya diambil dengan penuh keraguan karena ini merupakan pengalaman pertamanya menggunakan kendaraan listrik. Tetapi setelah beberapa waktu, ia justru semakin yakin dengan pilihannya.
Bahkan Acel akhirnya menambah satu unit motor listrik lagi untuk digunakan di rumah. Motor listrik yang digunakannya merupakan produk Electrum yang mampu menempuh jarak hingga sekitar 200 kilometer per hari.
Kendaraan listrik yang digunakannya tersebut menggunakan skema sewa milik (rent to own). Karena unit yang digunakannya bukan motor baru, ia membayar sekitar Rp55.000 per hari ditambah biaya penggunaan baterai sekitar Rp25.000 per hari.
“Motor Electrum ini karena kilometer-nya sudah di atas 7.000, jadi saya harus bayar harga tersebut sampai 532 hari atau sekitar satu tahun tujuh bulan,” ujarnya saat dihubungi.
Jika dibandingkan dengan cicilan motor berbahan bakar bensin, menurut Acel biaya tersebut masih lebih efisien. Sebagai gambaran, cicilan motor bensin seperti Honda Vario bisa mencapai sekitar Rp2,3 juta per bulan, belum termasuk biaya bahan bakar, servis berkala, dan pajak kendaraan.
Dari sisi perawatan, motor listrik juga dinilai lebih sederhana. Servis yang dilakukan umumnya hanya berupa pengecekan sistem kelistrikan dan hingga saat ini sebagian besar masih ditanggung oleh penyedia layanan.
Selama menggunakan motor listrik, Acel mengaku belum menemukan kendala berarti. Bahkan menurutnya kendaraan listrik relatif lebih aman digunakan saat kondisi banjir. Pada motor berbahan bakar bensin, air berpotensi masuk ke knalpot dan menyebabkan mesin mogok. Sementara pada motor listrik, selama air tidak masuk ke bagian jok yang menjadi tempat baterai, kendaraan tetap dapat beroperasi dengan aman.
“Sejauh ini saya belum akan beralih ke motor bensin lagi. Saya masih nyaman menggunakan motor listrik,” pungkasnya.
Tingginya minat penggunaan motor listrik di kalangan pengemudi ojek online, berdampak positif terhadap bisnis PT Electrum, produsen motor listrik yang sebagian sahamnya dimiliki PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA). Perusahaan patungan TOBA dengan GOTO ini menjual motor listrik secara business to business ke ekosistem Gojek, Grab dan sejumlah jasa pengiriman barang.
Hingga akhir 2025, Electrum telah mengoperasikan lebih dari 7.500 unit motor listrik dengan dukungan sekitar 364 stasiun penukaran baterai yang tersebar di berbagai wilayah operasional.
Direktur Utama TOBA Juli Oktarina menjelaskan langkah strategis perseroan di bisnis kendaraan listrik menjadi semakin relevan di tengah eskalasi ketegangan geopolitik yang mulai memberikan tekanan hebat pada pasar energi global. TBS memandang diversifikasi bisnis sebagai kunci resiliensi dan mitigasi risiko dalam menghadapi volatilitas pasar energi global.
“Strategi bisnis kami saat ini memberikan fleksibilitas bagi Perseroan untuk tetap tumbuh, di mana sektor pengelolaan limbah, energi terbarukan, dan kendaraan listrik justru menjadi peluang krusial bagi ketahanan energi nasional. Melalui inovasi seperti skema rent-to-own pada ekosistem motor listrik Electrum, TBS tidak hanya memitigasi dampak fluktuasi harga minyak bagi para pekerja sektor informal, tetapi juga memperkokoh fondasi bisnis hijau untuk memastikan keberlanjutan ekonomi jangka panjang”, kata Juli.(*)