Logo
>

Laba Grup MAP Melonjak, tapi Risiko Daya Beli Jadi Bayang-bayang Kinerja

Laba grup MAP melonjak di 2025, namun risiko pelemahan daya beli dan tekanan rupiah mulai membayangi kinerja ke depan.

Ditulis oleh Moh. Alpin Pulungan
Laba Grup MAP Melonjak, tapi Risiko Daya Beli Jadi Bayang-bayang Kinerja
Laba grup MAP melonjak di 2025, namun risiko pelemahan daya beli dan tekanan rupiah mulai membayangi kinerja ke depan. Foto: Dok. MAP

KABARBURSA.COM — Kinerja emiten ritel grup MAP sepanjang 2025 mencatat lonjakan signifikan dan melampaui ekspektasi pasar. Namun, di balik pertumbuhan tersebut, mulai muncul risiko dari sisi daya beli konsumen.

Tim Riset Stockbit Sekuritas menilai momentum jangka pendek masih akan terjaga. “Kinerja grup MAP pada 1Q26 kemungkinan mendapat dukungan dari seasonality libur Lebaran,” tulis Tim Riset Stockbit Sekuritas dalam risetnya yang dirilis Rabu, 1 April 2026.

Meski demikian, tekanan eksternal mulai menjadi perhatian. Pelemahan nilai tukar rupiah dinilai berpotensi menggerus daya beli, terutama pada segmen konsumen menengah ke atas yang menjadi tulang punggung penjualan grup MAP. Kondisi ini membuka ruang risiko terhadap keberlanjutan pertumbuhan, meski kinerja saat ini masih terjaga.

“Investor perlu mempertimbangkan risiko pelemahan rupiah yang cenderung menekan consumer confidence segmen menengah ke atas. Segmen tersebut merupakan basis utama konsumen grup MAP, sehingga perubahan daya beli berpotensi memengaruhi kinerja ke depan,” tulis Tim Riset Stockbit Sekuritas.

Laba Lampaui Ekspektasi

Dari sisi kinerja, dua entitas utama—PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) dan PT MAP Aktif Adiperkasa Tbk (MAPA)—mencatat hasil di atas konsensus. MAPI membukukan laba bersih Rp856 miliar pada kuartal IV 2025, naik 83 persen secara tahunan dan 107 persen secara kuartalan. Sepanjang tahun, laba bersih mencapai Rp2,2 triliun atau tumbuh 26 persen.

Sementara itu, MAPA mencatat laba bersih Rp559 miliar pada kuartal IV 2025, melonjak 121 persen secara tahunan. Sepanjang tahun, laba mencapai Rp1,72 triliun atau naik 27 persen. Kinerja tersebut melampaui ekspektasi pasar.

“Laba bersih selama 2025 mencapai Rp2,2 T (+26 persen YoY), melampaui ekspektasi (114% estimasi 2025F konsensus),” tulis Tim Riset Stockbit Sekuritas.

Untuk MAPA, capaian serupa juga terjadi. “Laba bersih selama 2025 mencapai Rp1,72 T (+27 persen YoY), juga melampaui ekspektasi (115 persen estimasi 2025F konsensus),” lanjut mereka.

Dari sisi pendapatan, MAPI mencatat pertumbuhan solid pada kuartal IV 2025. “Pendapatan MAPI tumbuh solid pada 4Q25 menjadi Rp13,1 T (+28% YoY, +25% QoQ),” tulis Tim Riset Stockbit Sekuritas.

Pertumbuhan tersebut didorong oleh tiga segmen utama, terutama fashion dan digital yang melonjak tajam. “Pertumbuhan kuat pada segmen ‘fashion & digital’ didukung oleh peluncuran seri iPhone 17,” tulis mereka.

Selain itu, segmen active melalui MAPA juga mencatat kontribusi signifikan. “Pendapatan segmen ‘active’ melalui MAPA tumbuh menjadi Rp5,34 T pada 4Q25,” tulis mereka.

Secara kumulatif, kinerja tahunan juga tetap kuat. “Pendapatan MAPI selama 2025 mencapai Rp43,1 T (+14 persen YoY), sedikit melampaui ekspektasi,” lanjut laporan tersebut.

Pemulihan konsumsi tercermin dari perbaikan same store sales growth (SSSG). “Pemulihan SSSG sendiri telah tampak sejak 2Q25, dengan akselerasi yang signifikan pada 4Q25,” tulis Tim Riset Stockbit Sekuritas.

Pada kuartal IV, MAPI mencatat SSSG 7,9 persen, berbalik dari kontraksi pada kuartal sebelumnya. MAPA dan MAPB juga mencatat perbaikan. Ekspansi bisnis turut berlanjut. “Secara grup, MAP menambah 146 toko (net) pada 4Q25,” tulis mereka, sehingga total gerai mencapai lebih dari 4.000 unit.

Margin Menguat dan Efisiensi Terjaga

Lonjakan laba tidak hanya didorong oleh pertumbuhan penjualan, tetapi juga perbaikan margin. Di MAPA, margin laba kotor meningkat signifikan. “Margin laba kotor pada 4Q25 naik ke 48,3 persen,” tulis laporan tersebut.

Sementara di MAPI, efisiensi operasional mulai terlihat. “Ekspansi margin lebih terlihat di margin laba usaha yang naik ke 11,5%,” tulis mereka.

Kondisi ini mencerminkan adanya operating leverage, di mana pertumbuhan biaya lebih terkendali dibandingkan pertumbuhan pendapatan. Pasca rilis kinerja, saham MAPI naik 3,88 persen ke Rp1.205 per saham, sementara MAPA stagnan di Rp625.

Dari sisi valuasi, keduanya masih berada di bawah rata-rata historis. Namun, fokus investor mulai bergeser ke risiko eksternal. “Investor perlu mempertimbangkan risiko pelemahan rupiah,” tulis Tim Riset Stockbit Sekuritas, menegaskan bahwa tekanan terhadap daya beli bisa menjadi faktor penentu ke depan.

Dengan demikian, kinerja kuat sepanjang 2025 menjadi fondasi penting. Namun, keberlanjutan pertumbuhan grup MAP akan sangat bergantung pada ketahanan konsumsi domestik, khususnya segmen menengah ke atas.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Moh. Alpin Pulungan

Asisten Redaktur KabarBursa.com. Jurnalis yang telah berkecimpung di dunia media sejak 2020. Pengalamannya mencakup peliputan isu-isu politik di DPR RI, dinamika hukum dan kriminal di Polda Metro Jaya, hingga kebijakan ekonomi di berbagai instansi pemerintah. Pernah bekerja di sejumlah media nasional dan turut terlibat dalam liputan khusus Ada TNI di Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Subianto di Desk Ekonomi Majalah Tempo.

Lulusan Sarjana Hukum Universitas Pamulang. Memiliki minat mendalam pada isu Energi Baru Terbarukan dan aktif dalam diskusi komunitas saham Mikirduit. Selain itu, ia juga merupakan alumni Jurnalisme Sastrawi Yayasan Pantau (2022).