KABARBURSA.COM – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali berada di zona merah pada perdagangan sesi I Jumat, 13 Maret 2026. Indeks melemah cukup tajam seiring meningkatnya tekanan global yang dipicu lonjakan harga energi dan meningkatnya kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi dunia.
Pada penutupan sesi pertama, IHSG tercatat turun 133 poin atau sekitar 1,81 persen ke level 7.228. Pelemahan tersebut terjadi di tengah aktivitas perdagangan yang cukup tinggi di Bursa Efek Indonesia.
Volume transaksi yang tercatat mencapai sekitar 167,2 juta lot saham dengan nilai transaksi sekitar Rp74,07 triliun. Pergerakan indeks pada sesi pagi juga menunjukkan tekanan yang merata karena seluruh indeks sektor saham tercatat bergerak melemah.
Tekanan paling dalam terjadi pada sektor perindustrian yang turun sekitar 2,98 persen. Beberapa saham yang memberikan kontribusi terhadap pelemahan sektor ini antara lain PT Indospring Tbk (INDS) yang turun sekitar 12,15 persen.
Selain itu, PT Astra International Tbk (ASII) juga melemah sekitar 2,52 persen, PT PP (Persero) Tbk (PTPP) turun sekitar 1,95 persen, serta PT United Tractors Tbk (UNTR) yang turun sekitar 1,83 persen.
Saham PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk (GMFI) ikut terkoreksi sekitar 1,72 persen, PT Selamat Sempurna Tbk (SMSM) turun sekitar 0,57 persen, dan PT Hexindo Adiperkasa Tbk (HEXA) turun sekitar 0,46 persen.
Di sisi lain, sejumlah saham berkapitalisasi besar yang masuk dalam indeks LQ45 masih mencatat penguatan terbatas, seperti saham PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR), PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL), PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI).
PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT), PT AKR Corporindo Tbk (AKRA), serta PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) ikut tercatat berada dalam daftar saham dengan penguatan tertinggi pada indeks LQ45.
Sebaliknya, sejumlah saham lain dalam indeks LQ45 mencatat pelemahan signifikan. Saham PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Indosat Tbk (ISAT), PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA), PT Vale Indonesia Tbk (INCO), PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), PT Bumi Resources Tbk (BUMI), serta PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) tercatat berada dalam daftar saham dengan penurunan terbesar.
Bursa Asia di Zona Negatif
Pergerakan pasar saham domestik tersebut terjadi seiring tekanan yang juga terjadi di pasar saham Asia. Bursa regional mayoritas berada di zona negatif pada perdagangan hari ini di tengah kekhawatiran terhadap lonjakan harga energi global.
Harga minyak mentah dunia masih bertahan di level tinggi setelah melonjak dalam beberapa sesi terakhir. Lonjakan harga energi dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang memicu kekhawatiran gangguan pasokan minyak global.
Situasi tersebut muncul setelah Pemimpin Tertinggi Iran yang baru Mojtaba Khamenei, menyatakan bahwa Selat Hormuz harus tetap ditutup. Selat tersebut merupakan jalur utama perdagangan minyak dunia sehingga setiap ancaman terhadap jalur tersebut berpotensi memengaruhi pasokan energi global.
Dalam pidatonya pada Kamis malam, Mojtaba Khamenei juga menyebut bahwa Iran dapat membuka front konflik tambahan jika ketegangan yang terjadi saat ini terus berlanjut.
Ketidakpastian geopolitik tersebut turut memicu kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi global. Pelaku pasar di platform prediksi Kalshi meningkatkan spekulasi bahwa ekonomi Amerika Serikat berpotensi memasuki resesi pada tahun ini.
Probabilitas resesi yang diperdagangkan di platform tersebut naik menjadi sekitar 32 persen, yang merupakan level tertinggi sepanjang tahun berjalan.
Di kawasan Asia, sebagian besar indeks saham utama tercatat melemah. Indeks Nikkei 225 Jepang turun sekitar 1,13 persen, sementara indeks Topix melemah sekitar 0,43 persen.
Pasar saham China juga bergerak lebih rendah dengan indeks Shanghai turun sekitar 0,22 persen, Shenzhen Composite melemah sekitar 0,17 persen, dan CSI 300 turun sekitar 0,02 persen.
Di Hong Kong, indeks Hang Seng tercatat turun sekitar 0,49 persen, sedangkan indeks Kospi Korea Selatan melemah sekitar 1,38 persen. Indeks Taiex Taiwan juga tercatat turun sekitar 0,32 persen.
Sementara itu, indeks ASX200 Australia menjadi salah satu indeks yang masih mampu bertahan di zona positif dengan kenaikan sekitar 0,07 persen.
Rupiah Melemah, Yen Stagnan
Pergerakan mata uang Asia pada saat yang sama menunjukkan dinamika yang beragam terhadap dolar Amerika Serikat. Yen Jepang tercatat relatif stagnan di kisaran 159,35 per dolar AS, sementara dolar Singapura menguat sekitar 0,02 persen ke level 1,2789 per dolar AS.
Dolar Australia melemah sekitar 0,10 persen ke posisi 0,7070 per dolar AS. Rupiah juga bergerak lebih rendah dengan pelemahan sekitar 0,28 persen ke level 16.940 per dolar AS.
Selain itu, rupee India melemah sekitar 0,14 persen ke level 92,3288 per dolar AS, yuan China turun sekitar 0,06 persen ke level 6,8844 per dolar AS, serta ringgit Malaysia melemah sekitar 0,13 persen ke posisi 3,9310 per dolar AS.
Di sisi lain, baht Thailand tercatat menguat sekitar 0,05 persen ke level 32,1700 per dolar AS.
Harga Minyak Terus Meroket
Lonjakan harga minyak masih menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi sentimen pasar global. Manajer portofolio senior di Tortoise Capital, Rob Thummel, mengatakan harga minyak kemungkinan tetap tinggi dalam waktu dekat karena investor memperhitungkan risiko konflik yang berkepanjangan di Timur Tengah.
Namun demikian, ia memperkirakan harga energi berpotensi kembali turun menjelang akhir tahun jika aliran minyak melalui Selat Hormuz kembali normal.
Tim analis Goldman Sachs juga memperkirakan harga minyak mentah Brent akan berada di kisaran rata-rata US$98 per barel pada Maret dan April. Angka tersebut diperkirakan sekitar 40 persen lebih tinggi dibandingkan rata-rata harga pada 2025.
Meski demikian, Goldman Sachs memperkirakan harga minyak berpotensi turun hingga sekitar US$71 per barel pada kuartal keempat tahun ini.
Di sisi lain, Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent menyatakan pemerintah AS akan mengizinkan sementara pembelian minyak mentah Rusia yang telah berada di laut meskipun dikenai sanksi. Kebijakan tersebut diambil sebagai upaya menstabilkan pasar energi global yang saat ini mengalami volatilitas tinggi.
Dengan berbagai dinamika tersebut, pergerakan pasar saham global dan regional pada perdagangan hari ini masih berada dalam bayang-bayang ketidakpastian geopolitik dan fluktuasi harga energi.(*)