Logo
>

Nikel Turun Tipis, Dolar dan Isu Morowali Jadi Sorotan

Harga nikel LME turun 0,39 persen ke USD17.283 per ton, pasar cermati dolar AS, likuiditas logam dasar, dan isu industri nikel Indonesia.

Ditulis oleh Citra Dara Vresti Trisna
Nikel Turun Tipis, Dolar dan Isu Morowali Jadi Sorotan
Ilustrasi penurunan harga nikel. Foto: dok KabarBursa.com.

KABARBURSA.COM — Harga nikel dunia tercatat melemah tipis pada perdagangan terakhir. Pelemahan ini terjadi seiring pelaku pasar logam dasar mencermati dinamika nilai tukar dolar AS, ketidakpastian kebijakan tarif global, serta perkembangan industri nikel di Indonesia.

Berdasarkan data London Metal Exchange (LME), harga nikel untuk kontrak tiga bulan (3-month) berada di level sekitar USD17.283 per ton pada penutupan perdagangan terakhir.

Harga tersebut turun sekitar USD67,67 atau 0,39 persen dibanding sesi sebelumnya yang berada di kisaran USD17.350,67 per ton. Data ini merupakan harga penutupan LME pada perdagangan 24 Februari 2026 yang tersedia secara publik dengan jeda waktu.

Pergerakan harga nikel juga mencerminkan dinamika yang terjadi di pasar logam dasar global. Pelemahan dolar AS disebut menjadi salah satu faktor yang memengaruhi sentimen di pasar komoditas logam.

Analis KCM Trade Tim Waterer mengatakan bahwa kompleks logam dasar mendapatkan dukungan dari pergerakan mata uang tersebut.

“Logam dasar diam-diam diuntungkan oleh putusan pengadilan soal tarif, tetapi itu terutama karena dolar melemah,” kata Waterer, dikutip dari laporan Reuters, 23 Februari 2026.

Selain faktor makroekonomi, kondisi likuiditas pasar juga memengaruhi pergerakan harga logam dalam beberapa sesi terakhir. Sejumlah pelaku pasar di Asia diketahui tidak aktif karena periode libur, sehingga aktivitas perdagangan menjadi lebih tipis.

Analis Panmure Liberum Tom Price mengatakan kondisi tersebut membuat arus modal di pasar logam menjadi terbatas.

“Mereka jarang meninggalkan modal besar di pasar,” ujar Price dalam laporan Reuters yang menyoroti dinamika perdagangan logam dasar, 23 Februari 2026.

Di sisi lain, perhatian pasar juga tertuju pada perkembangan industri nikel di Indonesia, yang merupakan produsen terbesar dunia.

Laporan Reuters menyebut pemerintah Indonesia tengah mempertimbangkan pencabutan izin lingkungan sebuah perusahaan nikel setelah insiden longsor fatal di kawasan industri Morowali.

Isu keselamatan dan kepatuhan lingkungan di pusat produksi nikel tersebut dinilai dapat menambah lapisan risiko terhadap pasokan global, sehingga tetap menjadi faktor yang dipantau oleh pelaku pasar komoditas logam.

Secara keseluruhan, pergerakan harga nikel dalam jangka pendek diperkirakan masih sensitif terhadap perubahan sentimen makro seperti pergerakan dolar AS, likuiditas pasar logam dasar, serta perkembangan kebijakan dan operasional di pusat produksi utama seperti Indonesia.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Citra Dara Vresti Trisna

Citra Dara Vresti Trisna adalah Asisten Redaktur KabarBursa.com yang memiliki spesialisasi dalam analisis saham dan dinamika pasar modal. Dengan ketelitian analitis dan pemahaman mendalam terhadap tren keuangan, ia berperan penting dalam memastikan setiap publikasi redaksi memiliki akurasi data, konteks riset, dan relevansi tinggi bagi investor serta pembaca profesional. Gaya kerjanya terukur, berstandar tinggi, dan berorientasi pada kualitas jurnalistik berbasis fakta.