KABARBURSA.COM - Indeks Harga Saham Gabungan pada sesi pertama perdagangan Selasa, 20 Januari, ditutup perkasa. IHSG menguat 21 poin atau 0,24 persen ke level 9.155, dengan likuiditas yang tetap tebal. Volume transaksi mencapai 466,1 juta lot, menghasilkan nilai perdagangan Rp16,07 triliun.
Kenaikan bersifat merata, karena seluruh indeks sektoral bergerak di zona hijau. Sektor industri menjadi penopang utama dengan kenaikan 2,38 persen, terdorong saham-saham berkapitalisasi besar dan menengah seperti GMFI, UNTR, ADHI, dan HEXA.
Namun, jika ditarik ke level saham, struktur penguatan ini tidak sepenuhnya seragam. Di dalam indeks LQ45, terlihat kontras yang cukup jelas antara saham-saham yang menguat dan yang tertekan.
ADMR, JPFA, BUMI, NCKL, INKP, EXCL, dan TOWR berada di barisan top gainers. Deretan ini menunjukkan adanya rotasi ke saham-saham berbasis komoditas, energi, dan telekomunikasi. Sebaliknya, saham-saham besar seperti DSSA, INCO, MAPI, ASII, HEAL, AMMN, dan BBCA justru masuk daftar top losers.
Bursa Asia Bergerak Hati-hati
Di saat yang sama, bursa Asia bergerak dengan lebih berhati-hati. Kekhawatiran mengenai potensi eskalasi perang dagang kembali mencuat setelah pernyataan Presiden AS Donald Trump terkait Greenland dan ancaman tarif tambahan.
Sentimen ini memukul aset-aset berisiko dan mendorong investor global untuk mencari perlindungan di aset safe haven seperti emas dan franc Swiss. Tekanan ini tidak hanya memukul saham, tetapi juga memicu apa yang mulai disebut pasar sebagai “jual Amerika”. Saham-saham, dolar, dan obligasi pemerintah AS dilepas secara bersamaan.
Pola ini tercermin jelas di pergerakan indeks Asia. Nikkei 225 dan Topix di Jepang masing-masing turun 1,20 persen dan 0,84 persen. Bursa China juga melemah, dengan Shanghai Composite turun 0,30 persen, Shenzhen Component anjlok 1,22 persen, dan CSI300 turun 0,47 persen.
Hang Seng di Hong Kong nyaris stagnan, sementara Korsel dan Taiwan menjadi pengecualian dengan penguatan tipis. Australia juga melemah 0,71 persen, memperkuat gambaran bahwa sentimen risiko di kawasan Asia masih tertekan.
Ekonom MUFG Henry Cook, menilai dari pengalaman tahun lalu, ancaman Trump tidak selalu berujung pada kebijakan nyata. Tetapi, pasar tetap tidak bisa mengabaikannya, sehingga terjadi de-eskalasi dan ketidakpastian lantaran kredibilitas kesepakatan dagang menjadi dipertanyakan. Ini menciptakan situasi di mana volatilitas menjadi permanen, bukan episodik.
Yen Menguat Tipis, Rupiah Masih Lemah
Di pasar mata uang, respons terhadap sentimen ini juga tidak seragam. Yen Jepang menguat tipis, mencerminkan kembali fungsinya sebagai aset lindung nilai. Dolar Australia justru menguat 0,36 persen, sementara rupiah melemah tipis 0,07 persen ke 16.967 per dolar AS.
Pergerakan ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap mata uang kawasan tidak bersifat seragam, melainkan selektif, tergantung pada sensitivitas masing-masing negara terhadap arus modal global.
Dalam konteks ini, penguatan IHSG pada sesi pertama menjadi menarik karena terjadi di tengah tekanan global yang cukup nyata. Namun struktur kenaikannya menunjukkan bahwa pasar domestik tidak sepenuhnya dalam mode risk-on agresif.
Kenaikan didorong oleh sektor-sektor tertentu dan saham-saham spesifik, sementara sejumlah saham besar justru terkoreksi. Ini menandakan bahwa pelaku pasar masih berhitung, bukan sekadar membeli secara membabi buta.(*)