Logo
>

IHSG Tertekan Asing Rp3,7 Triliun, Big Banks jadi Sasaran

Arus dana asing keluar dominan di pekan terakhir Maret, BBCA, BBRI, dan BBNI memimpin tekanan indeks di tengah dominasi transaksi domestik.

Ditulis oleh Yunila Wati
IHSG Tertekan Asing Rp3,7 Triliun, Big Banks jadi Sasaran
Tekanan asing di sejumlah emiten big caps membuat IHSG tergerus hingga ke level 7.097. (Foto: dok KabarBursa)

Poin Penting :

KABARBURSA.COM – Pergerakan IHSG dalam sepekan terakhir tidak hanya menunjukkan pelemahan indeks, tetapi juga memperlihatkan perubahan struktur transaksi yang mengindikasikan tekanan jual yang datang secara konsisten, terutama dari investor asing.

IHSG ditutup di level 7.097,06 atau turun 0,94 persen pada akhir pekan, Jumat, 27 Maret 2026, dengan nilai transaksi mencapai Rp11,77 triliun dan volume 198,08 juta lot. Aktivitas perdagangan tetap tinggi dengan frekuensi mencapai 1,39 juta kali transaksi.

Di sini, tekanan yang terjadi bukan akibat likuiditas yang menipis, melainkan intensitas jual yang meningkat di tengah pasar yang tetap aktif.

Dalam rentang 21–27 Maret 2026, data menunjukkan investor asing mencatatkan penjualan bersih sebesar Rp3,77 triliun di pasar reguler. Total nilai jual asing mencapai Rp22,40 triliun, lebih tinggi dibandingkan nilai beli sebesar Rp18,64 triliun. Arah aliran dana asing masih keluar dari pasar domestik dalam periode ini.

Dominasi aktivitas juga terlihat dari komposisi pelaku pasar. Secara nilai transaksi, investor domestik mengambil porsi lebih besar dengan kontribusi 53,75 persen, sementara asing berada di 46,25 persen. 

Namun, dari sisi volume dan frekuensi, dominasi domestik terlihat jauh lebih kuat, di mana masing-masing mencapai 73,66 persen untuk volume dan 73,07 persen untuk frekuensi transaksi.

Struktur ini menunjukkan karakter pasar yang cenderung digerakkan oleh aktivitas domestik dalam jumlah transaksi dan lot, sementara tekanan arah harga lebih banyak dipengaruhi oleh pergerakan dana asing yang memiliki nilai transaksi lebih besar. Ketidakseimbangan ini menjadi salah satu faktor yang membentuk arah IHSG sepanjang pekan.

BBCA Banyak Dibuang Asing

Dari sisi distribusi saham, tekanan jual asing paling besar terjadi pada saham-saham berkapitalisasi besar di sektor perbankan. BBCA mencatat net foreign sell sebesar Rp1,13 triliun dengan nilai transaksi Rp1,91 triliun dan volume 2,84 juta lot. BBRI menyusul dengan net sell Rp343,96 miliar, diikuti BBNI sebesar Rp123,76 miliar.

Pergerakan harga pada saham-saham tersebut juga menunjukkan arah yang sejalan dengan arus dana. BBCA turun 2,55 persen ke level 6.700, BBRI melemah 2,01 persen ke 3.420, dan BBNI terkoreksi 2,50 persen ke 3.900. 

Penurunan pada saham-saham big caps ini memberikan tekanan signifikan terhadap pergerakan indeks secara keseluruhan, mengingat bobotnya yang besar dalam IHSG.

Jika ditarik lebih dalam ke struktur transaksi, pola frekuensi dan volume memberikan gambaran tambahan. Aktivitas domestik yang dominan dalam frekuensi tinggi dan volume besar menunjukkan partisipasi ritel yang kuat, sementara transaksi asing yang lebih sedikit secara frekuensi namun berdampak besar secara nilai memperlihatkan karakter distribusi oleh pelaku dengan kapasitas dana besar.

Kondisi ini membentuk dinamika pasar yang cenderung berat di sisi atas. Setiap upaya penguatan harga berhadapan dengan tekanan jual yang datang dari distribusi asing, sementara aktivitas domestik lebih banyak menjaga likuiditas dibandingkan mengubah arah tren.

Dalam konteks yang lebih luas, pergerakan ini juga tidak terlepas dari sentimen global yang sedang berkembang. Lonjakan harga minyak dunia, eskalasi konflik Iran, serta perubahan ekspektasi suku bunga global membentuk tekanan eksternal yang mendorong arus keluar dana dari pasar berkembang, termasuk Indonesia.

Pergerakan IHSG sepanjang pekan ini memperlihatkan bahwa pasar berada dalam fase penyesuaian dengan tekanan yang masih terdistribusi secara bertahap. Arus dana, struktur transaksi, serta pergerakan saham-saham utama menjadi elemen yang terus membentuk arah indeks dalam jangka pendek, di tengah sentimen global yang belum menunjukkan stabilitas.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79