KABARBURSA.COM — Pasar global mendadak goyah. Harga minyak dan gas melonjak tajam, sementara bursa saham di berbagai negara kompak terperosok. Pemicunya tak lain adalah serangan langsung ke jantung infrastruktur energi di Timur Tengah.
Iran menyerang fasilitas energi strategis di Qatar. Dampaknya pun langsung terasa di harga minyak dunia. Dilansir dari BBC, Jumat, 20 Maret 2026, harga minyak Brent melesat hingga di atas USD108 per barel atau sekitar Rp1,82 juta, bahkan sempat menyentuh USD119 atau setara Rp2,01 juta dalam satu hari.
Gas ikut memanas. Di Inggris, harga gas mencapai 154,8 pence per therm, naik 11,3 persen dari hari sebelumnya, dan sempat mendekati 183 pence. Lonjakan ini menandakan satu hal. Pasokan mulai terganggu, dan pasar tidak suka ketidakpastian.
Di tengah lonjakan energi, pasar saham justru melemah. Indeks FTSE 100 di Inggris ditutup di level 10.049, turun 256 poin atau 2,4 persen. Investor mulai menghitung risiko dari konflik yang berpotensi berkepanjangan. Di Jepang, indeks Nikkei jatuh 3,4 persen. Sementara di Amerika Serikat, tiga indeks utama juga ditutup melemah meski tidak sedalam pasar Asia.
Yang lebih mengkhawatirkan, pasar obligasi ikut terguncang. Imbal hasil obligasi pemerintah melonjak di Inggris dan negara lain, mencerminkan kekhawatiran inflasi yang kembali menguat..Lonjakan yield ini bukan sekadar angka teknis. Bagi masyarakat, dampaknya bisa langsung terasa ke sektor riil, terutama kredit perumahan. Ketika yield naik, bunga pinjaman ikut terdorong naik.
Gas Dunia Terpukul, Pasokan Terancam
Serangan Iran menghantam ladang gas South Pars, salah satu yang terbesar di dunia. Tak berhenti di situ, Iran membalas dengan menyerang fasilitas ekspor gas alam cair Ras Laffan di Qatar. Serangan itu disebut menyebabkan kerusakan luas dan memicu kekhawatiran gangguan pasokan global.
Perusahaan energi negara Qatar menyatakan perbaikan fasilitas tersebut akan memangkas produksi LNG sebesar 12,8 juta ton selama tiga hingga lima tahun. Mantan kepala strategi BP, Nick Butler, menilai dampaknya tidak main-main. “Hampir pasti akan memotong pasokan LNG ke pasar dunia,” katanya.
Ia juga mengingatkan bahwa situasi ini bisa semakin memburuk. “Saya pikir kekhawatiran sekarang adalah pasar memperkirakan keadaan akan semakin buruk. Dalam pandangan mereka, Trump telah membuka kotak Pandora, dan ia kehilangan kendali atas apa yang terjadi dari hari ke hari di kawasan.”
Butler menegaskan gas dari Ras Laffan tidak mudah digantikan. “Gas itu tidak bisa digantikan dengan cepat, bahkan mungkin tidak untuk waktu yang lama,” ujarnya.
Qatar, Iran, dan Jalur Energi Dunia
Ras Laffan memang bukan fasilitas biasa. Ini adalah salah satu pusat ekspor LNG terbesar di dunia. Qatar sendiri menyumbang sekitar seperlima pasokan LNG global.
Negara itu juga mengelola ladang gas yang sama dengan Iran, yang dikenal sebagai North Dome di sisi Qatar dan South Pars di sisi Iran.
Namun sejak Maret, Qatar sudah lebih dulu menghentikan sebagian produksi sebagai respons terhadap konflik. Artinya, pasokan global sudah dalam posisi rapuh bahkan sebelum serangan terjadi.
Ketegangan belum mereda. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan negaranya tidak akan menahan diri jika serangan kembali terjadi. “Satu-satunya alasan untuk menahan diri adalah menghormati permintaan de-eskalasi,” ujarnya.
Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim telah meminta Israel untuk tidak menyerang fasilitas energi Iran. Ia mengatakan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu setuju dengan permintaan tersebut.
Namun di balik itu, Amerika juga mulai memainkan kartu lain. Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyebut pemerintah sedang mempertimbangkan untuk menangguhkan sanksi minyak Iran.
Langkah ini bertujuan menahan kenaikan harga energi global. Sekitar 140 juta barel minyak Iran yang saat ini berada di laut bisa terdampak kebijakan tersebut.
Dunia saat ini mengonsumsi sekitar 100 juta barel minyak per hari. Di tengah kebutuhan sebesar itu, gangguan sekecil apa pun bisa langsung mengguncang harga. Iran bahkan dilaporkan menghentikan pasokan gas ke Irak demi menjaga kebutuhan dalam negeri. Data Gas Exporting Countries Forum menunjukkan sekitar 94 persen gas Iran digunakan untuk konsumsi domestik.
Situasi ini memperlihatkan satu kenyataan pahit. Ketika konflik menyasar energi, dampaknya tidak lagi regional. Ia langsung menjalar ke harga, inflasi, hingga dapur rumah tangga di berbagai negara.
Di tengah semua ini, pasar seperti sedang membaca satu sinyal yang sama. Ini bukan sekadar konflik biasa. Ini perang yang menyasar urat nadi energi dunia. Dan ketika energi terguncang, seluruh sistem ekonomi ikut bergetar.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.