Logo
>

Pembengkakan Rugi WIKA Diyakini Gara-gara Kereta Cepat

Ditulis oleh Syahrianto
Pembengkakan Rugi WIKA Diyakini Gara-gara Kereta Cepat

Poin Penting :

    KABARBURSA.COM - PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA), emiten konstruksi pelat merah, secara terbuka menyatakan bahwa proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung berkontribusi terhadap lonjakan kerugian perusahaan di tahun 2023.

    Direktur Utama WIKA, Agung Budi Waskito, menjelaskan bahwa ada dua faktor utama yang menyebabkan kerugian perusahaan mencapai Rp7,13 triliun, yaitu tingginya beban bunga dan beban operasional lainnya, termasuk kerugian dari PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI).

    Sebagai informasi, PSBI merupakan anak perusahaan PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI, yang memiliki 60 persen saham dalam PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC). WIKA, sebagai salah satu pemegang saham PSBI, memiliki kepemilikan saham sebesar 38 persen.

    "Beban bunga dan beban lain-lain, di antaranya mulai tahun 2022 kami sudah mencatat adanya kerugian dari PSBI atau kereta cepat yang tiap tahun juga cukup besar," ujar Agung saat Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi VI DPR RI.

    WIKA telah menggelontorkan dana signifikan untuk proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung. Perseroan telah menyumbangkan sekitar Rp6,1 triliun sebagai modal setoran ke PSBI dan masih memiliki dana sekitar Rp5,5 triliun yang masih dalam sengketa atau belum dibayar, sehingga totalnya mencapai hampir Rp12 triliun.

    Untuk memenuhi kebutuhan dana ini, WIKA terpaksa menerbitkan obligasi, yang kemudian meningkatkan beban keuangan perusahaan.

    "Dalam rangka memenuhi kebutuhan dana ini, WIKA harus mengambil pinjaman melalui penerbitan obligasi, terutama mengingat keterlibatan kami dalam bisnis properti yang memberikan kontribusi besar melalui Surat Hibah Lahan pada periode 2019 hingga 2022," tambah Agung.

    Kinerja Keuangan WIKA

    Sementara itu, WIKA menelan pil pahit di tahun 2023 dengan mencatat rugi bersih Rp7,12 triliun. Angka ini melonjak drastis 11.860 persen dibandingkan tahun 2022 yang hanya rugi Rp59,59 miliar.

    Meskipun mengalami kerugian, WIKA mencatatkan pendapatan neto sebesar Rp22,53 triliun di tahun 2023, naik 4,88 persen dari Rp21,48 triliun di tahun 2022. Namun, di sisi lain, beban pokok pendapatan WIKA juga meningkat menjadi Rp20,66 triliun dari Rp19,27 triliun di tahun 2022. Hal ini menyebabkan laba bruto WIKA turun dari Rp2,20 triliun di tahun 2022 menjadi Rp1,86 triliun di tahun 2023.

    Akumulasi beban dan penghasilan lain, termasuk piutang bermasalah yang menjadi penyebab utama, menghasilkan rugi bersih yang dapat diatribusikan ke pemilik entitas induk sebesar Rp7,12 triliun.

    Beban lain-lain WIKA membengkak 310,16 persen menjadi Rp5,40 triliun dan beban keuangan meningkat 133,70 persen menjadi Rp3,20 triliun di tahun 2023. Beban keuangan ini mencakup bunga utang, provisi, dan administrasi bank terkait pinjaman.

    Sekretaris Perusahaan WIKA, Mahendra Vijaya, menjelaskan bahwa piutang yang bermasalah dari proyek-proyek sebelum pandemi Covid-19 menjadi biang keladi kerugian perusahaan. "Mau tidak mau, harus dicatat menjadi cadangan kerugian," ujarnya.

    WIKA tengah berupaya melakukan penyehatan dengan memilih proyek yang memiliki uang muka dan pembayaran per bulan. Selain itu, perusahaan berharap suntikan Penyertaan Modal Negara (PMN) di tahun 2024 dapat membantu pemulihan kinerja.

    "Mudah-mudahan di 2024 ini kami bisa membukukan kinerja yang lebih baik dibandingkan 2023 melalui PMN dan lainnya. Namun, proses penyehatan memang perlu waktu," tutur Mahendra.

    Pergerakan Saham WIKA

    Saham PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) kembali menunjukkan tren positif. Pada perdagangan Kamis, 11 Juli 2024, pukul 10.40 WIB, saham WIKA bertahan ke level Rp202 per saham. Bahkan, di awal perdagangan hari ini, saham WIKA sempat menyentuh harga Rp212 per saham.

    Kenaikan ini merupakan kelanjutan dari tren positif saham WIKA selama sebulan terakhir. Berdasarkan data RTI, dalam periode tersebut, saham WIKA berhasil mencatatkan kenaikan hingga 81,98 persen.

    Meskipun demikian, secara year to date (ytd), saham WIKA masih menunjukkan pelemahan tipis sebesar 0,94 persen.

    Menanggapi kenaikan harga sahamnya, Sekretaris Perusahaan Wijaya Karya, Mahendra Vijaya, menyatakan bahwa hal tersebut sepenuhnya merupakan hasil dinamika pasar. Dia menegaskan bahwa fokus utama WIKA saat ini adalah memperbaiki keuangan dan melakukan transformasi.

    "Kami fokus pada hal itu saja, terkait dengan siapa yang berinvestasi di saham WIKA dan lain-lain, semuanya merupakan mekanisme pasar," ujar Mahendra.

    Namun, Mahendra mengakui bahwa WIKA sempat mengundang analis dan investor untuk mengunjungi sejumlah proyek yang sedang dikerjakan perusahaan. Kunjungan tersebut dilakukan pada awal Juni 2024 untuk memberikan kesempatan kepada mereka melihat secara langsung kemajuan proyek perusahaan.

    "Tujuannya adalah agar mereka dapat melihat bahwa aktivitas WIKA nyata. Kami mengajak mereka ke proyek IKN, Rumah Persahabatan, serta ke kantor untuk melihat implementasi digitalisasi, tata kelola, manajemen risiko, dan hal lainnya," jelas Mahendra.

    Kenaikan harga saham WIKA ini tentunya menjadi kabar positif bagi perusahaan dan para investornya. Diharapkan dengan fokus pada perbaikan keuangan dan transformasi, WIKA dapat terus meningkatkan kinerjanya dan memberikan nilai tambah bagi para pemangku kepentingannya. (*)

    Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

    Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

    Gabung Sekarang

    Jurnalis

    Syahrianto

    Jurnalis ekonomi yang telah berkarier sejak 2019 dan memperoleh sertifikasi Wartawan Muda dari Dewan Pers pada 2021. Sejak 2024, mulai memfokuskan diri sebagai jurnalis pasar modal.

    Saat ini, bertanggung jawab atas rubrik "Market Hari Ini" di Kabarbursa.com, menyajikan laporan terkini, analisis berbasis data, serta insight tentang pergerakan pasar saham di Indonesia.

    Dengan lebih dari satu tahun secara khusus meliput dan menganalisis isu-isu pasar modal, secara konsisten menghasilkan tulisan premium (premium content) yang menawarkan perspektif kedua (second opinion) strategis bagi investor.

    Sebagai seorang jurnalis yang berkomitmen pada akurasi, transparansi, dan kualitas informasi, saya terus mengedepankan standar tinggi dalam jurnalisme ekonomi dan pasar modal.