KABARBURSA.COM — Harga minyak dunia bergerak volatil dalam beberapa hari terakhir di tengah eskalasi konflik Timur Tengah, dengan Brent bertahan di kisaran USD99,5-107 per barel dan WTI di level USD93,5–96 per barel.
Harga tersebut mencerminkan tingginya sensitivitas pasar terhadap risiko pasokan global. Dalam beberapa sesi perdagangan, harga bahkan sempat melonjak hingga menembus USD110–115 per barel sebelum kembali terkoreksi.
Lonjakan ini terjadi seiring meningkatnya ketegangan konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran, yang memicu kekhawatiran terhadap kelancaran distribusi energi.
Pasar menyoroti ancaman terhadap Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar 20 persen suplai minyak dunia. Risiko gangguan di titik ini dinilai menjadi faktor utama yang mendorong kenaikan harga dalam waktu singkat.
“Kontrak berjangka minyak mentah naik seiring Selat Hormuz tetap ditutup,” kata analis pasar energi, dikutip dari Reuters, 20 Maret 2025.
Selain jalur distribusi, tekanan juga datang dari laporan serangan terhadap fasilitas energi di kawasan Timur Tengah yang berpotensi mengganggu produksi dan distribusi minyak.
Kondisi ini membuat pergerakan harga menjadi sangat fluktuatif, dengan perubahan yang cepat mengikuti perkembangan situasi geopolitik.
Upaya untuk meredakan kekhawatiran pasar dinilai belum memberikan dampak signifikan.
Di tengah kondisi tersebut, pelaku pasar masih memperkirakan harga minyak bertahan di level tinggi dalam jangka pendek. “(Goldman Sachs) memperkirakan harga Brent akan berada di atas USD100 per barel pada Maret,” demikian proyeksi yang dikutip dari Reuters, 21 Maret 2026.
Secara keseluruhan, pergerakan harga minyak saat ini lebih dipengaruhi oleh faktor geopolitik dan risiko gangguan pasokan dibandingkan permintaan. Perkembangan konflik di Timur Tengah serta keamanan jalur distribusi utama tetap menjadi penentu utama arah harga dalam waktu dekat.(*)