KABARBURSA.COM – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak menguat pada perdagangan Jumat, 30 Januari 2026, di tengah respons pasar terhadap klarifikasi Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terkait evaluasi Morgan Stanley Capital International (MSCI). Pada pukul 09.00 WIB, IHSG tercatat naik 87,68 poin atau 1,07 persen ke level 8.319,89, setelah dibuka di kisaran 8.308 dan sempat menyentuh level tertinggi di 8.333 sebelum bergerak fluktuatif.
Penguatan IHSG terjadi dengan aktivitas transaksi yang masih tergolong moderat. Total volume perdagangan di seluruh pasar mencapai 8,57 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp809,23 miliar dari 76,69 ribu transaksi. Meski indeks menguat, investor asing masih mencatatkan aksi jual bersih. Data menunjukkan net foreign sell di seluruh pasar mencapai Rp4,44 triliun, sementara di pasar reguler tercatat net sell sebesar Rp5,11 triliun. Di sisi lain, transaksi tunai dan negosiasi masih mencatatkan net foreign buy sebesar Rp669,83 miliar, menandakan belum sepenuhnya keluarnya minat investor global.
Penguatan IHSG pagi ini berlangsung beriringan dengan klarifikasi dari BEI dan OJK terkait perhatian MSCI terhadap struktur pasar modal Indonesia, khususnya menyangkut likuiditas, free float, serta mekanisme perdagangan. BEI menegaskan bahwa otoritas pasar modal bersama OJK telah melakukan berbagai langkah perbaikan struktural, termasuk penguatan regulasi free float, peningkatan kualitas emiten, serta penyesuaian kebijakan perdagangan untuk menjaga kepercayaan investor. OJK menambahkan bahwa komunikasi dengan MSCI terus dilakukan secara intensif agar pasar modal Indonesia tetap sejalan dengan standar global.
Secara sektoral, hampir seluruh indeks sektor bergerak di zona hijau. Sektor energi mencatatkan penguatan tertinggi sebesar 1,81 persen, disusul sektor properti yang naik 1,75 persen dan sektor infrastruktur yang menguat 1,38 persen. Sektor keuangan juga bergerak positif dengan kenaikan 1,01 persen, sementara sektor teknologi naik 0,53 persen. Adapun sektor non-siklikal menjadi yang paling terbatas penguatannya dengan kenaikan 0,19 persen.
Di jajaran saham, PT Nusantara Almazia Tbk yang bergerak di sektor properti dan real estat dengan kode saham NZIA mencatatkan lonjakan signifikan sebesar 27,27 persen ke level 112. Saham PT Dwi Guna Laksana Tbk berkode DWGL dari sektor perdagangan dan distribusi juga menguat 19,20 persen ke harga 298. Dari sektor properti ritel, saham PT City Retail Developments Tbk berkode NIRO naik 18,33 persen ke level 284. Sementara itu, PT Asia Sejahtera Mina Tbk berkode AGAR dari sektor consumer cyclicals menguat 17,34 persen ke harga 406, dan saham PT Asuransi Harta Aman Pratama Tbk berkode AHAP dari sektor keuangan naik 16,13 persen ke level 144.
Sebaliknya, tekanan jual masih terlihat pada sejumlah saham berkapitalisasi menengah. Saham PT Royalindo Investa Wijaya Tbk berkode INDO dari sektor investasi terkoreksi 14,97 persen ke level 318. Dari sektor perkebunan, saham PT Nusantara Sawit Sejahtera Tbk berkode NSSS turun 14,93 persen ke harga 1.425. Saham PT RMK Energy Tbk berkode RMKE dari sektor energi melemah 14,77 persen ke level 5.050. Tekanan juga dialami PT Indal Aluminium Industry Tbk berkode INAI dari sektor industri dasar yang turun 14,40 persen ke harga 214, serta saham PT Wahana Pronatural Tbk berkode WAPO dari sektor consumer non-cyclicals yang terkoreksi 12,96 persen ke level 188.
Pelaku pasar menilai penguatan IHSG pagi ini lebih bersifat teknikal dan respons jangka pendek terhadap klarifikasi otoritas, di tengah sentimen global yang masih belum sepenuhnya stabil. Analis memperkirakan IHSG masih akan bergerak volatil dengan kecenderungan konsolidasi, mengingat tekanan jual asing belum sepenuhnya mereda.
Secara teknikal, IHSG dinilai masih berada dalam fase koreksi lanjutan dengan potensi pengujian area support di kisaran 7.985 hingga 7.762, sementara area resistance berada di rentang 8.296 hingga 8.590. Selama arus dana asing belum kembali konsisten, pasar diperkirakan akan lebih selektif, dengan investor cenderung fokus pada saham-saham sektor energi, infrastruktur, dan telekomunikasi yang dinilai memiliki fundamental relatif defensif di tengah dinamika global dan evaluasi indeks internasional.(*)