KABARBURSA.COM — Harga nikel dunia tercatat melemah tipis pada perdagangan terakhir. Pelemahan ini terjadi seiring pelaku pasar logam dasar mencermati dinamika nilai tukar dolar AS, ketidakpastian kebijakan tarif global, serta perkembangan industri nikel di Indonesia.
Berdasarkan data London Metal Exchange (LME), harga nikel untuk kontrak tiga bulan (3-month) berada di level sekitar USD17.283 per ton pada penutupan perdagangan terakhir.
Harga tersebut turun sekitar USD67,67 atau 0,39 persen dibanding sesi sebelumnya yang berada di kisaran USD17.350,67 per ton. Data ini merupakan harga penutupan LME pada perdagangan 24 Februari 2026 yang tersedia secara publik dengan jeda waktu.
Pergerakan harga nikel juga mencerminkan dinamika yang terjadi di pasar logam dasar global. Pelemahan dolar AS disebut menjadi salah satu faktor yang memengaruhi sentimen di pasar komoditas logam.
Analis KCM Trade Tim Waterer mengatakan bahwa kompleks logam dasar mendapatkan dukungan dari pergerakan mata uang tersebut.
“Logam dasar diam-diam diuntungkan oleh putusan pengadilan soal tarif, tetapi itu terutama karena dolar melemah,” kata Waterer, dikutip dari laporan Reuters, 23 Februari 2026.
Selain faktor makroekonomi, kondisi likuiditas pasar juga memengaruhi pergerakan harga logam dalam beberapa sesi terakhir. Sejumlah pelaku pasar di Asia diketahui tidak aktif karena periode libur, sehingga aktivitas perdagangan menjadi lebih tipis.
Analis Panmure Liberum Tom Price mengatakan kondisi tersebut membuat arus modal di pasar logam menjadi terbatas.
“Mereka jarang meninggalkan modal besar di pasar,” ujar Price dalam laporan Reuters yang menyoroti dinamika perdagangan logam dasar, 23 Februari 2026.
Di sisi lain, perhatian pasar juga tertuju pada perkembangan industri nikel di Indonesia, yang merupakan produsen terbesar dunia.
Laporan Reuters menyebut pemerintah Indonesia tengah mempertimbangkan pencabutan izin lingkungan sebuah perusahaan nikel setelah insiden longsor fatal di kawasan industri Morowali.
Isu keselamatan dan kepatuhan lingkungan di pusat produksi nikel tersebut dinilai dapat menambah lapisan risiko terhadap pasokan global, sehingga tetap menjadi faktor yang dipantau oleh pelaku pasar komoditas logam.
Secara keseluruhan, pergerakan harga nikel dalam jangka pendek diperkirakan masih sensitif terhadap perubahan sentimen makro seperti pergerakan dolar AS, likuiditas pasar logam dasar, serta perkembangan kebijakan dan operasional di pusat produksi utama seperti Indonesia.(*)