Logo
>

Harga Minyak Naik di Atas 4 Persen, Pasar Hitung Risiko Konflik AS–Iran

Harga minyak Brent dan WTI melonjak lebih dari 4 persen dipicu ketegangan AS–Iran, mandeknya negosiasi Rusia–Ukraina, dan kekhawatiran gangguan pasokan global.

Ditulis oleh Moh. Alpin Pulungan
Harga Minyak Naik di Atas 4 Persen, Pasar Hitung Risiko Konflik AS–Iran
Harga minyak dunia melonjak lebih dari 4 persen dipicu ketegangan AS–Iran dan mandeknya perundingan Rusia–Ukraina yang memicu kekhawatiran gangguan pasokan global. Foto: Dok. ESDM

KABARBURSA.COM — Harga minyak dunia melonjak lebih dari tiga persen pada Kamis, 19 Februari 2026, ketika pelaku pasar mulai menghitung risiko terganggunya pasokan di tengah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Kenaikan itu terjadi tak lama setelah perundingan damai Rusia dan Ukraina di Jenewa berakhir tanpa titik temu.

Dilansir dari Reuters, kontrak berjangka Brent melesat USD70,22 per barel atau setara Rp1.183.207 per barel setelah naik USD2,80 atau sekitar 4,15 persen. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate menguat ke USD65,11 per barel atau setara Rp1.097.104 per barel dengan kenaikan USD2,78 atau 4,46 persen. Sehari sebelumnya kedua acuan itu sempat menyentuh posisi terendah dalam dua pekan.

Presiden Lipow Oil Associates Andrew Lipow menilai pergerakan harga kali ini sepenuhnya digerakkan faktor politik global. “Pergerakan besar harga minyak hari ini semata-mata didorong oleh geopolitik. Pasar terus bereaksi terhadap berita utama terkait pertemuan antara Amerika Serikat dan Iran, serta Rusia dan Ukraina. Pasar minyak sedang memasukkan tambahan risiko gangguan pasokan,” ujarnya.

Penurunan harga yang terjadi pada Selasa sebelumnya dipicu harapan meredanya ketegangan Washington dan Teheran. Menteri luar negeri Iran sempat menyatakan kedua negara telah mencapai kesepahaman mengenai prinsip utama perundingan nuklir.

Namun situasi berbalik sehari kemudian. Kantor berita semi-resmi Iran melaporkan rencana latihan angkatan laut bersama Iran dan Rusia di Laut Oman dan Samudra Hindia bagian utara. Pada saat hampir bersamaan, media pemerintah Iran menyebut sebagian Selat Hormuz sempat ditutup sementara dengan alasan keamanan ketika Garda Revolusi menggelar latihan militer. Jalur ini merupakan salah satu nadi utama distribusi minyak dunia.

Analis komoditas SEB Bjarne Schieldrop melihat Iran kini memahami pola negosiasi Presiden Amerika Serikat Donald Trump. “Iran mengetahui bahwa gangguan ekspor minyak dari Selat Hormuz dan lonjakan harga hingga USD150 per barel adalah hal terakhir yang diinginkan Trump. Iran punya waktu untuk bernegosiasi dengan tenang,” tulisnya.

Konsultan politik Eurasia Group memperkirakan peluang terjadinya serangan militer Amerika Serikat terhadap Iran mencapai 65 persen sebelum akhir April. Arus peralatan militer ke kawasan tersebut juga menjadi sorotan pelaku pasar. Mitra Again Capital John Kilduff mengatakan situasi itu memberi sinyal meningkatnya potensi konflik. “Semua orang memantau jumlah peralatan militer yang membanjiri kawasan dari Amerika Serikat. Ini memberi indikasi bahwa permusuhan semakin dekat,” katanya.

Dari sisi lain, kebuntuan perundingan damai Rusia dan Ukraina turut menambah kecemasan pasar. Dua hari pertemuan di Jenewa berakhir tanpa terobosan. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy menuding Moskow mengulur waktu dalam upaya mediasi yang difasilitasi Amerika Serikat. Ia menyebut perundingan berlangsung sulit di tengah tekanan agar Kiev menerima kesepakatan yang berpotensi menyakitkan, sementara serangan Rusia ke infrastruktur energi terus berlangsung dan pasukan bergerak perlahan di medan tempur.

Kondisi itu membuka peluang pengetatan kembali ekspor energi Rusia. Kilduff menilai kegagalan perundingan bisa berujung pada penurunan pasokan Rusia ke pasar global. “Ada upaya baru untuk menekan ekspor Rusia. Jika pembicaraan benar-benar keluar jalur seperti yang disampaikan Zelenskiy, kita bisa melihat penurunan material ekspor Rusia ke pasar global. Itu jelas menopang harga,” ujarnya.

Selain faktor geopolitik, pelaku pasar juga menanti laporan persediaan minyak Amerika Serikat dari American Petroleum Institute dan Energy Information Administration. Jajak pendapat analis menunjukkan stok minyak mentah Negeri Paman Sam kemungkinan meningkat pada pekan lalu, yang berpotensi menahan laju kenaikan harga jika realisasinya sesuai perkiraan.

Di tengah tarik-menarik antara risiko konflik dan sinyal fundamental pasokan, pasar minyak kembali memperlihatkan wataknya yang sensitif terhadap setiap perkembangan politik global. Harga bukan semata mencerminkan keseimbangan permintaan dan pasokan, melainkan juga ketegangan yang berdenyut di jalur-jalur energi dunia.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Moh. Alpin Pulungan

Asisten Redaktur KabarBursa.com. Jurnalis yang telah berkecimpung di dunia media sejak 2020. Pengalamannya mencakup peliputan isu-isu politik di DPR RI, dinamika hukum dan kriminal di Polda Metro Jaya, hingga kebijakan ekonomi di berbagai instansi pemerintah. Pernah bekerja di sejumlah media nasional dan turut terlibat dalam liputan khusus Ada TNI di Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Subianto di Desk Ekonomi Majalah Tempo.

Lulusan Sarjana Hukum Universitas Pamulang. Memiliki minat mendalam pada isu Energi Baru Terbarukan dan aktif dalam diskusi komunitas saham Mikirduit. Selain itu, ia juga merupakan alumni Jurnalisme Sastrawi Yayasan Pantau (2022).