Logo
>

IHSG Diprediksi Uji Support: Konflik Timteng Bayangi Arah

Eskalasi Timur Tengah, kebijakan tarif AS, dan peringatan fiskal dalam negeri membentuk sentimen pasar awal Maret.

Ditulis oleh Desty Luthfiani
IHSG Diprediksi Uji Support: Konflik Timteng Bayangi Arah
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi bergerak volatil dengan kecenderungan konsolidasi pada periode 2–6 Maret 2026. (Foto: Kabarbursa.com/R. Fadli)

KABARBURSA.COM – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi bergerak volatil dengan kecenderungan konsolidasi pada periode 2–6 Maret 2026 di tengah eskalasi konflik Timur Tengah (Timteng) dan perubahan kebijakan perdagangan Amerika Serikat (AS). 

Dalam sepekan 23–27 Februari 2026, IHSG tercatat terkoreksi 0,44 persen atau turun 36,28 poin ke level 8.235.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Imam Gunadi menyatakan ketidakpastian global dan perubahan kebijakan ekonomi AS membuat pelaku pasar lebih berhati-hati dalam mengambil posisi. 

Ia menyebut dinamika geopolitik dan perdagangan menjadi faktor dominan yang memengaruhi pergerakan pasar domestik pekan ini.

“Di tengah meningkatnya ketidakpastian global tersebut, kebijakan ekonomi Amerika Serikat juga mengalami perubahan signifikan pekan ini,” ujar Imam dalam keterangan tertulis yang diterima Kabarbursa.com, Selasa, 2 Maret 2026.

Konflik memuncak setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara besar-besaran terhadap sejumlah target strategis Iran dalam operasi berkode Operation Epic Fury. Serangan tersebut dikabarkan menghantam kompleks militer dan fasilitas yang diduga terkait program rudal dan nuklir Teheran.

Laporan menyebutkan lebih dari 200 warga Iran tewas dan ratusan lainnya luka-luka di berbagai provinsi. Otoritas Israel bahkan menyatakan terdapat indikasi kematian Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, meski belum dikonfirmasi secara independen. Sejumlah pejabat militer tinggi Iran juga dilaporkan menjadi korban.

Iran kemudian membalas dengan meluncurkan rudal balistik ke sejumlah negara yang menjadi basis pasukan AS atau sekutunya di kawasan Teluk, termasuk Bahrain, Qatar, Kuwait, Arab Saudi, Yordania, dan Irak. Konflik ini memperluas ketidakpastian yang telah berlangsung sejak pertengahan 2025.

Dampak konflik terasa langsung pada jalur energi global, khususnya Selat Hormuz yang menjadi rute sekitar 20–25 persen pasokan minyak mentah dan LNG dunia per hari. Iran melalui Korps Garda Revolusi Islam menyatakan jalur tersebut tidak aman untuk dilintasi dan melakukan pembatasan akses. Gangguan ini berpotensi memicu lonjakan harga minyak dan meningkatkan premi risiko global.

Selain faktor geopolitik, kebijakan perdagangan Amerika Serikat turut menjadi sorotan. Mahkamah Agung AS membatalkan sebagian besar tarif impor global era pemerintahan Trump karena dinilai melampaui kewenangan hukum. Sebagai respons, Trump mengumumkan rencana kenaikan tarif impor global menjadi 15 persen.

Departemen Perdagangan AS juga menetapkan bea masuk anti-subsidi untuk panel surya dari sejumlah negara, termasuk Indonesia, dengan kisaran tarif antara 86 persen hingga 143,3 persen.

“Ketentuan tarif tinggi ini dapat menekan ekspor sektor energi terbarukan Indonesia ke pasar AS dan menambah tekanan pada neraca perdagangan sektor terkait,” jelas Imam.

