KABARBURSA.COM - Sepanjang 2025, PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA) kembali terjerembap dalam pusaran kerugian. Emiten ritel ini membukukan rugi bersih sebesar Rp152,21 miliar, angka yang kian membengkak dibandingkan Tahun Buku 2024 yang tercatat Rp118,11 miliar. Laju penurunan ini menandai tekanan finansial yang belum mereda.
Berdasarkan laporan keuangan untuk periode yang berakhir 31 Desember 2025 dan dipublikasikan oleh PT Bursa Efek Indonesia pada Rabu 18 Februari 2026, entitas supermarket yang bernaung di bawah Lippo Group tersebut mengantongi pendapatan Rp7,25 triliun, tumbuh tipis 1,83 persen secara tahunan (year-on-year). Pertumbuhan ini terkesan moderat—sebuah kenaikan yang tidak sepenuhnya mampu menjadi katalis pemulihan.
Seiring ekspansi omzet, beban pokok pendapatan turut terdorong naik 1,53 persen (y-o-y). Dampaknya, laba bruto terkerek menjadi Rp1,27 triliun, meningkat 3,25 persen dibandingkan capaian 2024 sebesar Rp1,23 triliun. Namun, perbaikan di lini marjin kotor tersebut tak cukup kokoh menopang profitabilitas operasional.
Realitas berbicara lain. Laba usaha justru terperosok 23,11 persen (y-o-y) menjadi Rp26,08 miliar. Pemicunya jelas: lonjakan beban penjualan sebesar 8,68 persen menjadi Rp239,57 miliar, dari Rp220,43 miliar pada tahun sebelumnya. Struktur biaya yang menebal menjadi beban laten yang menggerus efisiensi.
Dalam rentang Januari hingga Desember 2025, rugi sebelum pajak tercatat Rp92,8 miliar—menyusut 3,21 persen dibandingkan periode serupa 2024 sebesar Rp95,88 miliar. Penurunan ini terutama ditopang oleh meredanya beban keuangan. Emiten yang berada di bawah kendali PT Multipolar Tbk (MLPL) tersebut sempat menunjukkan secercah perbaikan pada tahap pra-pajak.
Akan tetapi, tekanan fiskal tak terelakkan. Beban pajak penghasilan neto 2025 mencapai Rp59,39 miliar, sehingga rugi tahun berjalan membengkak menjadi Rp152,19 miliar—melonjak 28,85 persen (y-o-y). Rugi yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk pun tercatat Rp152,21 miliar, naik 28,87 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Angka-angka itu memantulkan realitas getir yang tak dapat disamarkan.
Konsekuensinya terasa pada neraca. Per 31 Desember 2025, defisit perseroan melebar menjadi Rp2,92 triliun, meningkat 5,8 persen dari posisi Rp2,76 triliun setahun sebelumnya. Pemburukan performa ini menyeret perseroan ke jurang defisiensi modal sebesar Rp2,24 triliun—berbanding terbalik dengan posisi akhir 2024 yang masih mencatatkan ekuitas positif Rp150,26 miliar.
Di sisi lain, total liabilitas hingga penghujung Desember 2025 mencapai Rp3,59 triliun, membengkak 5,28 persen (y-o-y). Kewajiban jangka pendek mendominasi dengan nilai Rp2,58 triliun, mencerminkan tekanan likuiditas jangka pendek yang signifikan.
Kenaikan liabilitas tersebut turut mengerek total aset menjadi Rp5,59 triliun atau naik tipis 0,84 persen (y-o-y). Namun, kas dan setara kas justru tereduksi menjadi Rp248,97 miliar—menyusut 2,55 persen dibandingkan posisi akhir 2024 sebesar Rp255,48 miliar. Likuiditas menipis, sementara tantangan struktural belum juga terselesaikan.(*)