Logo
>

IHSG Sesi Pertama Bertahan di 8.000: Perhatikan TLKM Hingga ISAT

Tekanan saham big caps dan koreksi sektor konsumsi mewarnai pelemahan IHSG sesi I, sementara bursa Asia bergerak variatif di tengah sentimen global terkait disrupsi teknologi berbasis AI.

Ditulis oleh Yunila Wati
IHSG Sesi Pertama Bertahan di 8.000: Perhatikan TLKM Hingga ISAT
IHSG masih bertahan di level 8.000-an meski tekanan jual masih tinggi. Foto: Dok KabarBursa.

KABARBURSA.COM - Perdagangan sesi pertama Rabu, 4 Februari 2026, dibuka dengan tekanan yang langsung menyeret Indeks Harga Saham Gabungan ke zona merah. IHSG finis sesi I di level 8.079, turun 43 poin atau 0,53 persen. 

Pelemahan ini terjadi di tengah aktivitas transaksi yang relatif aktif, yang tercermin dari volume perdagangan sebesar 303,3 juta lot saham dengan nilai transaksi mencapai Rp14,63 triliun. 

Tekanan indeks terutama datang dari saham-saham berkapitalisasi besar yang tergabung dalam LQ45. Daftar top losers diisi oleh Bumi Resources (BUMI), Telkom Indonesia (TLKM), Japfa Comfeed Indonesia (JPFA), Surya Citra Media (SCMA), Dian Swastatika Sentosa (DSSA), Indosat (ISAT), hingga Indofood CBP Sukses Makmur (ICBP). 

Pelemahan saham-saham ini memberi kontribusi signifikan terhadap penurunan IHSG, mengingat bobotnya yang cukup besar dalam perhitungan indeks.

Di sisi lain, sejumlah saham LQ45 mencatatkan penguatan dan menjadi penahan laju penurunan yang lebih dalam. Vale Indonesia (INCO), Amman Mineral Internasional (AMMN), Sarana Menara Nusantara (TOWR), Merdeka Copper Gold (MDKA), Barito Pacific (BRPT), United Tractors (UNTR), hingga Bank Tabungan Negara (BBTN) berada di jajaran top gainers. 

Kehadiran saham-saham ini menunjukkan bahwa selektivitas masih kuat, dengan aliran dana cenderung mengalir ke emiten berbasis komoditas, infrastruktur, dan siklikal tertentu.

Secara sektoral, pergerakan pasar memperlihatkan kontras yang tajam. Sektor basic industry menjadi penopang utama dengan kenaikan tertinggi sebesar 2,30 persen. Kinerja sektor ini ditopang oleh penguatan Barito Pacific (BRPT) yang melonjak 4,04 persen, disusul Chandra Asri Pacific (TPIA) naik 2,30 persen, Pabrik Kertas Tjiwi Kimia (TKIM) 2,21 persen, Indocement Tunggal Prakarsa (INTP) 0,76 persen, serta Semen Indonesia (SMGR) 0,39 persen. 

Sebaliknya, sektor barang konsumen primer menjadi titik terlemah dengan penurunan tajam mencapai 4,17 persen. Tekanan terlihat pada saham-saham berkapitalisasi besar yang selama ini dikenal defensif. Astra International (ASII) melemah 2,57 persen, disusul Mitra Adiperkasa (MAPI) turun 0,41 persen dan Sumber Alfaria Trijaya (AMRT) terkoreksi 0,29 persen. 

Pasar Asia Bergerak Variatif

Sentimen global turut membentuk arah perdagangan domestik. Pasar saham Asia bergerak variatif, menyusul tekanan besar yang sebelumnya melanda bursa saham Amerika Serikat dan Eropa. Aksi jual di pasar global dipicu kekhawatiran bahwa kecanggihan kecerdasan buatan berpotensi menggantikan software tradisional, khususnya di sektor analitik data, jasa profesional, dan perangkat lunak. 

Tekanan tersebut semakin dalam setelah peluncuran plug-in Anthropic untuk agen Claude Cowork pada akhir pekan lalu, yang memicu kekhawatiran akan disrupsi berbasis AI terhadap model bisnis perusahaan teknologi konvensional.

Meski demikian, tekanan jual di Asia relatif lebih teredam dibandingkan pasar Barat. Struktur ekonomi Asia yang secara historis lebih dominan di manufaktur perangkat keras membuat kawasan ini dinilai tidak sepenuhnya berada di garis depan risiko disrupsi perangkat lunak. 

Ben Bennett, kepala strategi investasi Asia di L&G Asset Management, tekanan pada bisnis perangkat lunak masih berlanjut, sehingga sektor teknologi tidak lagi bisa dipandang sebagai pemenang universal.

Pergerakan indeks saham Asia mencerminkan dinamika tersebut. Nikkei 225 Jepang turun 0,92 persen, sementara Topix justru menguat tipis 0,19 persen. Di China, Shanghai Composite stagnan, Shenzhen Component melemah 0,92 persen, dan CSI300 turun 0,15 persen. 

Hang Seng Hong Kong terkoreksi 0,41 persen. Sebaliknya, Kospi Korea Selatan melonjak 1,13 persen, Taiex Taiwan naik 0,21 persen, dan ASX200 Australia menguat 0,77 persen. 

Yen dan Rupiah Kompak Melemah

Pergerakan mata uang Asia turut mencerminkan kehati-hatian pelaku pasar. Yen Jepang melemah 0,36 persen ke level 156,31 per dolar AS, sementara dolar Singapura turun tipis 0,09 persen ke 1,271 per dolar AS. 

Rupiah berada di zona lemah, turun 0,11 persen ke posisi 16.773 per dolar AS, sejalan dengan tekanan di pasar saham domestik. Rupee India melemah 0,18 persen, sedangkan yuan China menguat tipis 0,01 persen. 

Di kawasan ASEAN, ringgit Malaysia naik 0,13 persen dan baht Thailand menguat 0,34 persen, menunjukkan aliran modal yang masih mencari peluang di pasar tertentu.

Kombinasi tekanan sektor konsumsi, koreksi saham-saham berkapitalisasi besar, serta sentimen global terkait disrupsi AI membentuk dinamika perdagangan IHSG sepanjang sesi I. 

Di tengah tekanan tersebut, penguatan sektor basic industry dan sejumlah saham komoditas menegaskan bahwa pasar masih bergerak selektif, dengan fokus pada sektor-sektor yang dinilai lebih tahan terhadap ketidakpastian global jangka pendek.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79