KABARBURSA.COM - Proses merger PT Bank MNC Internasional Tbk (BABP) dan PT Bank Nationalnobu Tbk (NOBU) mengalami keterlambatan. Pada awalnya, merger ini ditargetkan selesai pada Agustus 2023 namun hingga semester kedua tahun ini belum ada tanda-tanda aksi korporasi tersebut akan rampung.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae, mengatakan bahwa proses merger kedua bank tersebut masih tetap berlanjut meskipun molor dari target yang ditetapkan. Dian sebelumnya pernah menyatakan bahwa merger Bank MNC dan Nobu bisa selesai bulan lalu.
"Namun perlu disadari bahwa untuk menyatukan dua bank yang memiliki karakteristik bisnis dan budaya perusahaan yang berbeda perlu dilakukan secara berhati-hati dan tidak tergesa-gesa agar nantinya menghasilkan bank yang sehat dan mampu berkembang secara berkelanjutan pasca merger," ujar Dian dalam keterangannya, Selasa, 16 Juli 2024.
Meskipun ada keterlambatan, OJK memastikan bahwa proses merger kedua bank milik Hary Tanoesoedibjo dan James Riady, akan tetap terlaksana. Komitmen kedua pihak untuk melanjutkan proses tersebut tercermin dari transaksi cross ownership antara kedua grup usaha masing-masing sebesar 10 persen beberapa waktu lalu, yang bertujuan memuluskan jalan menuju merger.
Berdasarkan data KSEI per 8 Mei 2024, entitas usaha MNC Grup PT MNC Land Tbk. (KPIG) tercatat melepas sebanyak 4,44 miliar saham BABP atau sebesar 6,82 persen. Saham tersebut berpindah ke entitas usaha Grup Lippo, PT Prima Cakrawala Sentosa, menjadi kepemilikan saham BABP perdananya. Sementara itu, Prima Cakrawala Sentosa melepas 747,84 juta saham NOBU atau sebesar 10 persen, yang berpindah ke KPIG.
Dian juga menekankan bahwa menyatukan dua bank dengan karakteristik bisnis dan budaya perusahaan yang berbeda harus dilakukan dengan hati-hati agar menghasilkan bank yang sehat dan mampu berkembang secara berkelanjutan pasca merger.
"Apalagi secara individual kondisi dan kinerja kedua bank saat ini masih relatif baik dengan permodalan yang sudah di atas ketentuan minimum," tambahnya.
OJK juga belum atau tidak menetapkan batas waktu tertentu yang rigid untuk proses merger ini. "Tetapi tentunya akan mendiskusikan kerangka waktunya dengan manajemen dan PSP kedua bank," tutup Dian.
Lamanya proses merger ini sempat memicu kabar mengenai batalnya aksi korporasi tersebut. Salah satu penyebabnya adalah kedua bank sudah memenuhi ketentuan modal inti minimum. Selain itu, kedua pemilik dikabarkan menemui jalan buntu saat mendiskusikan siapa yang akan menjadi pengendali bank pasca-merger.
Kendati demikian, OJK akan terus melakukan koordinasi untuk memastikan pemenuhan komitmen pemegang saham pengendali kedua bank.
“Proses merger ini merupakan inisiatif kedua bank dan menjadi komitmen mereka,” kata Dian dalam Rapat Dewan Komisioner OJK.
Transaksi Jumbo April 2024
Telah terjadi transaksi negosiasi bernilai jumbo pada Selasa, 30 April 2024, melibatkan dua emiten perbankan milik konglomerat terkemuka Indonesia. Transaksi ini melibatkan saham PT Bank MNC International Tbk. (BABP) atau MNC Bank milik Grup MNC dan PT Bank Nationalnobu Tbk. (NOBU) atau Nobu Bank milik Grup Lippo.
Transaksi Crossing MNC Bank (BABP)
Transaksi crossing pada saham BABP difasilitasi oleh MNC Sekuritas dengan volume transaksi sebanyak 44 juta lot saham. Harga pembeliannya berada di premium, yaitu sebesar Rp126, atau 150 persen di atas harga saham di pasar reguler. Nilai transaksi mencapai Rp560 miliar. Pada hari tersebut, saham BABP ditutup stagnan di harga Rp50 per saham.
Transaksi Crossing Nobu Bank (NOBU)
Sementara itu, transaksi crossing pada saham NOBU difasilitasi oleh Ciptadana Sekuritas dengan volume transaksi sebanyak 7 juta lot saham. Harga pembelian ditetapkan sebesar Rp749, memberikan diskon sebesar 14,47 persen. Total nilai transaksi mencapai Rp560 miliar. Pada hari tersebut, saham NOBU ditutup naik 2,01 persen ke harga Rp760 per saham.
Transaksi besar ini menunjukkan pergerakan signifikan di pasar perbankan, terutama yang melibatkan grup-grup besar seperti MNC dan Lippo. Pembelian premium pada saham MNC Bank mencerminkan keyakinan kuat pada potensi pertumbuhan bank ini, sementara diskon pada transaksi Nobu Bank mungkin menunjukkan strategi akumulasi dengan harga yang lebih menguntungkan. Pergerakan harga saham yang stagnan dan sedikit naik menunjukkan bahwa pasar sedang mencerna dampak dari transaksi besar ini.
Para investor perlu memonitor perkembangan lebih lanjut dari kedua emiten ini, karena transaksi besar semacam ini bisa menjadi indikasi perubahan strategi bisnis atau penguatan posisi dari kedua bank tersebut di industri perbankan Indonesia.
Saat ini, MNC Bank dan Nobu Bank sedang dalam proses merger. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada Maret 2023 mengumumkan bahwa kedua bank tersebut harus berkonsolidasi karena belum memenuhi ketentuan modal inti Rp3 triliun. Dian Ediana Rae, memberikan target penyelesaian merger pada bulan Juni mendatang.
Akuisisi oleh Hanwha Life Insurance
Di tengah proses merger, muncul kabar bahwa perusahaan asuransi Korea Selatan, Hanwha Life Insurance, sepakat untuk mengakuisisi 40 persen saham NOBU. Hanwha Life, yang fokusnya pada layanan asuransi, berencana menjajaki sektor perbankan di Asia Tenggara. Setelah pembelian selesai, Hanwha Life akan menjadi perusahaan asuransi pertama di Korea yang menjalankan bisnis perbankan di luar negeri.
Hanwha Life dan anak perusahaannya, Hanwha General Insurance, sebelumnya mengakuisisi 62,6 persen saham gabungan di Lippo General Insurance pada Maret tahun lalu. Langkah ini memperkuat pijakan Hanwha di Indonesia melalui kemitraan dengan Grup Lippo.
Terkait rencana masuknya Hanwha ke NOBU, Dian menyatakan bahwa otoritas belum menerima pengajuan resmi atas rencana perusahaan asuransi Korea Selatan tersebut.(yub/nil)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.