KABARBURSA.COM – Harga minyak dunia bergerak relatif stabil pada perdagangan Rabu, 21 Januari 2026, di tengah tarik-menarik antara kekhawatiran pasokan global dan tekanan dari ekspektasi kenaikan persediaan minyak mentah Amerika Serikat.
Berdasarkan data pasar, harga minyak mentah acuan Brent diperdagangkan di kisaran USD 64,1–64,2 per barel. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) berada di kisaran USD 59,7–59,8 per barel.
Pergerakan tersebut mencerminkan pasar yang masih berhati-hati, seiring pelaku pasar menimbang faktor fundamental pasokan dan permintaan global.
Reuters melaporkan, harga minyak mendapat dukungan dari gangguan produksi di Kazakhstan, khususnya di ladang minyak Tengiz yang merupakan salah satu ladang terbesar di dunia. Gangguan tersebut terjadi akibat masalah pasokan listrik yang membuat produksi tertunda selama beberapa hari.
“Tengiz termasuk salah satu ladang terbesar di dunia, sehingga gangguan ini jelas mengganggu arus pasokan minyak mentah,” kata Ajay Parmar, Director of Energy and Refining di ICIS, seperti dikutip dari Reuters, Selasa, 20 Januari 2026.
Meski demikian, sentimen dukungan dari sisi pasokan tersebut diimbangi oleh ekspektasi kenaikan stok minyak mentah Amerika Serikat.
Reuters menyebutkan bahwa harga minyak melemah karena pasar memperkirakan persediaan minyak AS meningkat pada pekan lalu, setelah laporan stok mingguan tertunda akibat libur nasional Martin Luther King Jr. Day. Ekspektasi kenaikan stok tersebut menambah tekanan terhadap harga, terutama untuk minyak acuan WTI.
Dari sisi geopolitik, pasar juga mencermati meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, khususnya yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran. Meski belum terjadi eskalasi militer langsung, pergerakan aset militer AS di kawasan tersebut dinilai menambah premi risiko di pasar energi global.
“Meski AS menahan diri untuk tidak segera menyerang Iran, ketegangan kemungkinan tetap tinggi seiring tambahan aset militer AS bergerak ke Timur Tengah,” ujar Gregory Brew, analis senior di Eurasia Group, seperti dilaporkan Reuters, Rabu, 21 Januari 2026.
Selain faktor geopolitik dan pasokan, pergerakan harga minyak juga dipengaruhi oleh dinamika makroekonomi global. Reuters melaporkan bahwa pelemahan dolar AS dalam beberapa sesi terakhir sempat memberikan dukungan bagi harga minyak, karena membuat komoditas tersebut lebih murah bagi pembeli di luar Amerika Serikat.
Pada saat yang sama, data ekonomi China yang lebih kuat turut mengangkat sentimen permintaan minyak. Kendati demikian, tekanan dari ekspektasi stok AS yang lebih tinggi serta persepsi bahwa gangguan pasokan di Kazakhstan bersifat sementara membuat ruang penguatan harga tetap terbatas.
Hingga kini, pasar menunggu rilis data persediaan minyak resmi dari Badan Informasi Energi Amerika Serikat (EIA) untuk mendapatkan petunjuk lanjutan mengenai arah harga dalam jangka pendek. (*)