KABARBURSA.COM - Aksi akumulasi saham PT Bukit Asam Tbk (PTBA) masih terjadi di tengah penurunan laba bersih perusahaan pada tahun buku 2025.
Sejak PTBA mempublikasikan laporan keuangan 2025 pada 31 Maret 2026, pasar masih bereaksi positif dengan membeli saham emiten batu bara ini.
Merujuk data perdagangan Stockbit, berdasarkan data broker summary periode 31 Maret hingga 2 April 2026, broker BB tercatat menjadi pembeli terbesar dengan nilai transaksi mencapai Rp25,3 miliar.
Di posisi kedua terdapat broker PP yang membeli saham PTBA sebesar Rp22 miliar dan SQ senilai Rp7,5 miliar. Aktivitas akumulasi juga terlihat dari broker XL yang mencatatkan frekuensi transaksi tinggi mencapai 14,6 ribu kali dengan nilai Rp6,2 miliar.
Broker lainnya seperti BK dan NI juga turut membukukan pembelian masing-masing sebesar Rp5,3 miliar dan Rp4,1 miliar.
Adapun harga rata-rata pembelian oleh broker-broker tersebut berada di kisaran Rp2.968 hingga Rp3.192 per saham.
Di sisi lain, tekanan jual masih terlihat dari sejumlah broker seperti CC dengan nilai penjualan Rp19,6 miliar dan AK sebesar Rp18,1 miliar. Aksi distribusi juga datang dari broker PD, DR, dan KK dengan nilai masing-masing mencapai Rp8,9 miliar, Rp7,9 miliar, dan Rp7,6 miliar.
Adapun pada perdagangan terakhir atau Kamis, 2 April 2026, saham PTBA ditutup melemah sebesar 2,35 persen atau turun 70 poin ke level Rp2.910.
Laba Turun
PTBA meraup laba bersih sebesar Rp2,93 triliun pada tahun buku 2025. Angka ini turun dibanding tahun sebelumnya yang senilai Rp5,10 triliun.
Merujuk laporan keuangan yang dipublikasikan, pendapatan PTBA di 2025 tercatat sebesar Rp42,65 triliun, sedikit menurun dari Rp42,76 trliun pada tahun 2024. Penurunan tipis ini terjadi saat beban pokok pendapatan justru meningkat menjadi Rp36,39 triliun dari Rp34,56 triliun.
Kondisi tersebut menekan laba bruto emiten batu bara ini menjadi Rp6,25 triliun atau turun dibanding tahun 2024 yang sebesar Rp8,20 triliun.
Dari sisi neraca, total aset PTBA meningkat menjadi Rp43,91 triliun pada akhir 2025, dibandingkan Rp41,78 triliun pada 2024. Kenaikan ini terutama ditopang oleh pertumbuhan aset tetap yang naik menjadi Rp11,18 triliun dari Rp8,73 triliun serta investasi pada entitas asosiasi dan ventura bersama sebesar Rp9,62 triliun.
Total liabilitas juga meningkat menjadi Rp21,30 triliun dari Rp19,14 triliun. Kenaikan ini didorong oleh liabilitas jangka panjang yang naik menjadi Rp8,57 triliun dari Rp7,16 triliun.
Sementara itu, ekuitas relatif stabil di kisaran Rp22,61 triliun, sedikit turun dari Rp22,64 triliun. Penurunan ini terjadi seiring pembagian dividen sebesar Rp3,82 triliun selama tahun berjalan.
Dari sisi arus kas, aktivitas operasi menghasilkan kas sebesar Rp6,26 triliun, meningkat dari Rp5,04 triliun pada tahun sebelumnya. Namun, arus kas investasi tercatat negatif Rp3,40 triliun, sementara arus kas sebesar Rp2,52 triliun. (*)