Logo
>

Rupiah Menguat Tipis Seiring Mayoritas Mata Uang Asia Kuat

Ditulis oleh Syahrianto
Rupiah Menguat Tipis Seiring Mayoritas Mata Uang Asia Kuat

Poin Penting :

    KABARBURSA.COM - Rupiah mengalami penguatan tipis terhadap dolar AS pada perdagangan hari Jumat, 31 Mei 2024. Rupiah naik 15 poin atau 0,09 persen menjadi Rp16.250 per USD dari penutupan perdagangan sebelumnya, Rp16.265 per USD, terjadi di tengah melemahnya data ekonomi Amerika Serikat (AS).

    Pergerakan sempit rupiah di awal perdagangan berlangsung di tengah gerak mayoritas mata uang Asia pagi ini yang cenderung menguat. Peso Filipina memimpin penguatan 0,26 persen, disusul oleh baht Thailand 0,08 persen, begitu juga rupee India dan yuan offshore serta dolar Hong Kong. Sementara won Korea yang di awal perdagangan menguat kini berbalik melemah, begitu juga dolar Taiwan.

    "Semalam data ekonomi AS seperti data PDB kuartal I dan komponennya, klaim tunjangan pengangguran, penjualan rumah tertunda dirilis lebih buruk dari ekspektasi pasar," kata pengamat pasar uang Ariston Tjendra.

    Pelemahan data-data tersebut memperbesar peluang pemangkasan suku bunga acuan AS. Hal itu membuat penguatan dolar AS sebelumnya tertahan dan mengalami koreksi. Pagi ini indeks dolar AS kembali bergerak di kisaran 104, di sekitar 104,70-an.

    Tapi di sisi lain, pelaku pasar masih mau melihat data inflasi terbaru AS dari Indeks Harga Personal Consumption Expenditure (PCE) Inti bulan April yang akan dirilis malam ini sehingga pelemahan dolar AS mungkin tidak terlalu dalam.

    Konflik di Timur Tengah yang memanas belakangan ini juga turut menjaga kekuatan nilai dolar AS terhadap nilai tukar lainnya. Karena itu Ariston memperkirakan rupiah masih berpeluang berkonsolidasi hari ini di kisaran Rp16.200 per USD sampai dengan Rp16.280 per dolar AS terhadap dolar AS.

    Direktur PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan, rupiah saat ini sudah melemah ke level atas Rp16.200 per USD sehingga ada kemungkinan besar nilai tukar di bulan Juni akan menyentuh level Rp16.350 per USD.

    Ibrahim menyebutkan, faktor-faktor yang memengaruhi pelemahan nilai tukar dari eksternal diantaranya ketegangan di Timur Tengah terutama Israel yang melakukan penyerangan terhadap Rafah, Palestina. Kemungkinan akan terjadi perang besar di wilayah tersebut seiring Mesir, Lebanon, Yaman, Syria, Iran akan melakukan kecaman terhadap Israel.

    Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) pun sudah melemparkan ultimatum terhadap Israel agar tidak melakukan penyerangan. Bahkan, Jerman siap untuk menangkap Perdana Menteri Israel, apabila diberikan wewenang.

    Konflik yang terjadi di Timur Tengah turut akan berdampak pada kenaikan harga minyak mentah dunia. Sebab, adanya kemungkinan konflik terus berkembang dapat mengerek harga minyak ke level US$100 per barel.

    “Sehingga pada saat dolar mengalami penguatan, kemudian harga minyak mentah dunia mengalami kenaikan, ini kemungkinan besar akan membuat negara-negara akan terjadi krisis ekonomi,” ujar Ibrahim

    Pelaku Pasar Global

    Sementara itu, pelaku pasar global bernafas lega setelah mengalami turbulensi yang cukup tajam dua hari sebelumnya. Rilis data pertumbuhan ekonomi AS tadi malam cukup meredakan kekhawatiran ditambah pernyataan bernada dovish dari dua pejabat Federal Reserve setelahnya. Dua hal itu memberi penguatan pada ekspektasi penurunan bunga acuan The Fed tahun ini yang diharapkan oleh pasar.

    Keyakinan itu akan mendapatkan konfirmasi dari rilis data paling ditunggu pekan ini yaitu inflasi PCE (Personal Consumption Expenditure) Amerika, Jumat malam nanti atau Jumat pagi waktu setempat.

    AS melaporkan pertumbuhan ekonomi kuartal I 2024 tercatat 1,3 persen, lebih rendah dibanding estimasi sebelumnya di 1,6 persen. GDP Price Index juga tercatat lebih rendah pada kuartal I lalu di angka 3 persen, di bawah ekspektasi pasar yang menjadi kabar bagus. Begitu juga Core PCE Price Index yang lebih kecil dibanding prediksi pelaku pasar di 3,6 persen.

    Sementara belanja pribadi masyarakat AS pada kuartal pertama tahun ini terlihat melemah dengan pertumbuhan 2 persen, dari estimasi sebelumnya 2,5 persen dan lebih kecil dibanding eksepktasi pasar sebesar 2,1 persen.

    Data itu disambut penurunan yield Treasury, surat utang AS, yang kembali diburu hingga imbal hasilnya menurun di semua kurva. UST-10Y turun ke 4,544 persen.

    Dua pejabat The Fed juga memberi pernyataan yang cukup dovish.  Gubernur The Fed New York John Williams menyatakan optimisme bahwa inflasi akan terus turun di paruh kedua tahun ini dan ia menilai kebijakan pengetatan The Fed sejauh ini telah mengerem laju pertumbuhan ekonomi AS.

    Ia bilang, meski inflasi masih cukup tinggi, kebijakan The Fed telah berada di posisi yang baik dan ketidakseimbangan antara penawaran dan permintaan telah berkurang.

    "Dengan keseimbangan perekonomian yang lebih baik dari waktu ke waktu dan disinflasi terjadi di negara-negara lain mengurangi tekanan inflasi global, saya perkirakan inflasi akan kembali moderat pada paruh kedua tahun ini," kata Williams, Jumat, 31 Mei 2024.

    Secara teknikal berpeluang menuju resistance terdekat pada level Rp16.220 per USD, kemudian resistance potensial selanjutnya di Rp16.180 per USD dan Rp16.150 per USD sebagai level optimis penguatan rupiah dalam tren jangka pendek.

    Adapun nilai rupiah memiliki level support psikologis pada level Rp16.280 per USD dan Rp16.300 per USD. Apabila level ini berhasil tembus, maka mengkonfirmasi laju support selanjutnya pada level Rp16.350 per USD dalam jangka menengah.

    Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

    Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

    Gabung Sekarang

    Jurnalis

    Syahrianto

    Jurnalis ekonomi yang telah berkarier sejak 2019 dan memperoleh sertifikasi Wartawan Muda dari Dewan Pers pada 2021. Sejak 2024, mulai memfokuskan diri sebagai jurnalis pasar modal.

    Saat ini, bertanggung jawab atas rubrik "Market Hari Ini" di Kabarbursa.com, menyajikan laporan terkini, analisis berbasis data, serta insight tentang pergerakan pasar saham di Indonesia.

    Dengan lebih dari satu tahun secara khusus meliput dan menganalisis isu-isu pasar modal, secara konsisten menghasilkan tulisan premium (premium content) yang menawarkan perspektif kedua (second opinion) strategis bagi investor.

    Sebagai seorang jurnalis yang berkomitmen pada akurasi, transparansi, dan kualitas informasi, saya terus mengedepankan standar tinggi dalam jurnalisme ekonomi dan pasar modal.