KABARBURSA.COM – PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) mencatat pertumbuhan penjualan dan laba bersih pada kuartal I 2026. Namun, kinerja laba usaha justru mengalami penurunan di tengah tekanan operasional.
Direktur Utama dan CEO Indofood Anthoni Salim menyampaikan kinerja perusahaan tetap terjaga di tengah dinamika global.
“Di tengah meningkatnya konflik geopolitik, Indofood tetap dapat mempertahankan kinerjanya di kuartal pertama tahun ini. Kami akan terus fokus pada pertumbuhan yang berkelanjutan, tetap menjaga keseimbangan antara pangsa pasar dan tingkat profitabilitas, serta mempertahankan posisi neraca yang sehat,” ujarnya dalam siaran pers dikutip, Senin, 4 Mei 2026.
Pada periode tiga bulan yang berakhir 31 Maret 2026, INDF membukukan penjualan neto konsolidasi sebesar Rp33,89 triliun. Angka ini meningkat 7 persen dibandingkan Rp31,56 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Dari sisi profitabilitas, laba usaha tercatat sebesar Rp6,53 triliun atau turun 6 persen dari Rp6,92 triliun. Penurunan ini terutama disebabkan oleh lebih rendahnya laba selisih kurs dari aktivitas operasional.
Meski demikian, laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk meningkat 9 persen menjadi Rp2,96 triliun dari Rp2,72 triliun. Kenaikan ini menunjukkan perbaikan pada bottom line di tengah tekanan operasional.
Margin laba usaha tercatat tetap berada di level 19,3 persen. Angka ini mencerminkan kemampuan perusahaan menjaga efisiensi di tengah kondisi biaya yang berfluktuasi.
Kinerja ini mencerminkan dinamika bisnis Indofood yang tetap bertumbuh di sisi pendapatan, namun menghadapi tekanan pada komponen laba usaha. Perusahaan tetap menjaga keseimbangan antara ekspansi bisnis dan stabilitas keuangan.
Begini Performa Saham INDF
Pergerakan saham INDF sepanjang tahun berjalan menunjukkan volatilitas dengan kecenderungan melemah. Secara year to date (ytd), harga saham berada di kisaran 6.750 atau turun sekitar 0,37 persen.
Grafik pergerakan menunjukkan saham sempat turun ke level sekitar 6.000 pada Maret sebelum kembali menguat ke area 7.000 pada April. Namun, penguatan tersebut belum mampu mengembalikan posisi ke level awal tahun.
Dalam satu tahun terakhir, saham INDF tercatat turun sekitar 10 persen. Tekanan ini mencerminkan dinamika pasar terhadap sektor konsumsi serta kondisi makro yang memengaruhi sentimen investor.
Pada perdagangan harian terakhir, saham INDF ditutup di level 6.750 atau turun sekitar 1,46 persen. Pergerakan intraday cenderung melemah dengan tekanan jual yang masih terlihat.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.