KABARBURSA.COM – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan daya tahan di tengah sentimen negatif setelah Fitch Ratings merevisi outlook peringkat utang Indonesia menjadi negatif. Meski tekanan eksternal meningkat, indeks justru berupaya melakukan rebound secara teknikal.
Berdasarkan data perdagangan terakhir, IHSG berada di level 7.577, turun 4,57 persen secara harian, namun secara teknikal dinilai masih memiliki peluang penguatan terbatas.
Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M. Nafan Aji Gusta, CTA, CSA, menjelaskan bahwa IHSG tengah mencoba bangkit dari area neckline untuk menguji resistance pada pola “wave (ii)”.
“Secara teknikal, IHSG berupaya rebound dari neckline dalam rangka menguji ‘wave (ii)’ resistance. Namun hal tersebut akan gagal bila terjadi breakdown dari neckline sebagai skenario alternatif,” ujar Nafan kepada KabarBursa.com
Ia menambahkan, indikator teknikal masih menunjukkan sinyal campuran. MA20 dan MA60 telah membentuk bearish crossover, sementara indikator Stochastics K_D dan RSI masih bergerak negatif. Meski demikian, peningkatan volume perdagangan menjadi sinyal awal adanya akumulasi.
Di tengah revisi outlook Fitch dan meningkatnya ketegangan geopolitik akibat konflik AS–Iran, pasar domestik justru mendapatkan sentimen positif dari data ekonomi Amerika Serikat.
Pelaku pasar mengapresiasi solidnya data pasar tenaga kerja dan pertumbuhan sektor jasa AS. Data tersebut dinilai mampu meredam kekhawatiran resesi global dan mengurangi tekanan arus modal keluar (capital outflow) dari pasar emerging markets, termasuk Indonesia.
“Semestinya hal ini dapat mengurangi outflow asing dan tekanan bagi IHSG di tengah terjadinya downgrade outlook kredit Indonesia dari Fitch Ratings dan risk-off global,” jelas Nafan.
Dengan demikian, meskipun terdapat sentimen negatif dari sisi peringkat kredit, pelaku pasar cenderung melihat fundamental eksternal yang lebih stabil sebagai penopang pergerakan indeks.
Dalam kondisi pasar yang masih dibayangi risiko global, Nafan merekomendasikan investor untuk lebih selektif.
“ACTION: Fokus pada saham pilihan dengan fundamental solid; fokus pada saham bervaluasi murah; fokus terhadap saham yang menunjukkan arah pembalikan tren; dan gunakan manajemen risiko dengan disiplin,” tegasnya.
Secara teknikal, level support IHSG berada di kisaran 7.486 dan 7.262, sementara resistance terdekat berada di area 7.690 hingga 7.849. Pergerakan indeks dalam beberapa sesi ke depan akan sangat ditentukan oleh kemampuan bertahan di atas area neckline tersebut.
Pasar kini menanti stabilisasi sentimen global serta respons kebijakan domestik guna menjaga stabilitas makroekonomi. Di tengah dinamika tersebut, ketahanan IHSG menjadi sinyal bahwa investor masih melihat peluang di pasar saham Indonesia, meski risiko eksternal belum sepenuhnya mereda.(*)