KABARBURSA.COM – Nilai tukar rupiah diperkirakan masih bergerak fluktuatif pada perdagangan pekan depan, dengan risiko pelemahan menuju area Rp17.650 per dolar Amerika Serikat (AS). Tekanan datang dari harga minyak, risiko geopolitik, hingga persepsi investor terhadap aset domestik.
Pada perdagangan Rabu, 13 Mei 2026, data TradingView menunjukkan rupiah sempat menguat 54 poin atau 0,31 persen ke level Rp17.474 per dolar AS. Namun penguatan itu belum sepenuhnya menandakan tekanan sudah selesai, karena indeks dolar AS masih naik 0,20 persen ke level 98,49.
Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi, memperkirakan rupiah bergerak pada rentang Rp17.420–Rp17.650 per dolar AS dalam sepekan ke depan. Untuk perdagangan Senin, 18 Mei 2026, rupiah diperkirakan bergerak di kisaran Rp17.470–Rp17.530 per dolar AS dan cenderung ditutup melemah.
Ibrahim menyebut, sentimen global masih rapuh setelah pernyataan Presiden AS Donald Trump, mengenai kondisi kritis negosiasi dengan Iran. Pasar kembali mencemaskan risiko gangguan Selat Hormuz yang dapat memicu kenaikan harga minyak dan menambah tekanan inflasi energi.
“Perang dengan Iran mulai berdampak pada perekonomian AS karena harga minyak yang lebih tinggi menyebabkan harga bahan bakar menjadi lebih mahal, dan para ekonom memperkirakan melihat dampak putaran kedua dalam beberapa bulan mendatang,” ujar Ibrahim dalam siaran persnya.
Fokus pasar juga tertuju pada pertemuan Trump dan Xi Jinping di Beijing pada 14–15 Mei 2026. Pertemuan itu dipantau karena berpotensi memengaruhi arah ketegangan dagang, rantai pasok global, dan minat investor terhadap aset negara berkembang.
Dari dalam negeri, Bank Indonesia dipastikan tetap berada di pasar meski perdagangan sempat terpotong libur panjang. BI akan melakukan stabilisasi secara berkesinambungan di pasar offshore, mulai dari New York, Asia, hingga Eropa.
Menurut Ibrahim, BI juga akan masuk secara agresif di pasar domestik sejak pembukaan perdagangan 18 Mei 2026. Intervensi dilakukan melalui pasar valas spot, DNDF, serta pembelian Surat Berharga Negara di pasar sekunder.
Pemerintah Pasang Tameng BSF
Pemerintah juga menyiapkan langkah tambahan melalui Kementerian Keuangan. Salah satu instrumen yang akan diaktifkan adalah Bond Stabilization Fund atau BSF untuk menjaga pasar SBN dari tekanan jual berlebihan.
Chief Economist Permata Bank Josua Pardede, menilai BSF dapat menjadi instrumen pendukung, tetapi bukan obat utama untuk menyelamatkan rupiah. Menurutnya, BSF bekerja di pasar obligasi, bukan langsung di pasar valuta asing.
“Jadi bukan obat utama untuk menstabilkan rupiah. BSF pada dasarnya bekerja di pasar obligasi, bukan langsung di pasar valuta,” ujar Josua kepada KabarBursa.com, Rabu, 13 Mei 2026.
Josua menjelaskan, BSF bertujuan menahan kepanikan di pasar SBN ketika investor asing menjual obligasi. Dengan begitu, harga SBN tidak jatuh terlalu tajam dan imbal hasil tidak melonjak berlebihan.
Tekanan rupiah saat ini tidak hanya berasal dari permintaan dolar AS. Pasar juga mencermati sentimen terhadap aset Indonesia, termasuk SBN, saham, risiko fiskal, harga minyak, hingga isu MSCI.
Jika investor asing menjual SBN, mereka akan menerima rupiah. Dana itu kemudian berpotensi ditukar ke dolar AS untuk keluar dari Indonesia, sehingga tekanan terhadap rupiah bisa bertambah besar.
Dalam kondisi tersebut, pembelian SBN melalui BSF dapat membantu menahan lonjakan yield dan meredam kepanikan. Namun dampaknya terhadap rupiah bersifat tidak langsung.
Dengan peta tekanan saat ini, rupiah pekan depan masih berisiko menguji area atas Rp17.650 per dolar AS apabila sentimen global memburuk dan arus keluar asing berlanjut. Sebaliknya, jika intervensi BI efektif dan tekanan di pasar SBN mereda, rupiah berpeluang bertahan di area Rp17.420–Rp17.530 per dolar AS.(*)