KABARBURSA.COM – PT Tripar Multivision Plus Tbk (RAAM) mencatat rugi bersih sebesar Rp54,30 miliar pada 2025, menyusut signifikan dibandingkan Rp178,77 miliar pada tahun sebelumnya. Perbaikan ini terjadi di tengah penurunan pendapatan selama periode konsolidasi bisnis.
Direktur Keuangan RAAM Vikas Chand Sharma menyatakan 2025 menjadi fase konsolidasi bagi perusahaan. “Kinerja keuangan kami dipengaruhi oleh jadwal perilisan dan pengakuan biaya yang lebih tinggi, namun kami berhasil memperkuat fondasi operasional dan disiplin keuangan,” ujar Vikas dalam keterangan resmi, Rabu, 1 April 2026.
Pendapatan RAAM tercatat sebesar Rp180,96 miliar atau turun dari Rp229,34 miliar pada 2024. Penurunan ini dipengaruhi siklus perilisan film serta portofolio konten yang lebih selektif sepanjang tahun.
Sepanjang 2025, RAAM tidak memproduksi sinetron maupun web series. Kondisi ini berdampak pada monetisasi library yang lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya.
Meski demikian, perusahaan mencatat arus kas operasi positif sebesar Rp16,97 miliar. Pencapaian ini mencerminkan pengelolaan modal kerja yang lebih efisien serta monetisasi konten yang tetap berjalan.
Dari sisi neraca, total liabilitas tercatat Rp404,65 miliar dengan ekuitas sebesar Rp1,30 triliun. Rasio utang terhadap ekuitas berada di level 0,23 kali.
Vikas menyebut struktur permodalan tersebut memberikan ruang bagi ekspansi bisnis. Perusahaan tetap melanjutkan strategi sebagai platform hiburan terintegrasi dengan penguatan produksi, distribusi, dan eksibisi.
RAAM juga memperluas distribusi konten ke pasar internasional serta melanjutkan pengembangan jaringan Platinum Cineplex di berbagai wilayah. Langkah ini menjadi bagian dari strategi memperluas jangkauan pasar.
Memasuki awal 2026, kinerja mulai menunjukkan pemulihan. Perusahaan berhasil memasok satu judul sinetron ke televisi free-to-air serta memperoleh kontrak penyediaan library senilai lebih dari Rp45 miliar.
Ke depan, RAAM menyiapkan rencana rights issue yang akan diajukan dalam RUPS. Dana yang diperoleh akan digunakan untuk memperkuat permodalan dan mendanai ekspansi jaringan bioskop.
Perusahaan menargetkan pembangunan lebih dari 50 lokasi Platinum Cineplex baru di berbagai wilayah Indonesia, terutama di kota tier-2 dan tier-3 yang masih memiliki potensi pertumbuhan permintaan.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.