KABARBURSA.COM - Kinerja keuangan PT Gowa Makassar Tourism Development Tbk, berkode saham GMTD, pada kuartal III-2025 menunjukkan adanya perlambatan yang cukup tajam, terutama jika dilihat dari sisi profitabilitas, meskipun secara struktur neraca perseroan masih relatif terjaga.
Penurunan paling mencolok terlihat pada laba bersih. GMTD hanya membukukan laba Rp37,0 miliar pada kuartal III-2025, anjlok signifikan dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar Rp101,2 miliar.
Dengan laba per saham Rp36,98, kinerja ini langsung berdampak pada persepsi valuasi, terutama karena harga saham berada di level 3.010, yang membuat PER melonjak ke kisaran 81,40 kali. Angka ini tergolong sangat mahal untuk emiten properti dan pariwisata, apalagi di tengah tren laba yang menurun.
Dari sisi pendapatan, revenue GMTD tercatat Rp224,6 miliar dengan laba kotor Rp110,3 miliar. Secara margin kotor, performa ini sebenarnya masih cukup solid, karena menunjukkan kemampuan menjaga gross margin di level yang sehat.
Namun, tekanan mulai terasa di level operasional. Laba usaha hanya Rp39,1 miliar, hampir sejalan dengan laba bersih Rp37,0 miliar, yang mengindikasikan ruang laba setelah operasional semakin tipis dibanding tahun sebelumnya.
EBITDA sebesar Rp42,6 miliar memberi gambaran bahwa arus kas operasional masih positif, tetapi skalanya relatif kecil jika dibandingkan dengan struktur utang perseroan. Total utang GMTD mencapai Rp493,4 miliar, terdiri dari utang jangka pendek Rp170,4 miliar dan utang jangka panjang Rp323,0 miliar.
Dengan kas hanya Rp101,6 miliar, posisi likuiditas memang masih aman untuk operasional harian, tetapi tidak tergolong longgar.
Rasio Debt to Equity di level 0,57 dan Debt to Total Capital 0,36 menunjukkan bahwa struktur permodalan GMTD masih terkendali dan belum memasuki zona berbahaya. Namun, ketika diuji dengan kemampuan menghasilkan laba, mulai muncul catatan penting.
Rasio Debt to EBITDA yang mencapai 11,57 kali tergolong tinggi, menandakan bahwa dibutuhkan waktu yang panjang bagi GMTD untuk melunasi seluruh utangnya hanya dari EBITDA saat ini. Ini bukan sinyal distress, tetapi jelas menjadi sinyal kehati-hatian, terutama jika pertumbuhan EBITDA tidak segera membaik.
Di sisi lain, kemampuan membayar bunga masih sangat kuat. Beban bunga hanya Rp1,8 miliar, sementara EBITDA mencapai Rp42,6 miliar, menghasilkan rasio EBITDA terhadap beban bunga sebesar 23,32 kali.
Angka ini menunjukkan bahwa risiko gagal bayar bunga hampir tidak ada dalam jangka pendek. Artinya, tekanan GMTD saat ini bukan pada likuiditas atau kewajiban keuangan, melainkan pada pelemahan profitabilitas.
Return on Assets dan Return on Equity masing-masing berada di level 2,72 persen dan 4,28 persen. Ini tergolong rendah dan mengonfirmasi bahwa aset dan ekuitas yang cukup besar belum mampu dikonversi menjadi laba secara optimal. Dengan total aset Rp1,36 triliun dan ekuitas Rp863,8 miliar, efisiensi penggunaan modal menjadi pekerjaan rumah utama bagi manajemen.
Dari sudut pandang valuasi, rasio PBV 3,54 kali menunjukkan bahwa pasar masih memberikan premi cukup tinggi terhadap nilai buku GMTD, yang tercermin dari BVPS Rp850,71. Premi ini hanya akan rasional jika investor percaya pada pemulihan kinerja dan potensi proyek jangka panjang perseroan.
Namun, dengan EV/EBITDA di kisaran 80,88 kali, pasar tampak sedang membayar harga yang mahal untuk EBITDA yang relatif kecil saat ini.
Secara keseluruhan, laporan keuangan GMTD kuartal III-2025 memperlihatkan perusahaan yang masih sehat secara neraca dan likuiditas, tetapi sedang mengalami tekanan nyata pada sisi laba. Tidak ada sinyal krisis atau distress, namun ada ketidakseimbangan antara valuasi pasar dan kinerja fundamental jangka pendek.
Ke depan, sentimen terhadap GMTD akan sangat ditentukan oleh kemampuan perseroan meningkatkan kembali pendapatan dan EBITDA, karena tanpa perbaikan di sisi itu, ruang pembenaran valuasi tinggi akan semakin menyempit.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.