Logo
>

PMI Manufaktur Menguat, Sinyal Optimisme Industri Kian Terbaca

Indeks yang bertengger di atas ambang 50 poin menegaskan bahwa manufaktur nasional masih berada di teritori ekspansif

Ditulis oleh Pramirvan Datu
PMI Manufaktur Menguat, Sinyal Optimisme Industri Kian Terbaca
Ilustrasi Manufaktur. Foto: Dok KabarBursa.com

KABARBURSA.COM - S&P Global Market merilis laporan terbaru yang menunjukkan Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia menanjak ke level 53,8 poin. Angka ini menjadi yang tertinggi dalam hampir dua tahun terakhir, sejak Maret 2024. Sebuah capaian yang menandai denyut industri kembali berdetak lebih kencang.

Secara bulanan, PMI Februari meningkat dari posisi 52,6 poin. Kenaikan tersebut mengafirmasi bahwa sektor manufaktur memasuki fase ekspansi yang semakin solid pada awal tahun. Bukan sekadar fluktuasi temporer, melainkan indikasi akselerasi yang terukur.

Ekonom S&P Global Market Intelligence, Usamah Bhatti, menilai penguatan ini mencerminkan perbaikan kondisi manufaktur yang berlanjut di pertengahan triwulan pertama. Lanskap industri, menurutnya, tengah bergerak menuju prospek yang lebih konstruktif dalam beberapa bulan mendatang.

Indeks yang bertengger di atas ambang 50 poin menegaskan bahwa manufaktur nasional masih berada di teritori ekspansif. Batas psikologis itu menjadi demarkasi tegas antara ekspansi dan kontraksi. Dan kali ini, jaraknya cukup meyakinkan.

Lonjakan PMI turut merefleksikan peningkatan aktivitas produksi serta permintaan domestik. Roda pabrik berputar lebih intens. Pesanan mengalir lebih deras.

“Perbaikan kondisi sektor manufaktur Indonesia kembali menguat pada pertengahan triwulan pertama, memberikan prospek positif pada bulan-bulan mendatang,” ujar Bhatti.

Ia memaparkan, tren permintaan menunjukkan eskalasi yang semakin progresif. Penjualan yang menguat mendorong pelaku industri meningkatkan kapasitas produksi. Tenaga kerja direkrut. Pembelian bahan baku ditambah. Ekspansi dilakukan secara simultan dan terstruktur.

Namun, di balik optimisme itu, tekanan biaya belum sepenuhnya surut. Bhatti mencatat produsen masih dibayangi kenaikan harga bahan baku yang memicu pembengkakan ongkos produksi. Tekanan harga tetap terasa, meski intensitasnya mulai melandai.

“Tekanan harga masih tetap tinggi, dengan produsen mencatat kenaikan beban biaya rata-rata di tengah laporan kenaikan harga bahan baku. Dengan demikian, tingkat inflasi merupakan yang paling rendah sejak bulan Agustus lalu yang kemudian mendorong kenaikan tingkat rendah pada harga dari pabrik,” jelasnya.

Sinyal positif juga datang dari Kementerian Perindustrian (Kemenperin). Indeks Kepercayaan Industri (IKI) pada Februari 2026—bertepatan dengan Ramadhan 1447 Hijriah—berada di level 54,02 poin. Angka tersebut menempatkan industri pada fase ekspansi yang konsisten.

Juru Bicara Kemenperin, Febri Hendri Antoni Arif, menyampaikan bahwa dari 23 subsektor industri pengolahan yang dianalisis, sebanyak 19 subsektor berada dalam zona ekspansi. Hanya empat subsektor yang mengalami kontraksi. Sebuah komposisi yang menunjukkan dominasi optimisme.

Meski IKI Februari terkoreksi tipis 0,10 poin dibanding bulan sebelumnya, kontribusi subsektor ekspansif tetap signifikan. Menurut Febri, subsektor tersebut menyumbang 92,9 persen terhadap PDB industri pengolahan nonmigas. Artinya, motor utama industri masih bekerja dengan daya dorong yang impresif.

Dua subsektor dengan skor IKI tertinggi tercatat pada industri pencetakan dan reproduksi media rekaman, serta industri alat angkutan lainnya. Keduanya menjadi episentrum pertumbuhan, menandai bahwa diversifikasi industri berjalan dengan ritme yang adaptif dan progresif.

Di tengah dinamika global yang sarat ketidakpastian, data ini memberi pesan yang gamblang: manufaktur Indonesia tengah menemukan momentumnya. Sebuah fase konsolidasi yang berpotensi menjelma menjadi akselerasi berkelanjutan.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Pramirvan Datu

Pram panggilan akrabnya, jurnalis sudah terverifikasi dewan pers. Mengawali karirnya sejak tahun 2012 silam. Berkecimpung pewarta keuangan, perbankan, ekonomi makro dan mikro serta pasar modal.