Logo
>

PJHB Sepekan Tergerus Lebih 35 Persen: Masih Sanggup Berlayar?

Setelah anjlok tajam dan masuk top losers sepekan, PJHB mulai menunjukkan tanda kelelahan jual. Pasar kini menguji apakah tekanan benar-benar mereda atau sekadar jeda sebelum arah berikutnya.

Ditulis oleh Yunila Wati
PJHB Sepekan Tergerus Lebih 35 Persen: Masih Sanggup Berlayar?
Jajaran Direksi PJHB dan jajaran Direksi Bursa Efek Indonesia saat acara seremonial pencatatan saham perdana di Main Hall Bursa Efek Indonesia Kamis, 6 November 2025. Desty Luthfiani/KabarBursa.com

KABARBURSA.COM – Setelah tergerus lebih dari 35 persen dalam sepekan, dan masuk dalam top losers sepekan, saham PT Pelayaran Jaya Hidup Baru Tbk (PJHB) kini berada pada titik yang sangat menentukan. 

Pertanyaannya bukan lagi apakah ceritanya masih menarik, melainkan apakah tekanan jual yang menggerus harga sudah benar-benar kehabisan tenaga. Baik dari sisi mikrostruktur pasar dan teknikal, jawabannya masih bernuansa abu-abu, belum hitam atau putih.

Secara perilaku harga, penurunan PJHB sudah masuk kategori ekstrem untuk ukuran saham yang baru IPO. Turunnya harga dalam rentang pendek dengan volume besar menunjukkan bahwa pelepasan yang terjadi bukan insidental. 

Ada energi besar yang telah dikeluarkan pasar untuk menurunkan harga dari area 600-an ke 354. Namun justru karena energi itu sudah dikeluarkan secara masif, tekanan kini mulai kehilangan daya dorongnya. 

Candle terakhir tidak lagi membentuk jatuh bebas seperti fase awal, melainkan mulai memendek. Ini sering kali menjadi tanda bahwa bahan bakar jual sudah mulai terbakar habis, meski apinya belum benar-benar padam.

Orderbook memperlihatkan bahwa supply memang masih dominan, tetapi agresivitasnya mulai menurun. Harga sempat jatuh ke area ARB karena ketiadaan bid, namun setelah berada di bawah 360, tekanan tidak lagi bertambah cepat. 

Ini mengindikasikan bahwa penjual yang ingin keluar di harga tinggi sebagian besar sudah selesai. Yang tersisa adalah penjual reaktif, bukan lagi distribusi terencana. Di titik seperti ini, pasar biasanya mulai mencari keseimbangan baru, meski prosesnya tidak instan.

Broker summary menguatkan gambaran tersebut. Broker-broker besar yang sebelumnya melepas saham dengan nilai signifikan telah mengeluarkan porsi utamanya. Di fase awal penurunan, penjualan bersifat terstruktur dan bernilai besar. 

Setelah harga jatuh jauh, intensitas jual cenderung beralih ke skala lebih kecil dan tersebar. Ini sering menjadi ciri bahwa fase distribusi besar telah dilewati, meski belum otomatis diikuti akumulasi baru.

Belum Aman, Namun Jenuh Jual Mulai Tampak

Dari sisi teknikal, PJHB memang belum bisa disebut aman. Harga masih berada jauh di bawah rata-rata bergeraknya dan tren besarnya masih condong turun. Namun indikator momentum menunjukkan kondisi jenuh jual yang cukup dalam. 

RSI dan osilator lain berada di area ekstrem, sebuah kondisi yang jarang bertahan lama tanpa diikuti jeda atau pantulan. Bukan pantulan untuk membalikkan tren, melainkan pantulan untuk meredam ketidakseimbangan jangka pendek.

Dengan konteks tersebut, menjawab apakah “bahan bakar untuk berlayar” sudah habis perlu kehati-hatian. Bahan bakar untuk jatuh vertikal kemungkinan sudah banyak terpakai, tetapi bahan bakar untuk naik kembali belum terlihat penuh. 

Artinya, PJHB lebih berpotensi memasuki fase jeda atau technical rebound terbatas ketimbang melanjutkan penurunan sedalam sebelumnya. Namun rebound ini, jika terjadi, lebih tepat dibaca sebagai reaksi pasar terhadap kondisi jenuh jual, bukan konfirmasi bahwa tren turun telah selesai.

Pekan depan, PJHB berada di fase uji. Jika harga mampu bertahan dan tidak lagi mencetak penurunan agresif dengan volume besar, itu menjadi sinyal awal bahwa pasar mulai berhenti menjual. Namun jika tekanan jual kembali muncul meski harga sudah jauh turun, berarti proses pencarian dasar masih berlanjut. 

Dalam kondisi seperti ini, yang diuji bukan ceritanya, melainkan ketahanan psikologis pasar. PJHB mungkin sudah kehabisan bahan bakar untuk jatuh secepat kemarin, tetapi untuk berlayar jauh lagi, ia masih menunggu angin baru.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79