KABARBURSA.COM — Pasar minyak dunia bergerak seperti berada di atas ombak besar. Harga naik turun sepanjang perdagangan ketika investor mencoba menebak seberapa lama konflik bersenjata di kawasan Teluk Persia akan berlangsung dan apakah jalur vital Selat Hormuz bisa kembali aman dilalui kapal tanker.
Ketidakpastian itu membuat perdagangan minyak berlangsung liar. Pada satu momen harga menguat, di momen lain kembali melemah. Pelaku pasar masih menunggu kepastian apakah Amerika Serikat akan benar-benar memberikan perlindungan militer dan asuransi bagi kapal tanker yang melintas di jalur strategis tersebut.
Phil Flynn dari Price Futures Group mengatakan situasi pasar energi global masih sangat rapuh. Ia menilai konflik di kawasan itu akan terus memengaruhi arus minyak dan gas alam cair.
“Arus minyak global dan LNG masih akan menghadapi tantangan besar dalam waktu dekat, baik dari sisi transportasi, produksi, penyimpanan, hingga risiko terhadap infrastruktur,” kata Flynn dalam catatannya, dikutip dari The Wall Street Journal, Kamis,5 Maret 2026.
Namun di balik gejolak tersebut, ia melihat peluang stabilisasi dalam jangka panjang. “Dalam jangka panjang masih ada harapan bahkan ketika kita harus melewati badai perang,” ujarnya.
Meski begitu Flynn mengingatkan kondisi pasar masih jauh dari aman. “Kita masih berada di perairan yang berbahaya dan volatilitas akan terus terjadi.”
Di tengah ketidakpastian tersebut, harga minyak jenis West Texas Intermediate atau WTI akhirnya ditutup naik tipis 0,1 persen ke level USD74,66 per barel atau sekitar Rp1.258.021 per barel. Sementara minyak Brent yang menjadi acuan global ditutup stagnan di USD81,40 per barel atau sekitar Rp1.371.590 per barel.
Hormuz Dibuka Belum Tentu Menenangkan Pasar
Ketegangan pasar energi diperkirakan tidak akan langsung mereda meskipun jalur pelayaran di Selat Hormuz kembali dibuka. Jalur ini menjadi titik paling krusial bagi perdagangan minyak dunia karena sekitar seperlima pasokan global melewati perairan sempit tersebut setiap hari.
Analis Sparta Commodities, Neil Crosby, mengatakan pasar minyak global akan tetap menghadapi gangguan dan fluktuasi harga bahkan jika kapal tanker kembali berlayar.
Menurut dia, tekanan harga minyak sempat mereda setelah Amerika Serikat menawarkan dukungan finansial dan perlindungan militer bagi kapal yang beroperasi di Teluk Persia. Namun langkah itu belum cukup menghapus kekhawatiran pasar.
“Anggapan bahwa situasi akan kembali normal begitu kapal mulai bergerak lagi adalah hal yang menyesatkan,” kata Crosby.
Ia menjelaskan bahwa pasar tidak hanya memperhitungkan kemungkinan penutupan Selat Hormuz. Risiko kerusakan infrastruktur energi dan gangguan logistik di seluruh kawasan Teluk juga menjadi faktor besar yang memengaruhi harga. Dalam kondisi seperti itu, dampaknya bisa menjalar jauh ke rantai industri energi global.
“Harga minyak, tarif pengiriman tanker, hingga margin kilang bisa tetap tertekan selama beberapa minggu bahkan jika lalu lintas kapal di selat tersebut mulai pulih,” ujarnya.
Konflik di Timur Tengah memang selalu menjadi barometer paling sensitif bagi pasar energi. Selat Hormuz bukan sekadar jalur laut biasa. Ia adalah nadi perdagangan minyak dunia.
Selama ketegangan militer masih membayangi kawasan itu, pasar minyak kemungkinan akan terus bergerak gelisah. Bukan hanya karena ancaman blokade jalur pelayaran, tetapi juga karena ketakutan terhadap kerusakan fasilitas produksi, terminal ekspor, hingga jaringan logistik energi di seluruh wilayah Teluk.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.