KABARBURSA.COM - Perdagangan saham di Wall Street berakhir di zona negatif pada Kamis, di tengah meningkatnya kegelisahan investor terhadap tekanan inflasi yang dipicu lonjakan harga minyak mentah. Dinamika ini perlahan namun pasti menggerus optimisme pasar terkait peluang penurunan suku bunga dalam waktu dekat.
Indeks utama S&P 500 ditutup terkoreksi 0,27 persen atau 18,21 poin ke posisi 6.606,49. Nasdaq Composite ikut melemah 0,28 persen atau 61,73 poin ke level 22.090,69, sementara Dow Jones Industrial Average mencatat penurunan lebih dalam sebesar 0,44 persen atau 203,72 poin ke angka 46.021,43, sebagaimana dilaporkan Reuters dan Investing dari San Francisco. Seperti dilansir reuters di Jakarta, Sabtu 21 Maret 2026.
Pergerakan pasar tak bisa dilepaskan dari pernyataan Ketua Federal Reserve, Jerome Powell. Ia menegaskan bahwa prospek ekonomi global masih diliputi ketidakpastian yang kompleks. Eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran menjadi faktor pemicu utama, yang mendorong lonjakan harga energi sekaligus memperbesar tekanan inflasi. Di tengah situasi tersebut, The Fed memilih mempertahankan suku bunga acuannya, sesuai dengan ekspektasi pasar.
Mengacu pada FedWatch Tool dari CME Group, peluang pemangkasan suku bunga sebelum pertengahan 2027 kini semakin menipis, mencerminkan perubahan ekspektasi yang cukup signifikan di kalangan pelaku pasar.
Sikap kehati-hatian juga ditunjukkan bank sentral lain. Bank of England dan European Central Bank mengambil langkah serupa dengan menahan suku bunga, sembari menggarisbawahi ketidakpastian global yang meningkat akibat konflik di kawasan Timur Tengah.
Head of Research and Quantitative Strategies Horizon Investments, Mike Dickson, menilai pasar sedang berada dalam fase rekalibrasi. Investor, menurutnya, mulai menyadari bahwa ancaman inflasi bukan sekadar wacana, melainkan risiko konkret yang harus diperhitungkan secara serius.
Harga minyak Brent sempat melonjak hingga USD119 per barel setelah serangan Iran terhadap fasilitas energi di kawasan tersebut. Namun, lonjakan itu tidak berlangsung lama. Harga berangsur turun setelah pemerintah Amerika Serikat mengambil langkah intervensi untuk menambah pasokan energi.
Tekanan sektoral terlihat jelas, terutama pada saham teknologi dan otomotif. Micron Technology merosot 3,8 persen setelah proyeksi kinerja kuartalannya gagal memenuhi ekspektasi, meskipun sebelumnya saham ini sempat melonjak lebih dari 50 persen sepanjang tahun berkat dorongan permintaan teknologi kecerdasan buatan.
Nvidia, yang kini menjadi perusahaan dengan valuasi pasar terbesar di dunia, turut melemah 1 persen. Di sisi lain, Tesla turun 3,2 persen setelah National Highway Traffic Safety Administration memperluas investigasi terhadap sekitar 3,2 juta kendaraan yang mengusung fitur Full Self-Driving, yang diduga memiliki keterbatasan dalam mendeteksi kondisi berisiko, khususnya dalam situasi visibilitas rendah.
Dari 11 sektor utama dalam S&P 500, delapan sektor ditutup melemah. Sektor material mencatat penurunan paling tajam sebesar 1,55 persen, diikuti sektor consumer discretionary yang turun 0,87 persen.
Secara teknikal, ketiga indeks utama—S&P 500, Nasdaq, dan Dow Jones—bergerak di bawah rata-rata pergerakan 200 hari (MA200), mengindikasikan pelemahan tren jangka menengah. Sepanjang 2026, S&P 500 telah terkoreksi lebih dari 3 persen dan kini berada di titik terendah dalam empat bulan terakhir.
Sektor pertambangan juga tak luput dari tekanan. Penurunan harga logam mulia menyeret saham Newmont turun 6,9 persen, sementara Freeport-McMoRan melemah 3,3 persen.
Di sisi lain, data makroekonomi memberikan sinyal yang relatif positif. Klaim tunjangan pengangguran mingguan di Amerika Serikat justru menurun di luar ekspektasi, mencerminkan ketahanan pasar tenaga kerja serta membuka peluang perbaikan pertumbuhan lapangan kerja pada Maret.
Secara keseluruhan, jumlah saham yang mengalami penurunan lebih banyak dibandingkan yang menguat di dalam indeks S&P 500, dengan rasio 1,4 berbanding satu.
Indeks S&P 500 mencatat 17 rekor tertinggi baru dan 26 rekor terendah baru. Nasdaq bahkan membukukan 30 rekor tertinggi baru, namun di saat yang sama mencatat 276 rekor terendah baru—sebuah indikasi volatilitas yang semakin intens.
Volume perdagangan di Wall Street mencapai sekitar 20 miliar saham, relatif sejalan dengan rata-rata volume dalam 20 sesi perdagangan terakhir.(*)