Di dalam negeri, S&P Global Ratings memperingatkan bahwa tekanan fiskal Indonesia terus meningkat. Rasio pembayaran bunga utang terhadap pendapatan negara diperkirakan telah atau berpotensi bertahan di atas 15 persen. 

Jika kondisi ini berlangsung dalam jangka menengah, potensi penurunan peringkat kredit tetap terbuka meskipun outlook saat ini masih stabil.

Menurut Imam, dengan meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah dan potensi gangguan pasokan energi global, sektor energi dan komoditas menjadi yang paling sensitif untuk diperhatikan. 

Jika harga minyak mentah naik secara terukur, emiten batu bara dan migas berpotensi diuntungkan dari sisi kenaikan harga jual rata-rata atau average selling price.

Kenaikan premi risiko global juga biasanya mendorong penguatan harga emas, sehingga saham tambang emas dan logam mulia berpotensi menjadi pilihan defensif di tengah ketidakpastian.

Namun risiko tetap ada. Jika lonjakan harga energi terlalu tajam dan berkepanjangan, tekanan inflasi global dan pelemahan rupiah bisa meningkat. 

Kenaikan harga minyak berpotensi memperbesar tekanan pada neraca transaksi berjalan melalui peningkatan impor migas. Dalam kondisi tersebut, volatilitas IHSG dapat meningkat karena investor asing cenderung mengurangi eksposur pada aset berisiko.

IPOT memproyeksikan IHSG pekan ini 2 hingga 6 Maret 2026 bergerak dalam rentang support 8.031 dan resistance 8.437. Arah jangka pendek sangat bergantung pada dinamika harga energi dan respons pasar global terhadap perkembangan konflik.

Indonesia sebagai eksportir batu bara dan sejumlah komoditas energi dinilai masih memiliki peluang mendapatkan sentimen positif jika harga komoditas bertahan tinggi. Saham berbasis komoditas kerap menjadi proxy lindung nilai terhadap risiko geopolitik dan inflasi global.

Sejumlah data ekonomi lain juga penting di simak yakni akan dirilis pada awal Maret 2026, mulai dari PMI Manufaktur Indonesia Februari 2026, Neraca Perdagangan Januari 2026, Inflasi Februari 2026, hingga data Non-farm Payrolls dan Tingkat Pengangguran Amerika Serikat. Data-data tersebut berpotensi menjadi katalis tambahan yang menentukan apakah IHSG mampu bertahan di atas level psikologis 8.000 atau justru terkoreksi lebih dalam.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Desty Luthfiani

Desty Luthfiani seorang jurnalis muda yang bergabung dengan KabarBursa.com sejak Desember 2024 lalu. Perempuan yang akrab dengan sapaan Desty ini sudah berkecimpung di dunia jurnalistik cukup lama. Dimulai sejak mengenyam pendidikan di salah satu Universitas negeri di Surakarta dengan fokus komunikasi jurnalistik. Perempuan asal Jawa Tengah dulu juga aktif dalam kegiatan organisasi teater kampus, radio kampus dan pers mahasiswa jurusan. Selain itu dia juga sempat mendirikan komunitas peduli budaya dengan konten-konten kebudayaan bernama "Mata Budaya". 

Karir jurnalisnya dimulai saat Desty menjalani magang pendidikan di Times Indonesia biro Yogyakarta pada 2019-2020. Kemudian dilanjutkan magang pendidikan lagi di media lokal Solopos pada 2020. Dilanjutkan bekerja di beberapa media maenstream yang terverifikasi dewan pers.

Ia pernah ditempatkan di desk hukum kriminal, ekonomi dan nasional politik. Sekarang fokus penulisan di KabarBursa.com mengulas informasi seputar ekonomi dan pasar modal.

Motivasi yang diilhami Desty yakni "do anything what i want artinya melakukan segala sesuatu yang disuka. Melakukan segala sesuatu semaksimal mungkin, berpegang teguh pada kebenaran dan menjadi bermanfaat untuk Republik".