Logo
>

Melihat Prospek Kinerja PT Timah (TINS) di Kuartal II 2025

Pada 2023, Indonesia memproduksi 2,02 juta ton nikel olahan, yang setara dengan 57 persen produksi global. Angka ini pun meningkat menjadi 2,38 juta ton pada 2024, mewakili 62 persen dari pangsa pasar global.

Ditulis oleh Hutama Prayoga
Melihat Prospek Kinerja PT Timah (TINS) di Kuartal II 2025
Produksi timah PT Timah Tbk. (Foto: Dokumentasi TINS)

KABARBURSA.COM - Prospek kinerja PT Timah Tbk atau TINS pada kuartal II 2025 diperkirakan masih akan tergantung dengan China yang merupakan pemain utama nikel dunia. 

Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan, proyeksi kinerja TINS di kuartal II bisa dilihat dari pemulihan ekonomi China. Sebab, negara dengan julukan Negeri Tirai Bambu ini merupakan penggerak global nikel demand. 

Nafan melihat ekonomi China mulai menunjukkan perbaikan. Hal ini tidak lepas dari kebijakan-kebijakan pelonggaran moneter di negara tersebut. 

"Sehingga, itu bisa berdampak positif pada economic recovery dari Tiongkok. Nah ini benefit untuk nikel," kata Nafan kepada KabarBursa.com, Rabu, 21 Mei 2025.

Seperti diberitakan KabarBursa.com sebelumnya, pada 2022, Indonesia memproduksi 1,6 juta ton nikel olahan, meningkat dari 1,04 juta ton pada 2021. 

Pada 2023, Indonesia memproduksi 2,02 juta ton nikel olahan, yang setara dengan 57 persen produksi global. Angka ini pun meningkat menjadi 2,38 juta ton pada 2024, mewakili 62 persen dari pangsa pasar global. 

Dua perusahaan China, Tsingshan Holding Group dan Jiangsu Delong Nickel Industry Co Ltd, menyumbang lebih dari 70 persen kapasistas pemurnian nikel di Indonesia. 

Selain itu, produsen nikel China lainnya, CNGR Advanced Materials Co, Ltd, berencana menginvestasikan sekitar Rp168,2 triliun di Indonesia dalam 20 tahun ke depan.

Di sisi lain, Nafan memprediksi TINS juga akan menghadapi sejumlah tantangan di kuartal II 2025, seperti dinamika perlambatan kebutuhan ekonomi global. 

"Dinamika trade segmentation ya, tapi kalau misal trade segmentation mereda, saya pikir ini juga bisa mendapatkan benefit," jelasnya. 

Dari domestik, lanjut Nafan, rintangan yang bakal dihadapi TINS adalah terkait dengan program hirilisasi yang saat ini masih berjalan. 

"Ini kan program jangka panjang, mudah-mudahan saja tidak terhambat prosesnya, sehingga bisa menikahkan added value daripada TINS," ujar dia. 

Punya Cadangan 807 Ribu Ton untuk 20 Tahun

Diberitakan sebelumnya, TINS memastikan keberlangsungan operasionalnya hingga dua dekade mendatang dengan cadangan timah yang saat ini mencapai 807 ribu ton. 

Jumlah tersebut dinilai cukup untuk menopang aktivitas penambangan hingga 20 tahun ke depan, sekaligus memperkuat posisi perusahaan sebagai pemain utama dalam rantai pasok mineral global.

Direktur Utama TINS Restu Widiyantoro, mengatakan pihaknya terus memperbarui estimasi cadangan melalui kegiatan eksplorasi. 

“Cadangan timah kami saat ini masih berada di angka 807 ribu ton. Itu cukup sebagai bekal menambang selama 20 tahun, dan tentu akan terus kami update melalui survei-survei untuk penemuan cadangan baru,” kata Restu dalam rapat bersama Komisi VI DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta Pusat, Rabu, 14 Mei 2025.

Restu memaparkan, sebanyak 65 persen saham TINS saat ini dikuasai negara melalui MIND ID, sementara 35 persen lainnya tercatat sebagai milik publik lewat mekanisme bursa. Ia menegaskan, komposisi tersebut menuntut perseroan untuk menjalankan setiap proses bisnis dengan tata kelola yang baik dan akuntabilitas tinggi.

Dia juga merinci alur utama proses penambangan timah yang dijalankan perseroan. Proses tersebut meliputi tahapan eksplorasi, penambangan, pengolahan, hingga peleburan logam timah siap jual. Seluruh proses tersebut, menurutnya, harus dibarengi dengan kepatuhan terhadap regulasi lingkungan, khususnya pelaksanaan pascatambang.

“Setiap tahapan penambangan, baik di darat maupun laut, wajib dilengkapi dengan kegiatan reklamasi dan revegetasi. Ini komitmen kami untuk menjaga kelestarian lingkungan hidup,” katanya.

Dirut mengklaim pengelolaan pasca-tambang menjadi prioritas perusahaan, terlebih karena sebagian besar Izin Usaha Pertambangan (IUP) PT Timah Tbk mencakup wilayah laut dan darat yang cukup luas.

Meski memiliki cadangan besar, Restu mengakui dua aspek penting yang masih menjadi tantangan TINS saat ini adalah penguatan sumber daya manusia (SDM) dan optimalisasi kerja sama antar wilayah operasional.

“Wilayah kerja dan SDM yang ada masih terlalu kecil untuk mendukung potensi besar yang dimiliki PT Timah. Ini akan menjadi prioritas perbaikan kami ke depan,” ungkapnya.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Hutama Prayoga

Hutama Prayoga telah meniti karier di dunia jurnalistik sejak 2019. Pada 2024, pria yang akrab disapa Yoga ini mulai fokus di desk ekonomi dan kini bertanggung jawab dalam peliputan berita seputar pasar modal.

Sebagai jurnalis, Yoga berkomitmen untuk menyajikan berita akurat, berimbang, dan berbasis data yang dihimpun dengan cermat. Prinsip jurnalistik yang dipegang memastikan bahwa setiap informasi yang disajikan tidak hanya faktual tetapi juga relevan bagi pembaca.