KABARBURSA.COM – Pergerakan bursa Asia hari ini ditekan lonjakan harga minyak dan ekspektasi suku bunga global yang tetap tinggi. Hal ini memicu aksi jual di sejumlah indeks utama kawasan.
Berdasarkan data yang berhasil dihimpun, Nikkei 225, Hang Seng, dan SSE Composite melemah, sementara Kospi masih mencatat penguatan terbatas.
Di Tokyo, indeks Nikkei 225 ditutup di level 53.372,53 atau turun 1.866,87 poin setara 3,38 persen dibanding sesi sebelumnya. Pelemahan ini terjadi seiring meningkatnya kekhawatiran inflasi akibat kenaikan harga energi yang berdampak pada biaya produksi dan konsumsi di Jepang sebagai negara importir energi.
Tekanan tersebut juga sejalan dengan meningkatnya kehati-hatian investor terhadap kebijakan moneter global. “Lonjakan harga minyak meningkatkan risiko inflasi dan bisa menunda pelonggaran kebijakan moneter, yang jelas menjadi negatif bagi aset berisiko seperti saham,” kata Tony Sycamore, market analyst, dikutip dari Reuters, 21 Maret 2026.
Di Korea Selatan, indeks Kospi masih menguat tipis 17,98 poin atau 0,31 persen ke level 5.781,20. Kenaikan ini mencerminkan minat beli yang lebih selektif di tengah tekanan global, meskipun sektor teknologi tetap berada di bawah tekanan akibat rotasi investor dari saham growth.
Tekanan Energi dan Suku Bunga Global
Di Hong Kong, indeks Hang Seng turun 223,26 poin atau 0,88 persen menjadi 25.277,32. Sementara itu, indeks SSE Composite di China daratan melemah 49,50 poin atau 1,24 persen ke posisi 3.957,05.
Pelemahan ini terjadi ketika harga minyak bertahan di kisaran tinggi mendekati USD100 per barel, meningkatkan kekhawatiran inflasi global dan mendorong ekspektasi suku bunga tinggi bertahan lebih lama. Kondisi tersebut membuat arus dana global cenderung keluar dari pasar Asia.
“Kombinasi harga energi yang tinggi dan imbal hasil obligasi AS yang tetap tinggi membuat investor lebih berhati-hati terhadap pasar saham Asia,” kata Kyle Rodda, senior financial market analyst di Capital dot com, dikutip dari Reuters, 22 Maret 2026.
Selain itu, tekanan juga datang dari aksi jual di sektor teknologi Asia, khususnya saham semikonduktor, seiring investor mengurangi eksposur terhadap aset berisiko di tengah ketidakpastian inflasi dan likuiditas global.
Pergerakan bursa Asia hari ini menunjukkan faktor global seperti harga energi dan kebijakan moneter masih menjadi penentu utama arah pasar, sementara pelaku pasar cenderung bersikap defensif menunggu perkembangan lebih lanjut dari inflasi dan suku bunga global.(*)