KABARBURSA.COM – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tampil agresif pada perdagangan hari pertama pekan ini, 15 Desember 2025. IHSG ditutup menguat 48 poin atau 0,57 persen ke level 8.709.
IHSG tetap bertahan di zona hijau meski mayoritas bursa Asia bergerak melemah. Aktivitas perdagangan berlangsung relatif moderat, dengan volume 312,88 juta lot dan nilai transaksi Rp16,26 triliun. Pasar nampaknya masih sedikit selektif dan belum agresif.
Penguatan tidak bersifat merata. Dorongan indeks lebih banyak ditopang oleh saham-saham lapis dua dan tiga yang mencatatkan lonjakan tajam. Dari daftar top gainer muncul nama-nama seperti VINS, CARE, CSIS, KONI, MBSS, BALI, dan RLCO.
Sementara itu, daftar saham teraktif justru diisi oleh emiten-emiten yang kerap menjadi barometer sentimen jangka pendek, seperti BUMI, BRMS, BKSL, BBYB, DEWA, ARCI, dan RLCO. Indeks kali ini bergerak bukan oleh satu atau dua saham berkapitalisasi besar secara dominan, melainkan oleh rotasi minat di saham-saham yang likuid dan volatil.
Dari sisi sektoral, pergerakan IHSG juga tidak sepenuhnya sejalan dengan narasi penguatan indeks. Sektor kesehatan mencatatkan kenaikan tertinggi dengan lonjakan 3,79 persen. Sektor ini menjadi motor utama penguatan.
Sebaliknya, sektor properti justru menjadi penekan dengan pelemahan 0,72 persen. Divergensi ini mengindikasikan bahwa penguatan IHSG lebih bersifat defensif dan tematik, bukan cerminan risk-on yang menyeluruh.
IHSG Agresif di Sesi I: Saham Lapis Dua Dongkrak Pergerakan
Kinerja positif IHSG pada sesi pertama ini menjadi menarik karena terjadi ketika bursa Asia justru berada di bawah tekanan. Pasar saham Asia melemah menyusul koreksi Wall Street pada akhir pekan lalu, yang dipicu oleh aksi ambil untung di saham-saham berbasis kecerdasan buatan.
Penurunan tajam saham Broadcom, yang anjlok lebih dari 11 persen, menular ke saham teknologi lain seperti AMD, Palantir Technologies, dan Micron, serta menyeret Nasdaq. Pergeseran ini menandai perubahan preferensi investor global, dari saham pertumbuhan berisiko tinggi menuju saham bernilai yang lebih defensif.
Tekanan global tersebut diperkuat oleh rilis data ekonomi dari China yang berada di bawah ekspektasi. Penjualan ritel hanya tumbuh 1,3 persen secara tahunan pada November, jauh meleset dari perkiraan pasar dan melambat dari bulan sebelumnya.
Produksi industri juga tumbuh lebih rendah dari ekspektasi. Data ini kembali menghidupkan kekhawatiran terhadap lemahnya pemulihan ekonomi China, yang berdampak langsung pada sentimen pasar Asia secara luas.
Indeks-indeks utama seperti Hang Seng, Kospi, dan Taiex bergerak turun lebih dari satu persen, sementara indeks Jepang dan China juga berada di zona merah.
Di tengah tekanan tersebut, Jepang justru mencatatkan sinyal fundamental yang relatif positif melalui survei Tankan. Indeks optimisme produsen besar naik ke level tertinggi dalam empat tahun, menunjukkan membaiknya sentimen bisnis domestik.
Namun sinyal positif ini belum cukup kuat untuk mengimbangi tekanan eksternal dan kehati-hatian investor global.
Dengan latar belakang tersebut, penguatan IHSG pada sesi pertama lebih mencerminkan daya tahan pasar domestik ketimbang sinyal perubahan tren global. Aliran dana tampak lebih fokus pada sektor tertentu dan saham-saham dengan karakter defensif atau cerita spesifik, bukan pada pembelian luas berbasis sentimen global.
Absennya lonjakan volume yang signifikan juga menunjukkan bahwa investor masih berhati-hati dan cenderung menunggu kejelasan arah, baik dari pasar global maupun katalis domestik lanjutan.
Secara keseluruhan, IHSG pada sesi pertama berada dalam fase bertahan dan selektif. Indeks mampu menguat di tengah tekanan eksternal, tetapi struktur penguatannya belum cukup solid untuk disebut sebagai risk-on penuh.
Selama sentimen global masih dibayangi kehati-hatian terhadap saham teknologi dan lemahnya data China, pergerakan IHSG berpotensi tetap ditopang oleh rotasi sektoral dan saham-saham tertentu, dengan volatilitas yang masih perlu diwaspadai pada sesi-sesi berikutnya.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.