KABARBURSA.COM – Bursa saham Asia memulai perdagangan akhir pekan, Jumat, 6 Maret 2026, di zona merah seiring tekanan yang sebelumnya terjadi di pasar saham global. Pelemahan ini mengikuti penurunan indeks acuan di Wall Street dan bursa utama Eropa yang tertekan oleh lonjakan harga energi di tengah meningkatnya eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran.
Harga minyak dunia menjadi salah satu pemicu utama sentimen pasar. Hingga dini hari waktu Indonesia, harga minyak mentah sempat menembus level USD80 per barel. Kontrak berjangka Brent tercatat naik 3,54 persen dan diperdagangkan di kisaran USD84,31 per barel.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat yang sebelumnya mencatat kenaikan harian terbesar sejak Mei 2020, terakhir turun sekitar 2 persen ke level USD79,38 per barel.
Selain faktor energi, pasar juga dihadapkan pada ketidakpastian perdagangan global setelah Jaksa Agung New York Letitia James bersama jaksa utama dari 23 negara bagian kembali mengajukan gugatan untuk memblokir rezim tarif global Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Gugatan tersebut muncul setelah Pengadilan Perdagangan Internasional AS menyatakan perusahaan berhak memperoleh pengembalian dana atas tarif dari kebijakan yang sebelumnya dibatalkan oleh Mahkamah Agung.
ASX 200 Hingga Kospi Dibuka Melemah
Tekanan global tersebut tercermin pada pergerakan sejumlah indeks utama di Asia. Indeks ASX 200 Australia dibuka turun 1,09 persen dengan pelemahan dipicu oleh saham sektor bahan baku dasar. Tekanan berlanjut hingga indeks turun 1,37 persen atau 122,70 poin ke level 8.817,60 pada pukul 08.20 WIB.
Di Korea Selatan, indeks Kospi dibuka melemah 0,87 persen dan kemudian tergelincir lebih dalam sekitar 1,20 persen. Sementara itu indeks Kosdaq justru mencatat kenaikan sekitar 2,45 persen.
Pergerakan saham sektor pertahanan di Korea Selatan menjadi salah satu sorotan perdagangan. Saham LIG Nex1 melonjak hampir 10 persen setelah media lokal melaporkan sistem pertahanan udara perusahaan tersebut berhasil mencegat rudal Iran yang diarahkan ke Uni Emirat Arab.
Di Jepang, indeks Nikkei 225 juga bergerak di zona merah. Indeks turun sekitar 0,28 persen atau 155,79 poin ke level 55.122,27 setelah sebelumnya dibuka melemah 0,24 persen. Indeks Topix yang lebih luas juga turun sekitar 0,42 persen pada sesi perdagangan yang sama.
Sementara itu, kontrak berjangka indeks Hang Seng Hong Kong diperdagangkan di level 25.037, lebih rendah dibandingkan posisi penutupan terakhir indeks tersebut di level 25.321,34.
IHSG Masih di Level 7.000
Di dalam negeri, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga kembali bergerak melemah pada awal perdagangan Jumat. Indeks dibuka di level 7.699 atau turun sekitar 11 poin dibandingkan penutupan sebelumnya di level 7.710 yang sempat menguat 1,76 persen pada sesi sebelumnya.
Data perdagangan menunjukkan IHSG sempat mencatatkan tekanan lebih dalam pada awal sesi. Hingga pukul 09.04 WIB, indeks turun 0,37 persen atau sekitar 28 poin ke level 7.681. Sepanjang perdagangan awal sesi, indeks bergerak dalam rentang 7.634 hingga 7.700 dan tetap berada di zona negatif.
Dari sisi pergerakan saham, sebanyak 193 emiten tercatat menguat, sementara 301 saham melemah dan 464 saham lainnya bergerak stabil. Aktivitas perdagangan mencatatkan frekuensi transaksi sekitar 128,8 ribu kali dengan nilai transaksi mencapai Rp999,1 miliar.
Kapitalisasi pasar tercatat berada di kisaran Rp13,67 triliun pada awal perdagangan.
Secara sektoral, sebagian besar indeks sektor berada di zona merah. Sektor bahan baku menjadi salah satu sektor dengan pelemahan terbesar setelah turun sekitar 1,03 persen ke level 2.209.
Sektor konsumer primer melemah 0,53 persen ke level 1.074, sementara sektor kesehatan turun sekitar 0,39 persen ke posisi 1.873. Sektor industri juga terkoreksi sekitar 0,50 persen menjadi 1.932.
Tekanan juga terlihat pada sektor properti yang turun sekitar 0,27 persen ke level 992, sektor infrastruktur yang melemah sekitar 0,30 persen menjadi 2.076, serta sektor teknologi yang terkoreksi tipis sekitar 0,02 persen ke level 7.888.
Sementara itu sektor keuangan turun sekitar 0,05 persen ke level 1.415 dan sektor konsumer non primer bergerak melemah sekitar 0,04 persen.
Di tengah tekanan tersebut, hanya dua sektor yang tercatat berada di zona hijau. Sektor energi naik sekitar 0,27 persen ke level 4.098, sementara sektor transportasi menguat sekitar 2,38 persen menjadi 1.922.
Masih Ada Peluang Kenaikan Terbatas
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas Hari Rachmansyah mengatakan pergerakan IHSG masih berada dalam kecenderungan tren menurun meskipun peluang penguatan jangka pendek masih terbuka.
Menurutnya, kenaikan yang terjadi kemungkinan terbatas pada area teknikal tertentu sebelum indeks kembali menghadapi tekanan.
“IHSG masih cenderung bergerak downtrend, yang bisa dimanfaatkan adalah kenaikan jangka pendek. Mungkin kenaikannya akan terbatas ke area moving average lima hari, kemudian target berikutnya di moving average dua puluh hari,” ujar Hari dalam sesi Morning Update melalui siaran langsung Instagram, Jumat.
Ia juga menyebutkan bahwa pola perdagangan pada hari Jumat umumnya dipengaruhi oleh sikap investor yang lebih berhati-hati menjelang akhir pekan.
Secara historis, sebagian pelaku pasar cenderung meningkatkan porsi kas dalam portofolio menjelang penutupan pekan, sehingga ruang penguatan indeks relatif terbatas pada sesi perdagangan tersebut.
Di tengah kondisi pasar tersebut, Indo Premier Sekuritas merilis sejumlah saham yang dinilai memiliki potensi pergerakan teknikal dengan strategi buy on breakout. Rekomendasi tersebut mencakup saham PT Sumber Global Energy Tbk (ENRG), PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS), serta saham PT Hartadinata Abadi Tbk (kode saham EMAS) dengan masing-masing level masuk, target harga, dan batas risiko yang telah ditentukan.(*)